KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: TINDAK PIDANA ATAS JIWA (PEMBUNUHAN)

SEJARAH TERJADINYA PEMBUNUHAN

Peembunuhan pertama dalam kehidupan manusia adalah pembunuhan yang dilakukan Qobil terhadap Habil. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh ALLOH dalam Al Qur’an surat Al Maaidah ayat 27 sampai dengan 31

“Maka hawa nafsu Qobil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi.”
{Terjemahan Al Qur’an Surat Al Maaidah [5]:30}

Dalam ayat selanjutnya ALLOH menjelaskan bahwa pembunuhan tanpa alasan terhadap seseorang berarti sama dengan membunuh menusia secara keseluruhan.dalam ayat 32 disebutkan sebagai berikut (yang artinya):
“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain , atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya . Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”
{Terjemahan Al Qur’an Surat Al Maaidah [5]:32}

Demikian beratnya akibat dari pembunuhan seperti yang dilukiskan dalam surat Al Maaidah ayat 32 di atas, dalam ayat yang lain ALLOH subhanahu wa ta’ala menetapkan hukuman mati sebagai hukuman yang setimpal dengan perbuatan membunuh. Dalam surat Al Maaidah ayat 45 ALLOH berfirman (yang artinya):
“Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya.”
{Terjemahan Al Qur’an Surat Al Maaidah [5]:45}

Pembunuhan dengan ancaman hukuman mati juga dikenal dalam beberapa agama baik Injil, Taurat, maupun Al Qur’an. Demikian pula dalam hukum Romawi dengan sedikit perbedaan karena diskriminasi, sesuai dengan tingkatan kelas pada saat itu. Dalam hukum Romawi, apabila pelaku pembunuhan itu seorang bangsawan atau pejabat, ia bisa dibebaskan dari hukuman mati dan sebagai gantinya ia dikenakan hukuman pengasingan. Kalau pelakunya kelas menengah maka ia dikenakan hukuman mati dengan jalan potong leher (dipenggal). Sedangkan untuk kelas rakyat jelata, ia disalib, kemudian hukuman itu diubah menjadi diadu dengan binatang buas, kemudian diubah lagi dengan jalan di gantung.

DEFINISI PEMBUNUHAN DAN DASAR HUKUMNYA

Pembunuhan dalam bahasa Indonesia diartikan dengan proses, perbuatan, atau cara membunuh. Sedangkan pengertian membunuh adalah mematikan menghilangkan (menghabisi; mencabut) nyawa.

Dalam bahasa arab, pembunuhan disebut “Al Qotl” berasal dari kata “qotal” yang sinonimnya “amaat” artinya mematikan.

Dalam arti istilah, pembunuhan didefinisikan oleh Wahbah Zuhayli yang mengutip pendapat Syarbini Khotib sebagai berikut;
“pembunuhan adalah perbuatan yang menghilangkan atau mencabut nyawa seseorang.”

Abdul Qodir Awdah memberikan definisi pembunuhan sebagai berikut;
“pembunuhan adalah perbuatan menusia yang menghilangkan kehidupan yakni pembunuhan itu adalah menghilangkan nyawa manusia dengan sebab perbuatan menusia lain.”
Dari definisi tersebut dapat diambil intisari bahwa pembunuhan adalah perbuatan seseorang terhadap orang lain yang mengakibatkan hilangnya nyawa, baik perbuatan tersebut dilakukan dengan sengaja maupun tidak senagaja.
-\
Pembunuhan merupakan perbuatan yang dilarang oleh Syaro’. Hal ini dijelaskan ALLOH dalam Al Qur’an;

1) surat Al An’aam ayat 151
“… dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan ALLOH (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar…”
{Terjemahan Al Qur’an Surat Al An’aam [6]:151}

2) surat Al Isroo’ ayat 31
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”
{Terjemahan Al Qur’an Surat Al Isroo’ [17]:31}

3) surat Al Isroo’ ayat 33
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan ALLOH (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar…”
{Terjemahan Al Qur’an Surat Al Isroo’ [17]:33}

4) surat Al Furqoon ayat 68
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta ALLOH dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan ALLOH (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar…”
{Terjemahan Al Qur’an Surat Al Furqoon [25]:68}

Larangan membunuh juga terdapat dalam beberapa Hadis nabi. Antara lain Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim:
Dari ibnu Mas’ud r.a ia berkata Rosululloh telah bersabda;
“tidak halal darah seorang Muslim yang telah menyaksikan bahwa tidak ada tuhan melainkan ALLOH dan bahwa aku utusan ALLOH, kecuali dengan salah satu dari tiga perkara, pezina muhshon, membunuh, orang yang meninggalkan agamanya yang memisahkan diri dari jama’ah.”

