JARIMAH PENCURIAN

MACAM-MACAM PENCURIAN DAN PENGERTIANYA

Pencurian dalam Syari’at Islam ada dua macam yaitu sebagai berikut:
[1] pencurian yang hukumanya had
[2] pencurian yang hukumanya ta’zir

Pencurian yang hukumanya had terbagi pada dua bagian, yaitu;
a) pencurian ringan (as sirqatush shughra)
b) pencurian berat (as sirqatul kubra)

Pencurian ringan menurut rumusan yang dikemukakan oleh Abdul Qodir Awdah adalah sebagai berikut:
Pencurian ringan adalah mengambil harta milik orang lain dengan cara diam-diam, yaitu dengan jalan sembunyi-sembunyi.

Sedangkan pengertian pencurian berat adalah sebagai berikut.
Adapun pengertian pencurian berat adalah mengambil harta milik orang lain dengan cara kekerasan.

Perbedaan pencurian ringan dengan pencurian berat adalah bahwa pencurian ringan, pengambilan harta itu dilakukan tanpa sepengetahuan pemilik dan tanpa persetujuannya. Sedangkan dalam pencurian berat, pengambilan harta tersebut dengan sepengetahuan pemilik harta tetapi tanpa kerelaannya, disamping terdapat unsur kekerasan. Dengan istilah lain, pencurian berat ini disebut jarimah hirobah (perampokan), dan secara khusus akan dibicarakan dalam artikel tersendiri. Dimasukkannya perampokan ke dalam kelompok pencurian ini, sebabnya adalah karena dalam perampokan terdapat segi persamaan dengan pencurian, yaitu sekalipun jika dikaitkan dengan pemilik barang, perampokan itu dilakukan dengan terang-terangan, namun jika dikaitkan dengan pihak penguasa atau petugas keamanan, perampokan tersebut dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.

Pencurian yang hukumannya ta’zir juga dibagi kepada dua bagian sebagai berikut.
[1] semua jenis pencurian yang dikenai hukuman had, tetapi syarat-syaratnya tidak terpenuhi, atau ada syubhat. Contohnya seperti pengambilan harta milik anak oleh ayahnya.
[2] pengambilan harta milik orang lain dengan sepengetahuan pemilik tanpa kerelaannya dan tanpa kekerasan. Contohnya seperti menjambret kalung dari leher seorang wanita, lalu penjambret itu melarikan diri dan pemilik barang tersebut melihatnya sambil berteriak meminta bantuan.

Sebenarnya defisnisi pencurian yang dikemukakan oleh Abdul Qodir Awdah tersebut terlampau singkat dan kurang lengkap. Definisai yang lebih lengkap adalah definisi yang dikemukakan oleh muhammad abu syahbah.

Pencurian menurut syaro’ adalah pengambilan oleh seorang mukalaf –yang baligh dan berakal- terhadap harta milik orang lain dengan diam-diam, apabila harta tersebut mencapai nishob (batas minimal), dari tempat simpanannya, tanpa ada syubhat dalam barang yang diambil tersebut.

UNSUR-UNSUR PENCURIAN

Dari definisai yang dikemukakan diatas dapat diketahui bahwa unsur-unsur pencurian itu ada empat macam, yaitu sebagai berikut;
[1] pengambilan secara diam-diam
[2] barang yang diambil itu berupa harta
[3] harta tersebut milik orang lain
[4] adanya niat yang melawan hukum

[1] pengambilan secara diam-diam
Pengambilan secara diam-diam terjadi apabila pemilik (korban) tidak mengetahui terjadinya pengambilan barang tersebut dan ia tidak merelakannya. Contohnya mengambil barang-barang milik orang lain dari dalam rumahnya pada malam hari ketika ia (pemilik) sedang tidur. Dengan demikian apabila pengambilan itu sepengetahuan pemiliknya dan terjadi tanpa kekerasan maka perbuatan tersebut bukan pencurian melainkan perampasan (ikhtilas).

