KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: JARIMAH QODZAF

Pengertian qodzaf

Qodzaf dalam arti bahasa adalah melempar dengan batu dan lainya.
Dalam istilah syaro’, qodzaf ada dua macam, yaitu
[1] qodzaf yang diancam dengan hukuman had
[2] qodzaf yang diancam dengan hukuman ta’zir
Pengertian qodzaf yang diancam dengan hukuman had adalah;
“menuduh orang yang muhshon dengan tuduhan berbuat zina atau dengan tuduhan yang menghilangkan nasabnya.”
Sedangkan qodzaf yang diancam dengan hukuman ta’zir adalah;
“menuduh dengan tuduhan selain berbuat zina atau selain menghilangkan nasabnya, baik orang yang dituduh itu muhshon atau ghoyr muhshon.”

Kelompok qodzaf macam yang kedua ini mencakup perbuatan mencaci maki orang dan dapat dikenakan hukuman ta’zir. Dalam uraian berikut ini, yang akan kita bahas adalah qodzaf macam yang pertama, yaitu qodzaf yang diancam dengan hukuman had.

Dalam memberikan definisi qodzaf ini, Abdur Rohman Al Jaziri mengatakan sebagai berikut;
“qodzaf adalah suatu pengungkapan tentang penuduhan seseorang kepada orang lain dengan tuduhan zina, baik dengan menggunakan lafadz yang shorih (tegas) atau secara dilalah (tidak jelas).

Contoh tuduhan yang shorih (jelas/tegas), seperti; “engkau orang yang berzina.” Adapun tuduhan yang tidak jelas (dilalah) seperti menasabkan seseorang kepada orang yang bukan ayahnya.

DASAR HUKUM LARANGAN QODZAF

Dasar hukum larangan qodzaf adalah sebagai berikut
[1] Al Qur’an
a) surat An Nuur ayat 4
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.”
{Terjemahan Al Qur’an Surat An Nuur [24]:4}
b) surat An Nuur ayat 23
“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar,”
{Terjemahan Al Qur’an Surat An Nuur [24]:23}

[2] hadis rosululloh
Dari Abu Hurayroh dari Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam beliau bersabda;
“jauhilah tujuh macam perbuatan yang merusak.”
Para sahabat bertanya;
“wahai Rosululloh apakah yang tujuh perkara itu?”
Nabi menjawab;
“menyekutukan Alloh, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Alloh kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari pada waktu pertempuran, dan menuduh wanita yang baik-baik, beriman dan lengah (berbuat zina).
{Terjemahan Hadis Riwayat Bukhori}

UNSUR-UNSUR JARIMAH QODZAF

Dari definisi yang dikemukakan di atas, dapat diketahui bahwa unsur-unsur jarimah qodzaf itu ada tiga;
[1] adanya tuduhan zina atau menghilangkan nasab
[2] orang yang dituduh adalah orang muhshon
[3] adanya maksud jahat atau niat yang melawan hukum

[1] adanya tuduhan zina atau menghilangkan nasab

Unsur ini dapat terpenuhi apabila pelaku menuduh korban dengan tuduhan melakukan zina atau tuduhan yang menghilangkan nasabnya, dan ia (penuduh) tidak mampu membuktikan apa yang dituduhkanya.

Tuduhan zina kadang-kadang menghilangkan nasab korban kadang tidak. Kata kata seperti; “hai anak zina”, menghilangkan nasab anaknya sekaligus menuduh ibunya berzina. Sedangkan kata-kata seperti “hai pezina” hanya menuduh berzina saja dan tidak menghilangkan nasabnya

Dengan demikian, apabila kata-kata itu tidak berisi tuduhan zina atau menghilangkan nasabnya, maka penuduh tidak dihukum dengan hukuman had, melainkan hanya dikenai hukuman ta’zir. Misalnya tuduhan mencuri, kafir, minum, minuman keras, korupsi, dan sebagainya. Demikian pula dikenakan hukuman ta’zir setiap penuduhan zina atau menghilangkan nasab yang tidak memenuhi syarat untuk dikenakan hukuman had. Demikian pula halnya penuduhan yang tidak berisi perbuatan maksiat, walaupun pada kenyataanya tuduhan tersebut memang benar, seperti menyebut orang lain pincang, impoten, mukanya hitam, dan sebagainya.

Dari uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa tuduhan merupakan kata-kata yang menyakiti orang lain dan perasaanya. Ukuran menyakiti ini didasarkan pada adat kebiasaan.

Di atas telah dikemukakan bahwa tuduhan selain zina atau menghilangkan nasab tidak dikenai hukuman had, melainkan hukuman ta’zir. Lalu bagai mana dengan tuduhan liwath (homoseksual), atau menyetubuhi binatang, apakah dikenai hukuman had atau hukuman ta’zir? Dalam masalah ini, para ulama berbeda pendapat. Menurut Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, hukumanya sama dengan tuduhan zina, karena mereka menganggap liwath sebagai zina yang dikenai hukuman had. Akan tetapi menurut Imam Abu Hanifah, tuduhan liwath (homoseksual) tidak sama dengan tuduhan zina, karena ia tidak menganggap liwath sebagai zina. Ringkasnya, kaidah umam yang berlaku di kalangan fuqoha dalam masalah ini adalah bahwa setiap perbuatan yang mewajibkan hukuman had zina kepada pelakunya, mewajibkan hukuman had pada penuduhnya. Sebaliknya setiap perbuatan yang tidak mewajibkan hukuman had atas pelakunya, juga tidak mewajibkan hukuman had atas orang yang menuduhnya.

