HUKUMAN UNTUK PEMBUNUHAN SENGAJA: QISHOSH

Dalam artikel yang lalu telah dijelaskan bahwa pembunuhan dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu; pembunuhan sengaja, pembunuhan menyerupai sengaja, dan pembunuhan karena kesalahan. Dalam artikel ini akan dibicarakan hukuman untuk tindak pidana pembunuhan sengaja, yakni qishosh.
-
HUKUMN UNTUK PEMBUNUHAN SENGAJA
-
Pembunuhan sengaja dalam syariat Islam diancam dengan beberapa macam hukuman, sebagian merupakan hukuman pokok dan pengganti, dan sebagian lagi merupakan hukuman tambahan. Hukuman pokok untuk pembunuhan sengaja adalah Qishosh dan kifarat, sedangkan penggantinya adalah diat dan ta’zir. Adapun hukuman tambahannya adalah penghapusan hak waris dan hak wasiat.
-
Hukuman kifarat sebagai hukuman pokok untuk pembunuhan sengaja merupakan hukuman yang diperselisihkan oleh para fuqoha. Syafi’iyah mengakuinya dengan mengiaskannya kepada pembunuhan karena kesalahan, sementara fuqoha yang lain tidak mengakuinya. Dalam uraian di bawah ini hukuman – hukuman tersebut akan dijelaskan satu per satu.
-
[1] hukuman qishosh
Qishosh dalam arti bahasa adalah “tattaba’al atsar”, artinya menelusuri jejak. Pengertian tersebut digunakan untuk arti hukuman, karena orang yang berhak atas qishosh mengikuti dan menelusuri jejak tindak pidana dari pelaku. Qishosh juga diartikan “al mumaatsalah”, yaitu keseimbangan dan kesepadanan. Dari pengertian yang kedua inilah kemudian diambil pengertian menurut istilah.
-
Menurut istilah syara’, qishosh adalah “mujaazaatul jaanibimitslifi’lih”, yang artinya memberikan balasan kepada pelaku, sesuai dengan perbuatannya.
-
Dalam redaksi yang berbeda, Ibrohim Unays memberikan definisi qishosh sebagai berikut;
“qishosh adalah menjatuhkan hukuman kepada pelaku persis seperti apa yang dilakukannya.”
-
Karena perbuatan yang dilakukan oleh pelaku adalah menghilangkan nyawa orang lain, maka hukuman setimpal adalah dibunuh atau hukuman mati.
-
Hukuman qishosh diwajibkan berdasarkan Al Qur’an, Sunah, dan Ijma’. Dasar hukum dari Al Qur’an terdapat dalam
Surat Al Baqoroh ayat 178
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih”
{Terjemahan Al Qur’an Surat Al Baqoroh ayat 178}
-
Disamping terdapat dalam Al Qur’an, hukuman qishosh juga dijelaskan dalam Sunah Nabi s.a.w, antara lain sebagai berikut
-
1) hadis ibnu Mas’ud
Dari ibnu Mas’ud ia berkata: telah bersabda Rosululloh s.a.w;
“tidak halal darah seorang Muslim yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya saya Rasulullah, kecuali dengan salah satu dari tiga perkara: duda yang berzina, jiwa dengan jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya yang memisahkan diri dari jama’ah.”
-
2) hadis ibnu Abbas
Dari ibn Abbas r.a ia berkata: telah bersabda Rosululloh s.a.w:
“…dan barang siapa dibunuh dengan sengaja maka ia berhak untuk menuntut qishosh…”
-
Disamping Al Qur’an dan Sunah, juga para ulama telah sepakat (Ijma’) tentang wajibnya qishosh untuk tindak pembunuhan sengaja.
