KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: HUKUMAN UNTUK JARIMAH QODZAF

Hukuman untuk jarimah qodzaf ada dua macam, yaitu sebagai berikut;

[1] hukuman pokok, yaitu jilid sebanyak delapan puluh kali. Hukuman ini merupakan hukuman had, yaitu hukuman yang sudah ditetapkan oleh syaro’, sehingga kholifah (kepala negara) tidak mempunyai hak untuk memberikan pengampunan. Adapun bagi orang yang dituduh, para ulama berbeda pendapat. Menurut mazhab Syafi’i, orang yang dituduh berhak memberikan pengampunan, karena hak manusia lebih domina daripada hak Alloh. Sedangkan menurut mazhab Hanafiyah bahwa korban tidak berhak memberikan pengampunan, karena di dalam jarimah qodzaf hak Alloh lebih dominan daripada hak manusia.

[2] hukuman tambahan, yaitu tidak diterima persaksianya.
Kedua macam hukuman tersebut didasarkan kepada firman Alloh dalam surat An Nuur ayat 4:
“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.”
{Terjemahan Al Qur’an Surat An Nuur [24]:4}
Hanya saja andaikata mereka tobat, apakah kesaksianya tetap gugur atau bisa diterima kembali? Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat. Menurut Imam Abu Hanifah, kesaksian penuduh tetap gugur, meskipun ia telah bertobat. Sedangkan menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad, kesaksian penuduh diterima kembali apabila ia bertobat.

Adapun yang menjadi sebab terjadinya perbedaan pendapat dalam masalah ini adalah karena adanya perbedaan penafsiran terhadap firman Alloh dalam surat An Nuur ayat 5;
“kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
{Terjemahan Al Qur’an Surat An Nuur [24]:5}

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa pengecualian setelah adanya beberapa kalimat yang dirangkaikan, hanya kembali pada kalimat yang terakhir. Dengan demikian berdasarkan penafsiran ini tobat hanya berpengaruh terhadap kefasikan. Artinya dengan tobat berarti penuduh tidak fasik lagi, tetapi haknya untuk menjadi saksi tetap dicabut. Sedangkan menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad, pengecualian setelah adanya beberapa kalimat yang dirangkaikan kembali kepada semua kalimat sebelumnya. Berdasarkan hal ini, tobat berpengaruh terhadap kefasikan dan pencabutan hak sebagai saksi. Artinya, dengan tobatnya penuduh maka ia tidak fasik lagi dan haknya untuk menjadi saksi dapat diterima kembali.

HAL-HAL YANG MENGGUGURKAN HUKUMAN

Hukuman qodzaf dapat gugur karena hal-hal berikut ini;
[1] karena para saksi yang diajukan oleh orang yang dituduh mencabut kembali persaksianya.
[2] karena orang yang dituduh melakukan zina membenarkan tuduhan penuduh.
[3] karena korban (orang yang dituduh berzina) tidak mempercayai keterangan para saksi. Ini menurut Imam Abu Hanifah.
[4] karena hilangnya kecakapan para saksi sebelum pelaksanaan hukuman. Ini juga menurut Imam Abu Hanifah, sedangkan menurut ulama yang lain tidak demikian.


SUMBER

Muslich, Ahmad Wardi. 2005. Hukum Pidana Islam. Jakarta. Sinar Grafika.

About ngobrolislami

hamba ALLAH
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s