Untuk terjadinya pengambilan yang sempurna diperlukan tiga syarat, yaitu;
a) pencuri mengeluarkan barang yang dicuri dari tempat penyimpananya.
b) barang yang dicuri dikeluarkan dari kekuasaan pemilik.
c) barang yang dicuri dimasukkan dalam kekuasaan pencuri

[2] barang yang diambil berupa harta
Salah satu unsur penting untuk dikenakannya hukuman potong tangan adalah bahwa barang yang dicuri itu harus banyak yang bernilai mal (harta). Apabila barang yang dicuri itu bukan mal, seperti hamba sahaya, atau anak kecilyang belum tamyiz maka pencuri tidak dikenakan hukuman had. Akan tetapi Imam Malik dan Zhohiriyah berpendapat bahwa anak kecil yang belum tamyis bisa menjadi obyek pencurian, walaupun bukan hamba sahaya, dan pelakunya bisa dikenai hukuman had.

Dalam kaitan dengan barang yang dicuri, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk bisa dikenakan hukuman potong tangan. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut
a) barang yang dicuri harus berupa mal mutaqowwim
b) barang tersebut harus barang yang bergerak
c) barang tersebut adalah barang yang tersimpan
d) barang tersebut mencapai nishob pencurian

a) barang yang dicuri harus berupa mal mutaqowwim
pencurian baru dikenai hukuman had apabila barang yang dicuri itu barang yang mutaqowwim, yaitu barang yang dianggap bernilai menurut syaro’. Barang barang yang tidak bernilai menurut pandangan syaro’ karena zatnya haram, seperti bangkai, babi, minuman keras dan sejenisnya, tidak termasuk mal mutaqowwim, dan orang yang mencurinya tidak dikenai hukuman

b) barang tersebut harus barang yang bergerak
untuk dikenakannya hukuman had bagi pencuri maka disyaratkan barang yang dicuri harus barang atau benda bergerak. Hal ini karena pencurian itu memang menghendaki dipindahkannya sesuatu dan mengeluarkannya dari tempat simpanannya. Hal ini tidak terjadi kecuali pada benda yang bergerak.

Suatu benda dianggap sebagai benda yang bergerak apabila benda tersebut bisa dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Ini tidak berarti benda itu benda bergerak menurut tabiatnya, melainkan cukup apabila benda itu dipindahkan oleh pelaku atau oleh orang lain.

c) barang tersebut tersimpan di tempat simpanannya
jumhur fuqoha berpendapat bahwa salah satu syarat untuk dikenakannya hukuman had bagi pencuri adalah bahwa barang yang dicuri harus tersimpan di tempat simpanannya. Sedangakan Zhohiriyah dan sekelompok ahli hadis tetap memberlakukan hukuman had, walaupun pencurian bukan dari tempat simpanannya apabila barang yang dicuri mencapai nishob pencurian.

Dasar hukum disyaratkannya tempat simpanan (hirz) ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Rofi’ ibn Khodij bahwa Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda;
“tidak ada hukum potong tangan dalam pencurian buah-buahan dan kurma.”

Adapun yang dimaksud dengan buah-buahan (tsamar) dalam hadis tersebuta adalah buah-buahan dan kurma yang masih menggantung di pohonnya sebelum dipetik dan disimpan. Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa pencurian dari pohonnya tidak dikenai hukuman , karena pohon bukan tempat simpanan bagi buah-buahan.

Hirz ada dua macam, yaitu sebagai berikut;
→ hirz bil makan atau hirz binafsih
→ hirz bil hafizh atau hirz bigairih

Pengertian hirz bil makan adalah setiap tempat yang disiapkan untuk menyimpan barang, dimana orang lain tidak boleh masuk kecuali dengan izin pemiliknya, seperti rumah, warung, gudang, dan sebagainya. Tempat ini disebut tempat simpanan (hirz) karena bentuk dan perlengkapannya dengan sendirinya merupakan tempat simpanan tanpa memerlukan penjagaan.

