KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM JARIMAH HIROBAH

PERBANDINGAN ANTARA HIROBAH DAN PENCURIAN

Hirobah atau perampokan dapat digolongkan pada tindak pidana pencurian, tetapi bukan dalam arti hakiki, melainkan dalam arti majazi. Secara hakiki pencurian adalah pengambilan harta milik orang lain secara diam-diam, sedangkan perampokan adalah pengambilan secara terang terangan dan kekerasan. Hanya saja dalam perampokan juga terdapat unsur diam-diam atau secara sembunyi-sembunyi jika dinisbahkan kepada penguasa atau petugas keamanan. Itulah sebabnya hirobah (perampokan) diistilahkan dengan sirqoh kubro atau pencurian berat, untuk membedakan dengan sirqoh sughro atau pencurian.

Disamping sirqoh kubro dan Hirobah, istilah lain yang digunakan untuk jarimah ini adalah qoth’u ath thoriq, seperti yang digunakan oleh Hanafiyah. Hal ini karena tindak pidana perampokan selalu diawali dengan memotong jalan orang yang lewat.

Dalam pembahasan tentang jarimah Hirobah ini, akan dikemukakan beberapa hal, yaitu sebagai berikut.
[1] pengertian atau definisi Hirobah
[2] unsur dan bentuk-bentuk jarimah Hirobah
[3] pelaku Hirobah
[4] syarat-syarat Hirobah

PENGERTIAN HIROBAH

Ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ulama yang apabila dilihat redaksinya terdapat beberapa perbedaan. Namun, inti persoalannya tetap sama.

Menurut Hanafiyah, sebagaimana dikutip oleh Abdul Qodir Awdah, definisi Hirobah adalah;
“Hirobah…adalah keluar untuk mengambil harta dengan jalan kekerasan yang realisasinya menakut-nakuti orang yang lewat di jalan, atau mengambil harta, atau membunuh orang.

Menurut Syafi’iyah definisi Hirobah adalah;
“Hirobah… adalah keluar untuk mengambil harta, atau membunuh, atau menakut-nakuti, dengan cara kekerasan, dengan berperang kepada kekuatan, dan jauh dari pertolongan (bantuan).

Menurut Imam Malik, Hirobah adalah;
“mengambila harta dengan tipuan (taktik), baik menggunakan kekuatan atau tidak.”

Golongan Zhohiriyah memberikan definisi yang lebih umam, dengan menyebut pelaku perampokan sebagai berikut;
“perampok adalah orang yang melakukan tindak kekerasan dan mengintimidasi orang yang lewat, serta melakukan perusakan di muka bumi.”

Imam Ahmad dan Syi’ah Zaydiyah memberikan definisi yang sama dengan definisi yang dikemukakan oleh Hanafiyah, sebagaimana telah disebutkan di atas.

Dari definisi-definisi yang dikemukakan oleh para ulama di atas. Dikemikakan bahwa inti persoalan tindal pidana perampokan adalah keluarnya sekelompok orang dengan maksud untuk mengambil harta secara terang terangan dan kekerasan, apakah dalam realisasinya pengambilan tersebut terjadi atau tidak. Hanya definisi Imam Malik dan Zhohiriyah yang sedikit berbeda. Imam Malik dalam mendefinisikan perampokan lebih mementingkan kekuatan otak, taktik, dan strategi dibandingkan dengan kekuatan fisik. Sedangkan definisi Zhohiriyah sangat umum, sehingga pencurian pun dapat dimasukkan ke dalam tindak pidana perampokan. Meskipun demikian menurut mereka(Zhohiriyah) apabila tindak pidana pencurian dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, atau kemudian ia berzina (memperkosa), atau membunuh, maka hukumannya bukan sebagai perampokan, melainkan dihukum sebagai pencuri, atau pezina, atau pembunuh.

RUKUN DAN BENTUK-BENTUK HIROBAH

Dari definisi yang dikemukakan di atas, dapat diketahui bahwa unsur jarimah Hirobah itu adalah keluar untuk mengambil harta, baik dalam kenyataannya pelakutersebut mengambil harta atau tidak. Di sini terlihat dengan jelas perbedaan antara perampokan dengan pencurian, karena unsur pencurian adalah mengambil harta itu sendiri, sedangkan perampokan adalah tindakan keluar dengan tujuan mengambil harta, yang dalam pelaksanaanya mungkin tidak mengambil harta, melainkan tindakan lain, seperti melakukan intimidasi atau membunuh orang.