-
Hukuman qishosh tidak dapat dilaksanakan apabila syarat-syaratnya tidak terpenuhi. Syarat-syarat tersebut meliputi syarat-syarat untuk pelaku (pembunh), korban (terbunuh), perbuatan pembunuhannya, dan wali dari korban. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:
-
1) syarat-syarat pelaku (pembunuh)
Wahbah Zuhayli mengemukakan ada empat syarat yang harus dipenuhi oleh pelaku untuk bisa diterapkan hukuma qishosh. Keempat syarat tersebut adalah sebagai berikut
-
► pelaku harus orang mukalaf, yaitu balig dan berakal. Dengan demikian qishosh tidak bisa dilaksanakan untuk anak yang masih dibawah umur dan orang gila, karena keduanya tidak layak untuk dikenai hukuman. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud.
-
Dari Aisyah r.a ia berkata: telah bersabda Rosululloh s.a.w:
“dihapuskan ketentuan hukum dari tiga hal, dari orang yang tidur sampai dia bangun, dari orang gila sampai dia sembuh, dan dari anak kecil sampai dia dewasa.”
-
Adapun orang yang mabuk karena minum minuman keras dan dilakukan dengan sengaja, menurut fuqoha mazhab yang empat harus dikenakan hukuman qishosh apabila ia membunuh orang pada saat mabuknya itu. Hal ini dimaksudkan untuk menutup jalan dilakukannya tindak pidana, sebab apabila ia tidak dihukum qishosh, seolah-olah terbuka peluang untuk melakukan tindak pidana pembunuhan atau lainnya dengan menggunakan alasan mabuk, kemudian dibebaskan dari hukuman.
-
► pelaku melakukan pembunuhan dengan sengaja. Yaitu dengan perbuatannya itu pelaku bermaksud menghilangkan nyawa korban. Apabila pelaku tidak berniat menghilangkan nyawa korban, ia tidak dikenakan hukuman qishosh. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh ibn Abi syaybah dan Ishaq ibnu Rowuhayh di dalam musnadnya dari ibn Abbas r.a dengan lafaz:
“pembunuhan sengaja harus di qishosh, kecuali apabila wali korban memberikan pengampunan.”
-
Syarat ini dikemukakan oleh jumhur ulama, dengan alasan hadis di atas. Aka tetapi Imam Malik dan kelompoknya tidak mensyaratkan adanya niat (kesengajaan) membunuh untuk diterapkan hukuman qishosh, melainkan hanya mensyaratkan kesengajaan dalam melakukan perbuatan yang dilarang.
-
► pelaku harus orang yang mempunyai kebebasan
Syarat ini dikemukakan oleh kelompok Hanafiyah, kecuali Imam Zufar. Dengan demikian, menurut mereka tidak ada hukuman qishosh bagi orang yang dipaksa melakukan pembunuhan. Menurut jumhur ulama termasuk Zufar, orang yang dipaksa melakukan pembunuhan tetap harus dikenakan qishosh.
-
2) syarat untuk korban yang dibunuh
Untuk dapat diterapkannya hukuman qishosh kepada pelaku, harus dipenuhi syarat- syarat yang berkaitan dengan korban. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:
-
► korban harus orang yang ma’shumud dam. Artinya, ia (korban) adalah orang yang dijamin keselamatannya oleh negara Islam. Dengan demikian, apabila korban kehilagan jaminan keselamatan, misalnya karena murtad, pezina muhshon, atau memberontak, pelaku pembunuhan tidak dapat dikenakan hukuman qishosh.
-
Jaminan keselamatan menurut syari’at Islam dapat diperoleh dengan dua cara. [1] dengan iman. [2] dengan perjanjian keamanan.
-
► korban bukan bagian dari pelaku. Artinya antara keduanya tidak ada hubungan bapak dan anak. Dengan demikian, seorang ayah atau ibu, kakek atau nenek, tidak dapat di qishosh karena membunuh anaknya atau cucunya. Pendapat ini dikemukakan oleh jumhur ulama. Akan tetapi menurut Imam Malik, ayah atau kakek dapat dikenakan hukuman qishosh apabila ia sengaja menidurkannya dan menyembelihnya. Dasar pendapat dari jumhur tersebut adalah hadis Nabi s.a.w yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Turmudzi, ibn Majah, dan Bayhaqi dari Umar bin Al Khoththob, bahwa ia mendengar Rosululloh s.a.w bersabda;
“tidak qishosh orang tua karena membunuh anaknya.”