Dari beberapa ayat Al Qur’an dan Hadis tersebut, jelaslah bahwa pembunuhan merupakan perbuatan yang dilarang oleh Syaro’, kecuali ada alasan yang dibenarkan oleh hukum Syaro’.

MACAM-MACAM PEMBUNUHAN

Pembunuhan secara garis besar dapat dibagi kepada dua bagian sebagai berikut.

1) pembunuhan yang dilarang, yaitu pembunuhan yang dilakukan dengan melawan hukum.
2) pembunuhan dengan hak, yaitu pembunuhan yang dilekukan dengan tidak melawan hukum, seperti membunuh orang murtad.

Pembunuhan yang dilarang dapat dibagin kepada beberapa bagian. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat sebagai berikut;
[1] menurut Imam Malik, pembunuhan dibagi kepada dua bagian, yaitu
a. pembunuhan sengaja
b. pembunuhan karena kesalahan
[2] menurut jumhur fuqoha pembunuhan dibagi kepada taiga bagian, yaitu
a. pembunuhan sengaja
b. pembunuhan menyerupai sengaja
c. pembunuhan karena kesalahan

Sebenarnya masih ada pendapat lain yang membagi pembunuhan kepada empat dan lima bagian, namun apabila diperhatikan, pembagian tersebut hanyalah pengembangan dari pembagian yang dikemukakan oleh jumhur fuqoha.

[1] pembunuhan sengaja
Pembunuhan sengaja sebagaimana dikemukakan oleh Abdul Qodir Awdah adalah
“pembunuhan sengaja adalah suatu pembunuhan di mana perbuatan yang mengakibatkan hilangnya nyawa itudisertai dengan niat untuk membunuh korban.”

Dalam redaksi yang lain, Sayid Sabiq memberikan definisi pembunuhan sengaja sebagai berikut;
“pembunuhan sengaja adalah suatu pembunuhan dimana seorang mukalaf sengaja untuk membunuh orang lain yang dijamin keselamatannya, dengan menggunakan alat yang menurut dugaan kuat dapat membunuh.”

Dari dua definisi tersebut dapat diambil intisari bahwa pembunuhan sengaja adalah suatu pembunuhan dimana pelaku perbuatan tersebut sengaja melakukan suatu perbuatan dan dia menghendaki akibat dari perbuatannya, yaitu matinya orang yang menjadi korban. Sebagai indikator kesengajaan untuk membunuh tersebut dapat dilihat dari alat yang digunakannya. Dalam hal ini alat yang digunakan untuk membunuh adalah alat galibnya (lumrahnya) dapat mematikan korban, seperti senjata api, senjata tajam, dan sebagainya.

Dari definisi yang dikemukakan diatas dapat diketahui bahwa unsur-unsur pembunuhan sengaja itu ada tiga macam yaitu sebagai berikut;

► korban yang dibunuh adalah manusia yang hidup
Salah satu unsur dari pembunuhan sengaja adalah korban harus berupa manusia yang hidup. Dengan demikian apabila korban bukan manusia atau manusia tetapi ia sudah meninggal lebih dahulu maka pelaku bisa dibebaskan dari hukuman qishosh atau dari hukuman hukuman yang lain. Akan tetapi apabila korban dibunuh dalam keadaan sekarat maka pelaku dapat dikenakan hukuman, karena orang yang sedang sekarat termasuk masih hidup. Kalau korban itu janin yang masih dalam kandungan, maka ia belum dianggap manusia yang hidup mandiri, sehingga kasus seperti ini dikelompokkan dalam jarimah tersendiri.