Di samping itu dari definisi-definisi yang dikemukakan oleh para ulama di atas, dapat diketahui bahwa bentuk-bentuk tindak pidana perampokan itu ada empat macam yaitu sebagai berikut;
[1] keluar untuk mengambil harta secara kekerasan, kemudian pelaku hanya melakukan intimidasi, tanpa mengambil harta dan tanpa mebunuh.
[2] keluar untuk mengambil harta secara kekerasan, kemudian ia mengambil harta tanpa membunuh.
[3] keluar untuk mengambil harta secara kekerasan, kemudian ia melakukan pembunuhan tanpa mengambil harta.
[4] keluar untuk mengambila harta secara kekerasan, kemudian ia mengambil harta dan melakukan pembunuhan.

Apabila seseorang melakukan salah satu dari keempat bentuk tindak pidana perampokan tersebut maka ia dianggap sebagai perampok selagi ia keluar dengan tujuan mengambil harta dengan kekerasan. Akan tetapi apabila seseorang keluar dengan tujuan mengambil harta, namun ia tidak melakukan intimidasi, dan tidak mengambil harta, serta tidak melakukan pembunuhan maka ia tidak dianggap sebagai perampok, walaupun perbuatan itu tidak dibenarkan, dan termasuk maksiat yang dikenakan hukuman ta’zir.

PELAKU HIROBAH DAN SYARAT-SYARATNYA

Hirobah atau perampokan dapat dilakukan oleh kelompok, maupun perorangan (individu) yang mempunyai kemampuan untuk melakukannya. Untuk menunjukkan kemampuan ini, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad mensyaratkan bahwa pelaku tersebut harus memiliki dan menggunakan senjata atau alat lain yang disamakan dengan senjata, seperti tongkat, kayu, atau batu. Akan tetapi Imam Malik, Imam Syafi’i dan Zhohiriyah, serta Syi’ah Zaydiyah tidak mensyaratkan adanya senjata, melainkan cukup berpegang pada kekuatan dan kemampuan fisik. Bahkan Imam Malik mencukupkan dengan digunakannya tipu daya, taktik atau strategi, tanpa menggunakan kekuatan, atau dalam keadaan tertentu dengan menggunakan anggota badan, seperti tangan dan kaki.

Para ulama berbeda pendapat mengenai pelaku jarimah Hirobah ini. Menurut Hanafiyah, pelaku Hirobah adalah setiap orang yang melakukan secara langsung atau tidak langsung perbuatan tersebut. Dengan demikian menurut mereka (Hanafiyah) orang yang ikut terjun secara langsung dalam mengambil harta, membunuh atau mengintimidasi termasuk pelaku perampokan demikian pula orang yang ikut memberikan bantuan, baik dengan cara permufakatan, suruhan, maupun pertolongan, juga termasuk pelaku perampokan. Pendapat Hanafiyah ini disepakati oleh Imam Malik, Imam Ahmad, dan Zhohiriyah. Akan tetapi Imam Syafi’i berpendapat bahwa yang dianggap sebagai pelaku perampokan adalah orang yang secara langsung melakukan prampokan. Sedangkan orang yang tidak ikut terjun melakukan perbuatan, walaupun ia hadir di tempat kejadian, tidak dianggap sebagai pelaku perampokan, melainkan hanya sebagai pembantu yang diancam dengan hukuman ta’zir.

Untuk dapat dikenakan hukuman had, pelaku disyaratkan harus mukalaf, yaitu baligh dan berakal. Hal ini merupakan persyaratan umum yang berlaku untuk semua jarimah, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud.
Dari Aisyah r.a ia berkata telah bersabda Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam ; “dihapuskan ketentuan dari tiga hal dari orang yang tidur sampai ia bangun, dari orang gila sampai ia sembuh, dan dari anak kecil sampai ia dewasa.”

Disamping itu, Imam Abu Hanifah juga mensyaratkan pelaku Hirobah harus laki-laki. Dengan demikian apabila diantara para peserta pelaku Hirobah terdapat seorang perempuan maka ia tidak dikenakan hukuman had. Akan tetapi Imam Ath Thohawi menyatakan bahwa perempuan dan laki-laki dalam tindak pidana ini sama statusnya. Dengan demikian perempuan yang ikut serta dalam melakukan perampokan tetap harus dikenai hukuman had. Manurut Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Zhohiriyah, dan Syi’ah Zaydiyah, perempuan yang turut serta melakukan perampokan tetap harus dikenakan hukuman. Dengan demikian mereka tidak membedakan antara pelaku laki-laki dan pelaku perempuan, seperti halnya dalam jarimah hudud yang lain.