-
Sedangkan alasan Malikiyah adalah bahwa selama seorang ayah tidak betul-betul sengaja dalam membunuh anaknya, berarti ada syubhat dalam perbuatannya itu, yaitu misalnya ia ingin memberi pelajaran terhadap anaknya. Akan tetapi apabila ia betul-betul sengaja, seperti melentangkan anaknya lalu ia menyembelihnya maka tindakanya itu menghilangkan syubhat, sehingga dengan demikian ia harus dikenakan qishosh.
-
► jumhur ulama selain Hanafiah mensyaratkan, hendaknya korban seimbangdengan pelaku (pembunuh). Dasar keseimbangan ini adalah Islam dan merdeka. Dengan demikian seorang Muslim tidak bisa di qishosh karena ia membunuh seorang kafir. Demikian pula seorang merdeka tidak boleh di- qishosh karena membunuh seorang hamba. Pendapat ini didasarkankepada hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, ibnu Majah, Tirmidzi, dan Abu Dawud dari Amr ibn Syu’ayb dari ayahnya dari kakeknya yang berbunyi sebagai berikut;
“sesungguhnya Nabi s.a.w telah memutuskan bahwa seorang Muslim tidak boleh dibunuh karena membunuh seorang kafir.”
-
Selain hadis di atas, jumhur juga beralasan dengan hads yang diriwayatkan oleh daruquthni dan Bayhaqi dari ibn Abbas bahwa Rosululloh s.a.w bersabda;
“seorang merdeka tidak boleh dibunuh karena membunuh hambanya.”
-
Golongan Hanafiyah tidak mensyaratkan keseimbangan dalam merdeka dan agama, melainkan cukup dengan sifat kemanusiaan saja. Alasannya adalah keumuman ayat Al Qur’an tentang qishosh yang tidak membedakan antara jiwa yang satu dengan jiwa yang lainnya.
-
Surat Al Baqoroh ayat 178
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh.”
{Terjemahan Al Qur’an Surat Al Baqoroh [2]:178}
-
Surat Al Maaidah ayat 45
“Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa….”
{ Terjemahan Al Qur’an Surat Al Maaidah [5]:45}
-
Dengan demikian menurut Hanafiyah, seorang Muslim bisa di-qishosh karena membunuh kafir dzimmi atau mu’ahad, karena mereka itu setingkat. Demikian pula orang merdeka bisa di- qishosh karena membunuh hamba sahaya, karena hamba juga sama-sama manusia, dijamin keselamatannya, sehingga ia menyamai orang merdeka. Adapun yang dimaksud Al Baqoroh ayat 178:
“al hurru bil hurri wal ‘abdu bil ‘abdu”
“orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba…”
Adalah untuk membatalkan kezaliman yang terjadi pada masa jahiliyah. Pada masa itu mereka yang merasa status sosialnya lebih tinggi menuntut satu orang merdeka harus dibayar dengan beberapa orang merdeka, dan hamba harus dibayar dengan orang merdeka, serta perempuan harus diganti dengan laki-laki. Tindakan tersebut merupakan tindakan yang sesat dan melampaui batas, dan ditetapkan qishosh hanya diberlakukan kepada pembunuh saja, tidak kepada yang lain.
-
3) syarat untuk perbuatan (pembunuhan)
Hanafiyah sebagaimana dikutip oleh Wahbah Zuhayli mengmukakan bahwa untuk bisa diterapkannya hukuman qishosh bagi pelaku disyaratkan perbuatan pembunuhan harus perbuatan langsung (mubasyaroh). Apabila perbuatannya tidak langsung (tasabbub). Hukumannya bukan qishosh, melainkan diat. Contohnya seperti seorang yang menggali saluran air dengan memotong jalan, kemudian seorang pengendara motor terjatuh karenanya dan ia mati maka untuk penggali saluran tersebut dikenakan hukuman diat.
