KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: PEMBUKTIAN JARIMAH ZINA DENGAN MENGGUNAKAN PENGAKUAN DAN QORINAH

Pelaku jarimahh zina dapat dikenai hukuman had apabila perbuatanya telah dapat dibuktikan. Untuk jarimah zina ada tiga macam cara pembuktian:
[1] DENGAN SAKSI
[2] DENGAN PENGAKUAN
[3] DENGAN QORINAH

PEMBUKTIAN DENGAN PENGAKUAN

Pengakuan dapat digunakan sebagai alat bukti untuk jarimah zina, dengan syarat-syarat sebagai berikut;

1) menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad, pengakuan harus dinyatakan sebanyak empat kali, dengan mengqiaskanya pada empat orang saksi dan beralasan pada hadis Ma’iz yang menjelaskan tentang pengakuanya sebanyak empat kali di depan Rosululloh s.a.w bahwa dia telah melakukan perbuatan zina. Akan tetapi, Imam Malik dan Imam Syafi’i berpendapat bahwa pengakuan itu cukup satu kali. Alasanya adalah bahwa pengakuan ini merupakan pemberitahuan, dan pemberitahuan tidak akan bertambah dengan cara diulang-ulang. Di samping itu, mereka juga beralasan dengan hadis Unays, dimana Nabi Muhammad bersabda;
“…dan pergilah kamu hai Unays kepada isteri orang ini. Apabila ia mengaku maka laksanakanlah hukuman rajam atas dirinya.”

2) pengakuan harus terperinci dan menjelaskan tentang hakikat perbuatan, sehingga dapat menghilangkan syubhat dalam perbuatan zina. Hal ini didasarkan kepada sunnah Rosululloh s.a.w ketika Ma’iz datang kepada Nabi Muhammad untuk menyatakan pengakuanya, Nabi Muhammad menginterogasinya dengan beberapa pertanyaan: apakah engkau tidak gila, atau minum minuman keras, barangkali engkau hanya menciumnya, atau hanya tidur bersama, dan pertanyaan pertanyaan lain termasuk perihal persetubuhanya. Hal ini menunjukan bahwa pengakuan harus terinci dan jelas.

3) pengakuan harus sah atau benar, dan hal ini tidak mungkin timbul kecuali dari orang yang berakal dan mempunyai kebebasan. Dengan perkataan lain, orang yang memberikan pengakuan harus orang yang berakal dan mempunyai pilihan (kebebasan), tidak gila tidak dipaksa. Hal ini didasarkan kepada hadis nabi riwayat Imam Ahmad dan Imam Abu Dawud;
Dari aisyah r.a ia berkata: Rosululloh s.a.w telah bersabda:
“dihapuskan ketentuan hukum dari tiga hal, dari orang yang tidur sampai ia bangun, dari orang yang gila sampai ia sembuh, dari anak kecil sampai ia dewasa.”

Alasan lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath Thobrani, dari Tsawban, bahwa Nabi Muhammad s.a.w bersabda;
“dihapuskan dari umatku kekeliruan, lupa, dan perbuatan yang dipaksakan atasnya.”
{terjemahan hadis riwayat Ath Thobrani dari Tsawban}

4) Imam Abu Hanifah mensyaratkan bahwa pengakuan harus dinyatakan dalam sidang pengadilan. Apabila dilakukan diluar sidang pengadilan maka pengakuan tersebut tidak diterima. Sedangkan Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad tidak mensyaratkanya. Dengan demikian menurut mereka ini, pengakuan itu boleh dilakukan diluar sidang pengadilan.

Pengakuan orang yang berzina hanya berlaku pada dirinya dan tidak berlaku bagi orang lain. Apabila seorang laki-laki mengaku berzina ia dikenai hukuman berdasarkan pengakuanya. Sedangkan perempuan yang diaku berzina dengan laki-laki tersebut berzina bersamanya, apabila ia mengingkarinya, ia tidak dikenai hukuman. Demikian pula tidak disyaratkan hadirnya kawan berzina dari orang yang menyatakan pengakuan tersebut.