Persyeratan lain yang menyangkut jarimah Hirobah ini adalah persyaratan tentang harta yang diambil. Pada prinsipnya persyaratan untuk harta dalam jarimah Hirobah, sama dengan persyaratan yang berlaku dalam jarimah pencurian. Secara global, syarat tersebut adalah barang yang diambil harus tersimpan (muhroz), mutaqowwim, milik orang lain, tidak ada syubhat, dan memenuhi nishob. Hanya saja syarat nishob ini ada perbedaan pendapat pada para fuqoha. Imam Malik berpendapat, dalam jarimah Hirobah tidak disyaratkan nishob untuk barang yang diambil. Pendapat ini diikuti oleh sebagian fuqoha Syafi’iyah. Imam Ahmad dan Syi’ah Zaydiyah berpendapat bahwa dalam jarimah Hirobah juga berlaku nishob dalam harta yang diambil oleh semua pelaku secara keseluruhan, dan tidak memperhitungkan perolehan perorangan. Dengan demikian meskipun pembagian harta untuk masing-masing peserta (pelaku) tidak mencapai nishob, semua pelaku tetap harus dikenai hukuman had. Imam Abu Hanifah ddan sebagian Syafi’iyah berpendapat bahwa perhitungan nishob bukan secara keseluruhan pelaku, melainkan secara perorangan. Dengan demikian, apabila harta yang diterima oleh masing-masing peserta itu tidak mencapai nishob maka pelaku tersebut tidak dikenakan hukuman had sebagai pengambil harta. Hanya saja dalam hal ini perlu diingat adanya perbedaan pendapat antara Hanafiyah dan Syafi’iyah mengenai pelaku jarimah Hirobah sebagaimana telah dikemukakan dalam artikel yang lalu. Disamping itu juga perlu diperhatikan perbedaan antara kedua kelompok tersebut mengenai ukuran nishob pencurian.

Persyaratan lain untuk dapat dikenakannya hukuma had dalam jarimah Hirobah ini adalah menyangkut tempat dilakukannya jarimah Hirobah. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:
[1] jarimah Hirobah harus terjadi di negeri Islam. Pendapat ini dikemukakan oleh Hanafiyah. Dengan demikian apabila jarimah Hirobah (perampokan) terjadi di luar negeri Islam (darul harb) maka pelaku tersebut tidak dikenai hukuman had. Akan tetapi jumhur ulama yang terdiri atas Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan Zhohiriyah tidak mensyaratkan hal ini. Dengan demikian menurut jumhur, pelaku tersebut tetap dikenakan hukuman had, baik jarimah Hirobah terjadi di darul Islam maupun darul harb.
[2] perampokan harus terjadi di luar kota, jauh dari keramaian. Pendapat ini dikemukakan oleh Hanafiyah. Akan tetapi Malikiyah, Syafi’iyah, Hanabillah, dan Imam Abu Yusuf tidak mensyaratkan hal ini. Dengan demikian menurut mereka (jumhur), perampokan yang terjadi di dalam kota dan luar kota hukumnya sama, yaitu bahwasanya pelaku harus dikenakan hukuman had.
[3] Malikiyah dan Syafi’iyah mensyaratkan adanya kesulitan atau kendala untuk meminta pertolongan. Sulitnya pertolonga tersebut mungkin karena peristiwanya terjadi di luar kota, lemahnya petugas keamanan, atau karena upaya penghadangan oleh perampok, atau karena korban tidak mau meminta pertolongan pada pihak keamanan, karena berbagai pertimbangan. Dengan demikian, apabila upaya dan kemungkinan pertolongan mudah dilakukan maka para pelaku tidak dikenakan hukuman.

Selain persyaratan-persyaratan yang telah dikemukakan di atas, terdapat pula persyaratan yang berkaitan dengan korban. Para ulama sepakat bahwa orang yang menjadi korban perampokan adalah orang yang ma’shumud dam, yaitu orang yang dijamin keselamatan harta dan jiwanya oleh Islam. Orang tersebut adalah muslim dan ahludz dzimmi (non muslim yang dilindungi Islam). Orang Islam dijamin karena keIslamannya, sedangkan ahludz dzimmi dijamin berdasarkan perjanjian keamanan. Non muslim musta’man (mu’ahad) sebenarnya juga orang yang mendapatkan jaminan, tetapi karena jaminannya tidak mutlak maka hukuman had terhadap pelaku perampokan atas musta’man ini terdapat beda pendapat oleh para fuqoha. Menurut Hanafiyah perampokan terhadap musta’man tidak dikenakan hukuman had.


SUMBER

Muslich, Ahmad Wardi. 2005. Hukum Pidana Islam. Jakarta. Sinar Grafika.

About ngobrolislami

hamba ALLAH
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM JARIMAH HIROBAH

  1. sesukakita says:

    terimakasih isi wordpressnya membantu sy dalam mengerjakan tugas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s