-
Akan tetapi, ulama-ulama lainselain Hanafiyah tidak mensyaratkan hal ini. Mereka berpendapat bahwa pembunuhan tidak langsung juga dapat dikenakan hukuman qishosh.
-
4) syarat untuk wali (keluarga) korban
Hanafiyah sebagaimana dikutip oleh Wahbah Zuhayli mensyaratkan bahwa wali dari korban yang memiliki hak qishosh harus jelas diketahui. Apabila wali korban tidak diketahui, hukuman qishosh tidak bisa dilaksanakan. Akan tetapi ulama-ulama yang lain tidak mensyaratkan hal ini.
-
Pelaksanaan hukuman qishosh
-
1) mustahik (orang yang berhak) atas qishosh
Pemilik hak qishosh atau yang melaksanakannya atau disebut waliyyud dam menurut jumhur ulama, yang terdiri atas Hanafiyah, Hanabilah, dan sebagian Syafi’iyah, adalah setiap ahli waris, bail dzawil furudh maupun ashabah.akan tetapi menurut Malikiyah, mustahik qishosh itu adalah ashabah yang laki-laki saja.
-
Malikiyah membolehkan wanita sebagai pemilik qishosh, apabila terdapat tiga syarat sebagai berikut.
► ia merupakan ahli waris dari korban, seperti anak perempuan atau saudara perempuan. Dengan demikian, bibi, baik saudara perempuan dari ayah atau dari ibu dan semacamnya tidak termasuk dalam kelompo ini.
► tidak ada ahli waris ashabah yang menyamai tingkatannya dalam kedudukannya dalam ahli waris, seperti paman beserta anak perempuan atau dengan saudara perempuan. Dengan demikian apabila ada ahli waris yang kedudukannya setingkat dengan ahli waris perempuan, seperti anak laki-laki dengan anak perempuan atau saudara laki-laki dengan saudara perempuan, anak perempuan atau saudara perempuan tersebut tidak berhak memiliki qishosh.
► terdapat ahli waris laki-laki yang sama dengan ahli waris perempuan yang menariknya menjadi ashabah.
-
Dalam keadaan ahli waris banyak, sifat pemilikan dari hak qishosh ada perbedaan pendapat. Menurut Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, hak qishosh merupakan hak yang sempurna dan mandiri bagi setiap ahli waris. Hal ini karena hak tersebut merupakan hak ahli waris sejak awal dengan meninggalnya korban. Tujuan diadakannya qishosh dalam pembunuhan adalah untuk mengobati rasa duka, sedangkan orang yang sudah mati tidak bisa diobati. Dengan demikian apabila pemiliknya banyak, semua ahli waris mempunyai hak penuh, seolah-olah tidak ada ahli waris yang lain
-
Menurut Syafi’iyah, Hanabilah, Imam Muhammad bin Hasan, dan Imam Abu Yusuf, hak qishosh merupakan hak bersama dari semua ahli waris. Hal ini karena hak qishosh itu pada asalnya adalah hak korban. Dengan meninggalnya korban, ia tidak bisa melaksanakan sendiri haknya, sehingga harus digantikan oleh ahli waris yang memiliki hak itu secara bersama-sama, sebagaimana mereka memiliki harta warisan bersama-sama.