Imam Abu Hanifah juga mensyaratkan bahwa orang yang menyatakan pengakuan tersebut harus bisa berbicara, tetapi jumhur fuqoha menyatakan bahwa pengakuan dari orang yang bisu bisa diterima apabila isyaratnya dapat dipahami.

Apabila orang yang berzina itu mencabut pengakuanya maka hukuman had menjadi gugur, karena pencabutan tersebut menimbulkan terjadinya syubhat. Pencabutan itu boleh dilakukan sebelum sidang atau sesudahnya. Juga boleh sebelum pelaksanaan hukuman atau pada saat pelaksanaan hukuman.

Pencabutan pengakuan bisa dilakukan dengan pernyataan yang shorih (jelas/tegas) dan bisa juga dengan dialah, seperti melarikan diri pada saat hukuman dilaksanakan. Akan tetapi menurut Imam Syafi’i lari semata-mata bukan merupakan pencabutan pengakuan. Oleh karena itu, pelaku perlu dimintai ketegasanya setelah ditangkap kembali. Alasan jumhur memasukan lari sebagai pernyataan pencabutan atas pengakuan didasarkan pada hadis Rosululloh s.a.w ketika Ma’iz melarikan diri pada saat akan dilaksanakanyahukum rajam. Ia dikejar oleh para sahabat. Setelah ia ditangkap kemudian hukuman rajam dilaksanakan. Ketika peristiwa itu dilaporkan kepada Nabi Muhammad s.a.w beliau mengatakan;
“…kenapa tidak engkau tinggalkan (biarkan) saja dia?”

Ucapan Nabi Muhammad s.a.w ini menunjukan bahwa lari dapat menggugurkan hukuman had, karena dianggap sebagai pencabutan atas pengakuan.

PEMBUKTIAN DENGAN QORINAH

Qorinah atau tanda yang dianggap sebagai alat pembuktian dalam jarimah zina adalah timbulnya kehamilan pada wanita tidak bersuami, atau tidak diketahui suaminya. Disamakan dengan wanita tidak bersuami, wanita yang kawin dengan anak kecil yang belum balig, atau orang yang sudah balig tetapi kandunganya lahir sebelum enam bulan.

Dasar penggunaan qorinah sebagai alat bukti untuk jarimah zina adalah ucapan sahabat dan perbuatanya. Dalam salah satu pidatonya sayidina umar berkata:
“dan sesungguhnya rajam wajib dilaksanakan berdasarkan kitabulloh atas orang yang berzina, baik laki-laki maupun perempuan apabila ia muhshon, jika terdapat keterangan (saksi) atau terjadi kehamilan, atau ada pengakuan. (Muttafaq Alayh)

Diriwayatkan dari sayidina Utsman bahwa kepada beliau dihadapkan seorang wanita yang melahirkan anaknya yang umur kandunganya enam bulan penuh, dan beliau berpendapat bahwa wanita itu harus dirajam. Maka sayidina Ali berkata;
“tidak ada jalan bagimu untuk menghukum wanita ini, karena ALLOH berfirman (yang artinya): masa kandungannya dan masa menyusukannya adalah 30 bulan.

Diriwayatkan dari sayidina Ali bahwa beliau berkata;
“wahai manusia, sesungguhnya zina itu ada dua macam, zina sir (diam-diam) dan zina ‘alaniyah (terang terangan). Zina sir adalah zina yang dibuktikan dengan saksi maka saksi itulah orang yang pertama melempar (melaksanakan hukuman). Sedangkan zina ‘alaniyah adalah apabila terjadi kehamilan atau ada pengakuan.”