Di samping syarat hidup, korban harus orang yang memperoleh jaminan keselamatan dari Islam, baik jaminan tersebut diperoleh dari cara iman, maupun dengan jalan perjanjian keamanan, seperti ahludz dzimmah dan musta’man. Apabila korban bukan orang yang dijamin keselamatannya, seperti ahlul harbi atau seorang Muslim yang melakuka tindak pidan yang diancam dengan hukuman mati, pelaku tidak dikenai hukuman qishosh.

► kematian adalah hasil dari perbuatan pelaku
Antara perbuatan dan kematian terdapat hubungan sebab akibat. Yaitu bahwa kematian yang terjadi merupakan akibat dari perbuatan yang dilakukan oleh pelaku. Apabila hubungan tersebut terputus, artinya kematian disebabkan oleh hal lain, maka pelaku tidak dianggap sebagai pembunuh sengaja.

Jenis perbuatan yang dilakukan oleh pelaku bisa bermacam macam, seperti pemukulan, penembakan, penusukan, pembakaran, peracunan, dan sebagainya. Sedangkan alat yang digunakan adalah alat yang pada galibnya (umumnya) bisa mematikan. Akan tetapi menurut Imam Malik, setiap alat dan cara apa saja yang mengakibatkan kematian, dianggap sebagai pembunuhan sengaja apabila perbuatan dilakukan dengan sengaja.

► pelaku tersebut menghendaki terjadinya kematian
Pembunuhan dianggap sebagai pembunuhan sengaja apabila dalam diri pelaku terdapat niat untuk membunuh korban, bukan hanya kesengajaan dalam perbuatannya. Niat untuk membunuh inilah yang membedakan antara pembunuhan sengaja dengan pembunuhan menyerupai sengaja. Pendapat ini dikemukakan oleh jumhur fuqoha yang terdiri atas Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad ibn Hanbal.

Akan tetapi menurut Imam Malik, niat membunuh itu tidak penting. Dalam pembunuhan sengaja yang penting adalah apakah perbuatannya itu sengaja atau tidak. Apabila pelaku sengaja melakukan pemukulan misalnya, meskipun tidak ada maksud untuk membunuh korban maka perbuatnnya itu sudah termasuk pembunuhan sengaja. Dalam hal ini Imam Malik tidak mengenal pembunuhan menyerupai sengaja. Oleh karena itu, menurut beliau, alat yang digunakan untuk membunuh tidak menjadi indikator untuk pembunuhan sengaja. Walaupun alat yang digunakan itu pistol, pisau, atau ranting, statusnya sama kalau perbuatannya sengaja dan mengakibatkan korbannya mati.

[2] pembunuhan menyerupai sengaja
Menurut Hanafiyah, seperti dikutip oleh Abdul Qodir Awdah, pengertian pembunuhan menyerupai sengaja adalah sebagai berikut:
“pembunuhan menyerupai sengaja adalah suatu pembunuhan dimana pelaku sengaja memukul korban dengan tongkat, cambuk, batu, tangan atau benda lain yang mengakibatkan kematian.”

Menurut definisi ini pembunuhan menyerupai sengaja memiliki unsur, yaitu unsur kesengajaan dan unsur kekeliruan. Unsur kesengajaan terlihat dalam kesengajaan berbuat berupa pemukulan. Unsur kekeliruan terlihat dalam ketiadaan niat membunuh. Dengan demikian pembunuhan tersebut menyerupai sengaja karena adanya kesengajaan dalam berbuat.

Menurut Syafi’iyah, seperti juga dikutip oleh Abdul Qodir Awdah, pengertian pembunuhan menyerupai sengaja adalah sebagai berikut;
“pembunuhan menyerupai sengaja adalah suatu pembunuhan dimana pelaku sengaja dalam perbuatan, tetapi keliru dalam pembunuhan.”

Menurut Hanabilah, pengertian pembunuhan menyerupai sengaja adalah sebagai berikut;
“pembunuhan menyerupai sengaja adalah sengaja dalam melakukan perbuatan yang dilarang, dengan alat yang pada galibnya tidak akan mematikan, namun kenyataannya korban mati karenanya.”