Adapun yang dimaksud dengan hirz bil hafizh adalah setiap tempat yang tidak disiapkan untuk penyimpanan barang, dimana setiap orang boleh masuk tanpa izin, seperti jalan, halama, dan tempat parkir. Hukumnya sama dengan lapangam terbuka jika disana tidak ada orang yang menjaganya. Artinya, tempat tersebut bisa dianggap sebagai hirz apabila ada orang yang menjaganya. Itulah sebabnya tempat tersebut disebut hirz bil hafizh. Sebagai contoh adalah seseorang yang memarkir kendaraan dipinggir jalan tanpa penjaga dianggap memarkir bukan pada hirz. Akan tetapi, bila di tempat tersebut terdapat penjaga seperti satpam maka jalan tersebut dianggap sebagai hirz bil hafizh.

d) barang tersebut mencapai nishob
tindak pidana pencurian baru dikenakan hukuman bagi pelakunya apabila barang yang dicuri mencapai nishob pencurian. Ketentuan ini didasarkan pada hadis Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, Nasa’i, dan ibnu Majah, bahwa Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda;
“tangan pencuri tidak dipotong kecuali dalam pencurian seperempat dinar ke atas.”

Selain hadis tersebut terdapat pula hadis lain yang isinya sama, yaitu hadis riwayat Imam Bukhori dengan redaksi sebagai berikut.
“tangan pencuri dipotong dalam pencurian seperempat dinar ke atas.”

Di samping itu, masih terdapat pula hads lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Aisyah r.a yang isinya lebih tegas ;
“potonglah (tangan pencuri) dalam pencurian seperempat dinar dan janganlah kamu memotongna dalam pencurian yang kurang dari jumlah tersebut.”

Berdasarkan hadis-hadis tersebut, jumhur fuqoha berpendapat bahwa hukuman potong tangan baru diterapkan kepada pencuri apabila nilai barang yang dicurinya mencapai seperempat dinar emas atau tiga dirham perak. Akan tetapi, beberapa ulam seperti Imam Hasan Basri, Abu Dawud Azh Zhohiri, dan kelompok Khowarij berpendapat bahwa pencurian baik sedikit maupun banyak tetap harus dikenai hukuman potong tangan. Mereka ini disamping berpegang pada surat Al Maaidah ayat 38, juga berpegang pada hadis yang diriwayatkan Imam Bukhori dan muslim dari Abu Huroyroh, bahwa Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda;
“Alloh mengutuk pencuri, yang mencuri telur tetap harus dipotong tangannya dan yang mencuri tali juga harus dipotong tangannya.”

Di kalangan jumhur ulama sendiri tidak ada kesepakatan mangenai nishob (batas minimal) pencurian ini. Disamping pendapat yang menyatakan nishob pencurian itu seperempat dinar emas atau tiga dirham perak, yang dikemukakan oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa nishob pencurian itu adalah sepuluh dirham yang setara dengan satu dinar.
Pendapat ini didasarkan kepada hadis nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam dari ibnu Abbas ia berkata:
“Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam memotong tangan seorang laki-laki dalam pencurian tameng (perisai perang) yang harganya satu dinar atau sepuluh dirham.”

Sebenarnya masih ada pendapat-pendapat lain yang beraneka ragam mengenai nishob pencurian ini, diantaranya yang tertinggi adalah empat dinar atau empat puluh dirham, yang dikemukakan oleh Imam An Nakha’i, namun pendapat ini tidak ada dasarnya.

[3] harta tersebut milik orang lain

Untuk terwujudnya tindak pidana pencurian yang pelakunya dapat dikenai hukuman had, disyaratkan barang yang dicuri itu milik orang lain. Apabila barang yang diambila dari orang lain itu hak milik pencuri yang dititipkan kepadanya maka perbuatan tersebut tidak dianggap sebagai pencurian, walaupun pengambilan tersebut dilakukan secara diam-diam.