Apa yang diucapkan diatas adalah ucapan sahabat, tetapi karena tidak ada yang menentangnya, hal itu dapat disebut ijma’

Sebenarnya kehamilan semata-mata bukan merupakan qorinah yang pasti atas terjadinya perbuatan zina, karena mungkin saja kehamilan tersebut terjadi akibat perkosaan. Oleh karena itu bila terdapat syubhat dalam terjadinya zina maka hukuman had menjadi gugur.

Menurut Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad, apabila tidak ada bukti lain untuk jarimah zina selain kehamilan maka apabila wanita itu mengaku bahwa ia dipaksa, atau persetubuhan terjadi karena syubhat maka tidak ada hukuman had baginya. Demikian pula apabila tidak mengaku dipaksa atau tidak mengaku terjadi syubhat dalam persetubuhanya maka ia juga tidak dikenai hukuman had, selama ia tidak mengaku berbuat zina, karena hukuman had itu harus dibuktikan dengan pengakuan.

PELAKSANAAN HUKUMAN

Apabila jarimah zina sudah bisa dibuktikan dan tidak ada syubhat maka hakim harus memutuskanya dengan menjatuhkan hukuman had, yaitu rajam bagi muhshon dan dera seratus kali ditambah pengasingan selama satu tahun bagi pezina ghair muhshon.

[1] siapa yang melaksanakan hukuman

Para fuqoha telah sepakat bahwa pelaksanaan hukuman had harus dilakukan oleh kholifah (kepala negara) atau wakilnya (pejabat yang ditunjuk). Kehadiran kholifah tidak menjadi syarat dalam pelaksanaan hukuman. Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa Rosululloh s.a.w selalu memerintahkan pelaksanaan hukuman had kepada para sahabat dan beliau tidak ikut menghadiri pelaksanaan hukuman tersebut, seperti dalam hadus Ma’iz dan lainya. Akan tetapi persetujuan Imam selalu diperlukan dalam pelaksanaan hukuman ini.

Hukuman had harus dilaksanakan secara terbuka di muka umum sesuai dengan firman ALLOH dalam surat An Nuur ayat 2;
“…hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.”
{Terjemahan Qur’an Surat An Nuur [24]:2}

[2] cara pelaksanaan hukuman rajam

Apabila orang yang akan dirajam itu laki-laki, hukuman dilaksanakan dengan berdiri tanpa dimasukan ke dalam lubang dan tanpa dipegang atau diikat. Hal ini didasarkan pada hadis Rosululloh s.a.w ketika merajam Ma’iz dan orang Yahudi.

Dari Abi Sa’id ia berkata: ketika Rosululloh s.a.w memerintahkan kepada kami untuk merajam Ma’iz ibn Malik maka kami membawanya ke baqi’. Demi ALLOH kami tidak memasukanya ke dalam lubang dan tidak pula mengikatnya melainkan ia tetap berdiri. Maka kami melemparinya dengan tulang…

Apabila melarikan diri dan pembuktianya dengan pengakuan maka ia tidak perlu dikejar dan hukumanya dihentikan. Akan tetapi, apabila pembuktianya dengan saksi maka ia harus dikejar, dan selanjutnya hukuman rajam diteruskan sampai ia mati.

Apabila orang yang dirajam wanita, menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i, ia boleh dipendam sampai batas dada, karena cara demikian itu lebih menutupi auratnya. Adapun menurut mazhab Maliki dan pendapat yang rajih dalam mazhab Hanbali, wanita juga tidak dipendam, sama halnya dengan laki-laki.

Hukum rajam adalah hukuman mati dengan cara dilempari dengan batu atau benda benda lain. Menurut Imam Abu Hanifah lemparan pertama dilakukan oleh para saksi apabila hukumanya dilakukan dengan saksi. Setelah itu diikuti oleh Imam atau pejabat yang ditunjuknya dan diteruskan oleh masyarakat. Namun ulama yang lainya tidak mensyaratkan demikian.

