WAHAI UMAT ISLAM, AKHERAT ITU LEBIH BAIK DARI PADA DUNIA DAN SEISINYA

Sebagai seorang Mu’min, sudah suatu kewajiban menempatkan kecintaan kepada Allah dan Rasul Nya diatas kecintaan kepada dunia. Kecintaan kepada dunia secara berlebihan, akan membuat kondisi jiwa manusia menjadi lemah, karena manusia akan menjadi budak harta dan jabatan. Kecintaan kepada dunia yang berlebihan dapat membutakan manusia dari tujuan ia diciptakan, yakni untuk menyembah Allah. Kecintaan kepada dunia dapat menjerumuskan manusia kepada kesyirikan, apabila kecintaan kepada dunia melebihi kecintaan kepada Allah.

Mempunyai keturunan adalah salah satu nikmat dari Allah SWT. Kita sayang kepada keturunan kita, itu adalah suatu yang fitrah. Namun jangan sampai kita berlebihan dalam mencintai anak hingga kecintaannya melebihi kecintaan kepada Allah SWT. Saking senangnya mempunyai anak, hingga membuat orang tua suka memamerkan anak anaknya. Ada juga tipe orang tua yang terlalu berlebihan dalam mengeksploitasi kemampuan anak, dengan tujuan agar anaknya dapat dipamerkan kepada orang lain. Tidak peduli anaknya menderita, tertekan, ataupun hak-haknya terabaikan, terus saja orang tua macam ini mengeksploitasi kemampuan anak, bahkan kadangkala mendidik dengan sikap yang perfeksionis apalagi menggunakan kekerasan baik secara fisik maupun secara verbal.

Bukankah tugas sebagai orangtua adalah mengenalkan anak kepada Allah SWT, Rasul Nya, dan Kitab Nya, memberikan nafkah serta kasih sayang, menerima anak apa adanya baik keistimewaan maupun kekurangannya, serta bersabar apabila menghadapi kenakalan anak. Anak adalah amanah bagi orang tuanya, sudah seharusnya orang tua memperlakukan anak dengan perlakuan yang kasih sayang dan tanpa kekerasan meskipun anak itu nakal.

Jadi memperlakukan anak itu bukan berdasarkan ambisi duniawi, tapi berdasarkan keikhlasan karena Allah SWT. Karena ingin anaknya diterima di sekolah favorit, maka anak diperas habis habisan kemampuannya. Jika anak mendapatkan nilai rapor merah, maka orang tua marah hingga kemudian melakukan kekerasan terhadap anak. Memilihkan sekolah untuk anak tidak mempertimbangkan apakah anak ini nanti jadi kafir atau tidak. Saya heran kenapa ada orang tua Muslim menyekolahkan anaknya di sekolah Katolik, hanya karena sekolah itu adalah sekolah yang terkenal dan favorit. Jika tidak mendapatkan sekolah favorit merasa seolah olah berada dalam keadaan genting. Bukankah banyak sekolah berlabel Islam dan pondok pesantren. Apakah merasa kurang bergengsi jika memasukkan anaknya ke pondok pesantren.

Ada juga cerita seorang ibu yang begitu bingungnya karena tidak punya biaya untuk menyekolahkan anaknya. Begitu bingungnya ibu ini karena anaknya putus sekolah. Seolah-olah tidak ada hal lain yang lebih penting. Bukankah mencari ilmu itu bisa dilakukan diluar sekolah umum. Belajar itu bisa dimana saja, baik di sekolah maupun diluar sekolah. Contoh jika anak anda putus sekolah, tidak perlu bingung, ajari berbagai macam keterampilan sesuai dengan minat dan bakat dia. Jika anak anda memiliki kecenderungan untuk menjadi pedagang, ajarilah cara berdagang, jika anak anda punya kecenderungan hobi memasak, maka ajarilah memasak siapa tahu anak anda kelak bisa meraih rezeki milyaran rupiah melalui keterampilannya memasak. Jika anak anda punya kecenderungan ibadahnya rajin, ajarilah pengobatan alternatif yang Islami [co: merukyah]. Siapa tahu kelak anak anda jadi sukses seperti Ustadz Haryono. Jika anak anda hobi olah raga, ikutkan klub sepak bola. Siapa tahu kelak anak anda bisa terkenal seperti kurniawan. Dari semua keterampilan duniawi yang terpenting adalah ilmu agamanya.

Terkadang orang tua berambisi agar anaknya menjadi kaya, punya jabatan, lulus perguruan tinggi dan sebagainya. Si anak pun dengan kemudaannya ia berambisi ingin jadi ini, jadi itu, ingin memiliki ini, memiliki itu, ingin meraih ini dan itu serta aneka angan angan duniawi lainnya. Tapi pernahkah terpikir oleh anda untuk bercita cita melakukan amal shaleh. Pernahkah anda bercita cita ingin mendirikan Negara Islam? Pernahkah anda bercita cita seandainya anda kaya anda akan habiskan harta anda untuk membiayai gerakan dakwah? Pernahkah anda bercita cita seandainya anda kaya anda akan membangun pondok pesantren? Mungkin di zaman sekarang ini jarang ada yang bercita cita seperti itu. Jangan lupakan cita cita untuk akherat anda. Ingatlah negeri akherat itu lebih baik dari pada dunia dan seisinya.

About ngobrolislami

hamba ALLAH
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s