Pemilikan pencuri atas barang yang dicurinya yang menyebabkan dirinya tidak dikenai hukuman harus tetap berlangsung sampai dengan saat dilakukannya pencurian. Dengan demikian apabila pada awalnya ia menjadi pemilik atas barang tersebut, tetapi beberapa saat menjelang dilakukannya pencurian ia memindahkan hak milik atas barang tersebut kepada orang lain maka iatetap dikenai hukuman had, karena pada saat dilakukannya pencurian barang tersebut bukan miliknya lagi.

Dalam kaitan dengan unsur yang ketiga ini, yang paling penting adalah barang tersebut ada pemiliknya, dan pemiliknya itu bukan si pencuri melainkan orang lain. Dengan demikian apabila barang tersebut tidak ada pemiliknya seperti benda-benda yang mubah maka pengambilannya tidak dianggap sebagai pencurian, walaupun dilakukan secara diam-diam.

Demikian pula halnya orang yang mencuri tidak akan dikenai hukuman had apabila terdapat syubhat (ketidak jelasan) dalam barang yang dicuri. Dalam hal ini pelaku hanya dikenai hukuman ta’zir. Contohnya seperti pencurian yang dilakukan oleh orang tua terhadap harta anaknya. Dalam kasus semacam ini, orang tua dianggap memiliki dalam harta anaknya, sehingga terdapat syubhat dalam hak milik. Hal ini didasarkan pada hadis nabi yang diriwayatkan oleh ibnu majah dari jabir bahwa Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda;
“engkau dan hartamu milik ayahmu.”

Demikian pula halnya orang yang mencuri tidak dikenai hukuman had apabila ia mencuri harta yang dimiliki bersama-sama dengan orang yang menjadi korban, karena hal itu juga dipandang sebagai syubhat. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan golongan Syi’ah. Akan tetapi, menurut Imam Malik dalam kasus pencurian harta milik bersama, pencuri tetap dikenai hukuman had apabila pengambilannya itu mencapai nishob pencurian yang jumlahnya lebih besar daripada hak miliknya.

Pencurian hak milik umum menurut Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan golongan Syi’ah Zaydiyah, sama hukumannya dengan pencurian hak milik bersama, karena dalam hal ini pencuri dianggap mempunyai hak sehingga hal ini juga dianggap sebagai syubhat. Akan tetapi menurut Imam Malik, pencuri tetap dikenai hukuman had.

[4] adanya niat yang melawan hukum

Unsur yang keempat dari pencurian yang dikenai hukuma had adalah adanya niat yang melawn hukum. Unsur ini terpenuhi apabila pelaku pencurian mengambil suatu barang padahal ia tahu bahwa barang tersebut bukan miliknya, dan karenanyaharam untuk diambil. Dengan demikian, apabila ia mengabil barang tersebut dengan keyakinan bahwa barang tersebut adalah barang yang mubah maka ia tidak dikenai hukuman, karena dalam hal ini tidak ada maksud melawan hukum.

Disamping itu untuk terpenuhinya unsur ini disyaratkan pengambilan tersebut dilakukan dengan maksud untuk memiliki barang yang dicuri. Apabila tidak ada maksud untuk memiliki maka dengan sendirinya tidak ada maksud melawan hukum, oleh karena itu ia tidak dianggap sebagai pencuri.

Demikian pula halnya pelaku pencurian tidak dikenai hukuman apabila pencurian tersebut dilekukan karena terpaksa atau dipaksa orang lain. Hal ini sesuai dengan firman Alloh surat Al Baqoroh ayat 173;
“Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
{terjemahan Al Qur’an Surat Al Baqoroh [2]:173}


SUMBER

Muslich, Ahmad Wardi. 2005. Hukum Pidana Islam. Jakarta. Sinar Grafika.

About ngobrolislami

hamba ALLAH
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s