Hukuman rajam ini boleh dilakukan pada setiap saat dan musim, baik pada musim panas maupun musim dingin, dalam keadaan sehat atau sakit, karena hukuman ini berakhir pada kematian. Akan tetapi apabila orang yang terhukum itu wanita yang sedang hamil maka pelaksanaan hukuman ditunda sampai ia melahirkan. Hal ini karena apabila hukuman tetap dilaksanakan, berarti menghukum juga bayi yang masih dalam kandunganya.

[3] Cara pelaksanaan hukuman dera (jilid)

Hukuman dera dilaksanakan dengan menggunakan cambuk, dengan pukulan yang sedang sebanyak 100 kali cambukan. Disyaratkan cambuk tersebut harus kering, tidak boleh basah, karena bisa menimbulkan luka. Disamping itu juga disyaratkan cambuk tersebut ekornya tidak boleh lebih dari satu. Apabila ekor cambuk lebih dari satu ekor, jumlah pukulan dihitung sesuai dengan banyaknya ekor cambuk tersebut.

Menurut Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, apabila orang yang terhukum laki-laki, maka bajunya harus dibuka kecuali yang menutupi auratnya. Akan tetapi menurut Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, orang terhukum tetap dalam keadaan berpakaian.

Pelaksanaan hukuman dera menurut Imam Malik dilakukan dalam keadaan duduk tanpa dipegang atau diikat, kecuali kalau ia menolak. Namun menurut Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dam Imam Ahmad, apabila orang terhukum laki-laki, ia dihukum dalam keadaan berdiri, dan apabila perempuan maka hukuman dilaksanakan dalam keadaan duduk.

Hukuman jilid tidak boleh sampai menimbulkan bahaya terhadap orang yang terhukum, karena hukuman ini bersifat pencegahan. Oleh karena itu hukuman tidak boleh dilaksanakan dalam keadaan panas terik atau cuaca yang sangat dingin. Demikian pula hukuman tidak boleh dilaksanakan dalam keadaan panas terik atau cuaca yang sangat dingin. Demikian pula hukuman tidak dilaksanakan atas orang yang sedang sakit sampai ia sembuh, dan wanita yang sedang hamil sampai ia melahirkan.

HAL-HAL YANG MENGGUGURKAN HUKUMAN

Hukuman had zina tidak bisa dilaksanakan atau gugur karena hal-hal berikut.
[1] karena pelaku mencabut pengakuanya apabila zina dibuktikan dengan pengakuan.
[2] karena para saksi mencabut persaksianya sebelum hukuman dilaksanakan.
[3] karena pengingkaran oleh salah satu pelaku zina atau mengaku sudah kawin apabila zina dibuktikan dengan pengakuan salah seorang dari keduanya. Pendapat ini dikemukakan oleh Abu Hanifah. Akan tetapi menurut jumhur ulama, pengingkaran tersebut tidak menyebabkan gugurnya hukuman. Demikian pula pengakuan telah kawin menurut jumhur tidak menyebabkan gugurnya hukuman, kecuali apabila ada petunjuk atau bukti bahwa kedua pelaku zina itu memang sudah menikah.
[4] karena hilangnya kecakapan para saksi sebelum pelaksanaan hukuman dan setelah adanya putusan hakim. Pendapat ini dikemukakan oleh mazhab Hanafi. Akan tetapi mazhab-mazhab yang lain tidak menyetujuinya.
[5] karena meninggalkan saksi sebelum hukuman rajam dilaksanakan. Pendapat ini juga merupakan pendapat mazhab Hanafi, tidak menurut mazhab yang lainya.
[6] karena dilaksanakanya perkawinan antara pelaku zina tersebut. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Abu Yusuf murid Abu Hanifah. Akan tetapi menurut fuqoha yang lain, perkawinan setelah terjadinya perbuatan zina tidak menggugurkan hukuman had, karena hal itu bukan merupakan syubhat.


SUMBER

Muslich, Ahmad Wardi. 2005. Hukum Pidana Islam. Jakarta. Sinar Grafika.

About ngobrolislami

hamba ALLAH
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s