KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: HUKUMAN UNTUK TINDAK PIDANA PENCURIAN

Apabila tindak pidana pencurian telah dapat dibuktikan maka pencuri dapat dikenai dua macam hukuman;
[1] penggantian kerugian (dhaman)
[2] hukuman potong tangan
-
[1] penggantian kerugian
Menurut Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya penggantian kerugian dapat dikenakan kepada pencuri apabila ia tidak dikenai hukuman potong tangan. Namun apabila hukuman potong tangan dilaksanakan maka pencuri tidak dikenakan penggantian kerugian. Dengan demikian menurut mereka, hukuman potong tangan dan penggantian kerugian tidak dapat dilaksanakan sekaligus bersama-sama. Alasanya adalah bahwa Al Qur’an hanya menyebutkan hukuman potong tangan untuk tindak pidana pencurian, sebagaimana yang tercantum dalam surat Al Maaidah ayat 38, dan tidak menyebut-nyebut penggantian kerugian.
-
Menurut Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, hukuman potong tangan dan penggantian kerugian dapat dilaksanakan bersama-sama. Alasan mereka adalah dalam pencurian terdapat dua hak disinggung, pertama hak ALLOH subhanahu wa ta’ala dan kedua hak manusia. Hukuman potong tangan dijatuhkan sebagai imbalan dari hak ALLOH subhanahu wa ta’ala sedangkan penggantian kerugian dikenakan sebagai imbalan dari hak manusia.
-
Menurut Imam Malik dan murid-muridnya, apabila barang yang dicuri sudah tidak ada dan pencuri adalah orang yang mampu maka ia diwajibkan untuk mengganti kerugian sesuai dengan barang yang dicuri, disamping ia dikenai hukuman potong tangan. Akan tetapi apabila ia tidak mampu maka ia hanya dijatuhi hukuman potong tangan dan tidak dikenai penggantian kerugian.
-
[2] hukuman potong tangan
Hukuman potong tangan merupakan hukuman pokok untuk tindak pidana pencurian. Ketentuan ini didasarkan pada ketentuan firman ALLOH subhanahu wa ta’ala dalam surat Al Maaidah ayat 38;
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari ALLOH. Dan ALLOH Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
{Terjemahan Al Qur’an Surat Al Maaidah [5]:38}
-
Hukuman potong tangan merupakan hak ALLOH subhanahu wa ta’ala yang tidak dapat digugurkan, baik oleh korban maupun oleh ulil amri (kepala negara), kecuali menurut Syi’ah Zaydiyah. Menurut mereka hukuman potong tangan bisa gugur apabila dimaafkan oleh korban (pemilik barang).
-
Hukuman potong tangn dikenakan terhadap pencurian yang pertama, dengan memotong pergelangan tangan pencuri. Apabila ia mencuri kedua kalinya maka ia dikenai hukuman potong kaki kirinya. Apabila ia mencuri lagi untuk ketiga kalinya maka ulama berbeda pendapat. Menurut Imam Abu Hanifah, pencuri tersebut dikenai hukuman ta’zir dan dipenjarakan.sedangkan menurut Imam yang lainnya, yaitu Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, pencuri tersebut dikenai hukuman potong tangan kirinya. Apabila ia mencuri untuk keempat kalinya maka dipotong kaki kanannya. Apabila ia masih mencuri untuk kelima kalinya maka ia dikenai hukuman ta’zir dan dipenjara seumur hidup atau sampai ia bertobat.
-
Pendapat jumhur ulama ini didasarkan pada hadis Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam yang diriwayatkan oleh ad daruquthni dari abu hurairah, Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam kaitan dengan hukuman bagi pencuri;
“jika ia mencuri potonglah tangannya (yang kanan), jika ia mencuri lagi potonglah kakinya (yang kiri), jika ia mencuri lagi potonglah tangannya (yang kiri), kemudian apabila ia mencuri lagi potonglah kakinya (yang kanan)
-
Adapun batas pemotongan menurut ulama yang empat, yaitu Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad adalah dari pergelangan tangan.
-
Sedangkan menurut Khowarij pemotongan dari pundak. Alasan jumhur ulama adalah karena pengertian minimal dari tangan itu adalah telapak tangan dan jari. Alasan Khowarij adalah pengertian tangan itu adalah mencakup keseluruhan dari sejak ujung jari sampai batas pundak.
-
HAL-HAL YANG MENGGUGURKAN HUKUMAN
-
Hukuman potong tangan dapat gugur karena hal-hal berikut ini:
[1] karena orang yang barangnya dicuri tidak mempercayai pengakuan pencuri atau tidak mempercayai para saksi. Ini menurut Imam Abu Hanifah, tetapi menurut ulama yang lain tidak begitu.
[2] karena adanya pengampunan dari pihak korban, tetapi pendapat ini hanya dikemukakan oleh Syi’ah Zaydiyah.
[3] karena pencuri tersebut menarik kembali pengakuannya. Ini berlaku apabila pembuktian hanya dengan pengakuan.
[4] karena dikembalikannya barang yang dicuri sebelum perkaranya diajukan ke pengadilan. Pendapat ini hanya dikemukakan oleh Imam Abu Hanifah.
[5] karena pencuri tersebut berusaha memiliki barang yang dicuri, sebelum adanya keputusan pengadilan.
[6] karena pencuri tersebut mengaku bahwa barang yang dicurinya adalah miliknya.
-
-
SUMBER
-
Muslich, Ahmad Wardi. 2005. Hukum Pidana Islam. Jakarta. Sinar Grafika.

About these ads

About ngobrolislami

hamba ALLAH
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s