-
Sebagai akibat dari perbedaan pendapat tersebut, timbul perbedaan persepsi lebih lanjut apabila di antara ahli waris terdapat anak yang masih dibawah umur atau terserang penyakit gila, atau sedang tidak ada di tempat (gaib). Menurut Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, apabila diantara ahli waris terdapat anak yang masih dibawah umur atau gila, hukuman qishosh dapat dilaksanakan tanpa menunggu anak tersebut dewasa atau sembuh dari gilanya. Adapun ahli waris yang sedang tidak ada di tempat, ia harus ditunggu dulu, barangkali ia bersedia memberikan ampunan. Menurut Syafi’iyah, Hanabilah, dan dua orang murid Imam Abu Hanifah, apabila diantara ahli waris ada yang masih dibawah umur, atau gila, atau sedang tidak berada di tempat, pelaksanaan hukuman qishosh harus ditunda, menunggu dewasanya anak yang masih dibawah umur, atau sembuhnya ahli waris yang gila, atau datangnya (kembalinya) ahli waris yang sedang bepergian, karena hak qishosh dimiliki oleh mereka semua secara bersama-sama. Sementara menunggu mereka itu, pelaku (pembunuh) harus ditahan atau dipenjarakan.
-
Apabila korban (maqtul) tidak mempunyai ahli waris selain saudara seagama (sesama muslim), menurut kesepakatan para fuqoha, masalahnya diserahkan kepada pemerintah. Hal ini sesuai dengan kaidah syar’iyah yang bersumber dari hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Turmudzi, dan ibnu Majah dari Aisyah r.a bahwa Rosululloh s.a.w bersabda;
“…maka sulthon adalah wali dari orang yang tidak mempunyai wali.”
-
Apabila pemerintah memandang hukuman qishosh lebih tepat, pelaku dijatuhi hukuman qishosh tatapi apabila pemerintah memandang pemaafan dengan kompensasi harta lebih maslahat, pelaku dimaafkan dan wajib membayar diat.
-
2) kekuasaan untuk melaksanakan hukuman qishosh
Apabila mustahik qishosh itu sendirian dan sudah dewasa serta berakal sehat, ia berhak melaksanakan hukuman qishosh. Hal ini didasarkan kepada surat Al Isroo’ ayat 33
“Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.”
{Terjemahan Al Qur’an Surat Al Isroo’ [17]:33}
-
Akan tetapi apabila mustahik qishosh itu masih dibawah umur atau gila, para ulama berbeda pendapat. Menurut sebagaian ulama Hanafiyah, pelaksanaan hukuman qishosh menunggu sampai ia dewasa atau sembuh dari gilanya. Sebagian yang lain berpendapat hukuman qishosh dilaksanakan oleh qadhi (hakim) yang mewakili mustahik tersebut. Menurut Malikiyah pelaksanaan hukuman qishosh tidak perlu menunggu anak tersebut dewasa atau sembuh dari gila, dan wali atau washiy diberi kekuasaan untuk melaksanakan qishosh, atau mengambil diat kamilah. Menurut Syafi’iyah dan Hanabilah, pelaksanaan hukuman qishosh harus menunggu anak tersebut dewasa atau sembuh dari gila. Alasannya adalah karena qishosh itu tujuannya untuk mengobati rasa duka, dan untuk menghilangkannya tidak bisa dilimpahkn kepada orang lain baik itu hakim atau wali.
-
Apabila mustahik qishosh itu banyak dan dan semuanya sudah dewasa, berakal sehat dan hadir di tempat, masing-masing ahli waris memiliki kekuasaan untuk melaksanakan hukuman qishosh. Dengan demikian apabila salah seorang dari mereka melaksanakannya, qishosh itu telah mencukupi semua ahli waris. Akan tetapi, apabila mustahik qishosh itu terdiri atas orang dewasa dan anak dibawah umur, atau diantara mereka ada yang gila atau sedang bepergian maka seperti telah dikemukakan diatas, ada perbedaan pendapat.
Ada yang menyatakan qishosh tetap dilaksanakan oleh yang dewasa, tetapi ada pula yang menyatakan harus menunggu sampai anak tersebutdewasa, atau sembuh dari gila, atau kembali dari bepergian.
-
-
SUMBER
-
Muslich, Ahmad Wardi. 2005. Hukum Pidana Islam. Jakarta. Sinar Grafika.

About ngobrolislami

hamba ALLAH
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s