KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: PEMBUKTIAN UNTUK TINDAK PIDANA PENCURIAN

Tindak pidana pencurian dapat dibuktikan dengan tiga macam alat bukti, yaitu; dengan saksi, pengakuan dan sumpah.

[1] dengan saksi
Saksi yang diperlukan untuk membuktikan tindak pidana pencurian, minimal dua orang laki-laki atau satu orang laki-laki dan dua orang perempuan. Apabila saksi kurang dari dua orang, maka pencuri tidak dikenai hukuman. Syarat-syarat saksi dalam tindak pidana pencurian ini pada umumnya sama dengan syarat-syarat saksi dalam jarimah zina.

Imam Abu Hanifah menambah persyaratan yaitu bahwa persaksian tersebut belum kedaluarsa. Namun demikian, hal itu tidak menghalangi pengembalian barang yang dicuri atau harganya. Akan tetapi ulama-ulama yang lain tidak mengakui syarat kedaluarsa ini. Dengan demikian menurut mereka (selain Hanafiyah) persaksian tetap diterima baik kedaluarsa atau tidak.

Disamping itu, Imam Abu Hanifah juga mensyaratkan untuk diterimanya persaksian, adanya pengaduan atau tuntutan dari orang yang memiliki atau menguasai barang yang dicuri. Akan tetapi, ulama-ulama yang lain tidak mensyaratkan hal tersebut.

[2] dengan pengakuan
Pengakuan merupakan salah satu alat bukti untuk tindak pidana pencurian. Menurut Zhohiriyah, pengakuan cukup dinyatakan satu kali dan tidak perlu diulang-ulang. Demikian pula pendapat Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Syafi’i. Akan tetapi Imam Abu Yusuf, Imam Ahmad, dan Syi’ah Zaydiyah berpendapat bahwa pengakuan harus dinyatakan sebanyak dua kali.

[3] dengan sumpah
Di kalangan Syafi’iyah berkembang suatu pendapat bahwa pencurian bisa dibuktikan dengan sumpah yang dikembalikan. Apabila dalam suatu peristiwa pencurian tidak ada saksi dan tersangka tidak mengakui perbuatanya maka korban dapat meminta tersangka untuk bersumpah bahwa ia tidak melakukan pencurian. Apabila tersangka enggan bersumpah maka sumpah dikembalikan kepada penuntut (pemilik barang). Apabila pemilik barang mau bersumpah maka tindak pidana pencurian bisa dibuktikan dengan sumpah tersebut dan keengganan bersumpah tersangka, sehingga ia (tersangka) dikenai hukuman had. Akan tetapi pendapat yang kuat di kalangan Syafi’iyah dan ulama-ulama tidak menggunakan sumpah yang dikembalikan sebagai alat bukti untuk tindak pidana pencurian.

Menurut Ahmad Wardi, penggunaan sumpah yang dikembalikan (Al Yaminul Mardudah) sebagai alat bukti untuk tindak pidana pencurian merupakan tindakan yang riskan dan kurang tepat, karena hukuman untuk tindak pidana ini sangat berat sehingga diperlukan ketelitian dan kecermatan dalam pembuktiannya.


SUMBER

Muslich, Ahmad Wardi. 2005. Hukum Pidana Islam. Jakarta. Sinar Grafika.

About ngobrolislami

hamba ALLAH
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s