Tuduhan yang pelakunya (penuduh) dikenai hukuman had, harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut;

a) kata kata tuduhan harus tegas dan jelas (shorih), yaitu tidak mengandung pengertian lain selain tuduhan zina. Apabila tuduha itu tidak shorih maka berarti ta’ridh atau tuduhan dengan kinayah (sindiran). Adapun hukuman qodzaf dengan kinayah, terdapat perbedaan pendapat antar ulama. Menurut Imam Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari mazhab hanbali, palaku (penuduh) tidak dikenai hukuman had, malainkan hukuman ta’zir. Adapun menurut mazhab Syafi’i, apabila dengan tuduhan kinayahnya itu memang diniatkan sebagai qodzaf maka penuduh dikenai hukuman had. Akan tetapi, jika tidak ada niat qodzaf maka penuduh tidak dikenai hukuman had. Menurut Imam Malik, apabila kata-kata kinayahnya bisa diartikan sebagai qodzaf, atau ada qorinah (tanda) yang menunjukan bahwa pelaku sengaja menuduh, maka ia dikenai hukuman had. Diantara qorinah itu adalah seperti adanya permusuhan atau pertengkaran antara penuduh dan orang yang dituduh.

b) orang yang dituduh harus tertentu (jelas). Apabila orang yang dituduh itu tidak diketahui, maka penuduh tidak dikenai hukuman had.

c) tuduhan harus mutlak, tidak dikaitkan dengan syarat dan tidak disandarkan dengan waktu tertentu. Dengan demikian apabila tuduhan dikaitkan dengan syarat atau disandarkan pada masa yang akan datang, maka penuduh tidak dikenai hukuman had.

d) Imam Abu Hanifah mensyaratkan terjadinya penuduhan tersebut di negeri Islam. Apabila penuduhan terjadi di darul harb (negeri non muslim yang memusuhi Islam), maka penuduh tidak dikenai hukuman had. Akan tetapi imam imam yang lain tidak mensyaratkan ini.

[2] orang yang dituduh harus orang yang muhshon

Dasar hukum tentang syarat Ihshon untuk maqdzuf (orang yang tertuduh) ini adalah;
a) surat An Nuur ayat 4
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita muhshon (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera…”
{Terjemahan Qur’an Surat An Nuur [24]:4}
b) surat An Nuur ayat 23
“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar,”
{Terjemahan Qur’an Surat An Nuur [24]:23}

Para fuqoha mengambil kesimpulan bahwa iman (Islam), merdeka, dan iffah (bersih) merupakan syarat – syarat Ihshon bagi maqdzuf (orang yang dituduh).

Disamping tiga syarat tersebut, terdapat syarat Ihshon yang lain, yaitu balig dan berakal. Illat dari dua syarat ini bagi maqdzuf (orang yang dituduh) adalah zina tidak mungkin terjadi kecuali dari orang yang balig dan berakal. Di samping itu zina yang terjadi dari orang gila atau anak dibawah umur tidak dikenai hukuman had. Namun syarat balig ini tidak disepakati oleh para fuqoha. Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i memasukanya sebagai syarat Ihshon baik untuk laki-laki maupun perempuan, sedangkan Imam Malik hanya mensyaratkanya hanya untuk laki-laki. Di kalangan ulama Hanabilah berkembang dua pendapat. Segolongan mensyaratkanya, sedangkan segolongan lagi tidak mensyaratkanya.

Pengertian iffah dari zina juga tidak ada kesepakatan di kalangan para ulama. Menurut Imam Abu Hanifah, iffah dari zina itu adalah belum pernah seumur hidupnya melakukan persetubuhan yang diharamkan bukan pada milik sendiri. Menurut Imam Malik, pengertian iffah itu adalah tidak melakukan zina, baik sebelum dituduh maupun sesudahnya. Menurut mazhab Syafi’i, iffah adalah terhindarnya tertuduh dari perbuatan yang menyebabkan hukuman had zina baik sebelum dituduh maupun sesudahnya. Ulama Hanabilah mengartikan iffah dengan tidak bisa dibuktikanya perbuatan zina seseorang, baik dengan saksi, ikrar (pengakuan), maupun qorinah, dan ia tidak dihukum dengan hukuman had zina.

[3] adanya niat yang melawan hukum

Unsur melawan hukum dalam jarimah qodzaf dapat terpenuhi apabila seseorang menuduh orang lain dengan tuduhan zina atau menghilangkan nazabnya, padahal ia tahu bahwa apa yang dituduhkanya tidak benar. Dan seseorang dianggap mengetahui ketidak benaran tuduhanya apabila ia tidak mampu membuktikan kebenaran tuduhanya.

Ketentuan ini didasarkan kepada ucapan Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam kepada Hilal ibn Umayyah ketika ia menuduh isterinya berzina dengan Syarik ibn Sahma’;
“…datangkanlah saksi, apabila tidak bisa mendatangkan saksi maka hukuman had akan dikenakan kepada kamu.”
{Terjemahan Hadis Riwayat Abu Ya’la}

“Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Olah karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Alloh orang-orang yang dusta.”
{Terjemahan Qur’an Surat An Nuur [24]:13}

Atas dasar inilah jumhur fuqoha berpendapat bahwa apabila saksi dalam jarimah zina kurang dari empat orang, maka mereka dikenai hukuman had sebagai penuduh.

About ngobrolislami

hamba ALLAH
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s