KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: DIAT UNTUK PEREMPUAN DALAM TINDAK PIDANA ATAS SELAIN JIWA

Para ulama berbeda pendapat tentang ketentuan diat untuk perempuan. Menurut imam abu hanifah dan imam syafi’i, diat untuk perempuan adalah separuh dari diat laki-laki, naik dalam jiwa, athraf, maupun lainnya. Jika ganti rugi untuk laki-laki yang terbunuh diatnya seratus ekor unta maka untuk perempuan yang terbunuh diatnya lima puluh ekor unta. Jika untuk jari seorang laki-laki ganti ruginya 10 ekor unta maka untuk jari seorang perempuan adalah limaekor unta. Jika ganti rugi untuk hasyimah seorang laki-laki sepuluh ekor unta maka untuk hasyimah seorang perempuan ganti ruginya adalah lima ekor unta.
-
Menurut imam malik dan imam ahmad, ganti rugi untuk perempuan dalam tindak pidana atas selain jiwa, sama dengan ganti rugi untuk laki-laki sampai batas sepertiga diat. Apabila gantirugi melebihi sepertiga diat maka ganti rugi untuk perempuan adalahseparuh dari ganti rugi untuk laki-laki. Sebagai contoh, apabila seorang perempuan dipotong jarinya tiga buah maka ganti rugi nya adalah tiga puluh ekor unta. Sama dengan ganti rugi untuk laki-laki. Tetai apabila seorang perempuan dipotong jarinya sebanyak empat buah, ganti ruginya adalah duapuluh ekor unta, yaitu separuh dari empat puluh ekor unta yang merupakan ganti rugi untuk empat jari laki-laki.
-
Pendapat pertama, yaitu imam abu hanifah dan imam syafi’i, didasarkan pada atsar sahabat, yang diriwayatkan oleh al-baihaqi bahwa sayidina ali r.a berkata:
“pelukaan terhadap perempuan diatnya adalah separuh dari diat laki-laki, baik sedikit maupun banyak.”
Sedangkan pendapat yang kedua, yaitu imam malik dan imam ahmad, didasarkan kepada hadis yang diriwayatkan oleh an nasa’i dan disahihkan oleh ibnu khuzaimah, dari amr ibnu syu’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwa rasulullah s.a.w bersabda:
“Diat perempuan sama dengan diat laki-laki sehingga sampai sepertiga dari diatnya.”
-
Ketentuan tentang persamaan diat atau ganti rugi antara laki-laki dan perempuan sampai batas sepertiga diat, menurut imam ahmad berlaku secara mutlak tanpa pembatasan. Sedangkan imam malik membatasi berlakunya ketentuan tersebut dengan dua hal sebagai berikut.
-
Menyatunya perbuatan atau yang disamakan hukumnya dengan menyatunya perbuatan
Adapun yang dimaksud dengan menyatunya perbuatan adalah sebuah pukulan walaupun mengenai beberapa tempat. Contoh seperti seseorang yang memukul korban dengan sebuah pukulan yang mengenai kedua tangannya sekaligus, atau mengenai tangan dan kakinya. Sedangkan yang dimaksud dengan yang disamakan hukumnya dengan satunya perbuatan adalah berulang-ulangnya pukulan pada satu kesempatan, baik pukulan itu mengenai satu tempat atau lebih. Dalam kondisi seperti inilah berlaku diat penuh bagi wanita yang sama dengan diat (irsy) laki-laki jika tidak lebih dari sepertiga diat. Apabila lebih dari sepertiga diat, ganti rugi untuk perempuan hanya separuh dari ganti rugi untuk laki-laki, sebagaimana telah dikemukakan di atas.
-
Menyatunya tempat atau objek
Adapun yang dimaksud dengan menyatunya objek adalah yang menjadi objek pelukaan atau pemukulan adalah satu tempat, baik perbuatannya itu satu pukulan atau beberapa kali pukulan. Sebagai contoh, seseorang memukul seorang wanita yang mengenai tangan kanannya dan memotong tiga jarinya. Dalam hal ini ganti ruginya adalah tiga puluh ekor unta, karena jumlah ini belum mencapai sepertiga diat.

About these ads

About ngobrolislami

hamba ALLAH
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s