Dari definisi yang dikemukakan diatas dapat diambil intisari bahwa dalam pembunuhan menyerupai sengaja, perbuatan memang dilakukan dengan sengaja tetapi tidak ada niat dalam diri pelaku untuk membunuh korban. Sebagai bukti tentang tidak adanya niat membunuh tersebut dapat dilihat dari alat yang digunakan. Apabila alat tersebut pada umumnya tidak mematikan, seperti tongkat ranting kayu, batu kerikil, atau sapu lidi maka pembunuhan yang terjadi merupakan pembunuhan menyerupai sengaja. Akan tetapi juka alat yang digunakan pada umumnya mematikan, seperti senjata api, senjata tajam, atau racun maka pembunuhan tersebut merupakan pembunuhan sengaja.

Dari definisi yang telah dikemukakan diatas dapat diketahui bahwa unsur-unsur pembunuhan menyerupai sengaja itu ada tiga macam:

► adanya perbuatan dari pelaku yang mengakibatkan kematian
Untuk terpenuhinya unsur ini disyaratkan bahwa pelaku melakukan perbuatanyang mengakibatkan kematian korban, baik berupa pemukulan, pelukaan, atau lainnya. Adapun alat atau cara yang digunakan tidak tertentu. Artinya kadang-kadang bisa saja tanpa menggunakan alat, malainkan hanya menggunakan tangan dan kadang-kadang menggunakan alat, seperti kayu, rotan, tongkat, batu, atau cambuk.

Disamping itu disyaratkan perbuatan yang dilakukan adalah perbuatan yang dilarang. Apabila perbuatan bukan perbuatan yang dilarang, yaitu mubah maka termasuk pembunuhan karena kesalahan.

Disamping itu juga disyaratkan, korban yang dibunuh harus orang yang dijamin keselamatannya oleh Islam, baik karena Muslim atau non Muslim yang mengadakan perjanjian keamanan dengan negara Islam

►adanya kesalahan dalam melakukan perbuatan
Dalam pembunuhan menyerupai sengaja disyaratkan adanya kesengajaan dari pelaku untuk melakukan perbuatan yang kemudian mengakibatan matinya korban, tetapi bukan kesengajaan membunuh. Disinilah letak perbedaan antara pembunuhan sengaja dengan pembunuhan menyerupai sengaja. Dalam pembunuhan sengaja, niat untuk membunuh korban merupakan unsur yang sangat penting, sementara dalam pembunuhan menyerupai sengaja, niat untuk membunuh korban tidak ada. Akan tetapi, karena niat ini ada dalam hati dan tidak dapat dilihat oleh mata maka indikatornya adalah alat yang digunakan

►kematian adalah akibat perbuatan pelaku
Antara kematian pelaku dan perbuatan korban terdapat hubungan sebab akibat. Yaitu bahwa kematian yang terjadi merupakan akibat dari perbuatan yang dilakukan oleh pelaku. Apabila hubungan tersebut terputus, artinya kematian disebabkan oleh hal lain, pelaku tidak dianggap sebagai pembunuh, melainkan hanya sebagai pelakupemukulan atau pelukaan.

[3] pembunuhan karena kesalahan
Pengertian pembunuhan karena kesalahan sebagaimana telah dikemukakan oleh Sayid Sabiq adalah sebagai berikut.
“pembunuhan karena kesalahan adalah apabila seorang mukalaf melakukan perbuatan yang diperbolehkan untuk dikerjakan, seperti menembak binatang buruan atau membidik suatu sasaran tetapi kemudian mengenai orang yang dijamin keselamatannya dan membunuhnya.

Wahbah Zuhayli memberikan definisi pembunuhan karena kesalahan sebagai berikut;
“pembunuhan karena kesalahan adalah pembunuhan yang terjadi tanpa maksud melawan hukum, baik dalam perbuatan maupun objeknya.”

Dari definisi yang dikemukakan diatas, dapat diambil intisari bahwa dalam pembunuhan tanpa kesalahan, sama sekali tidak ada unsur kesengajaan untuk melakukan perbuatan yang dilarang, dan tindak pidana pembunuhan terjadi karena kurang hati-hati atau karena kelalaian dari pelaku. Perbuatan yang sengaja dilakukan sebenarnya adalah perbuatan mubah, tetapi karena kelalaian pelaku, dari perbuatan mubah tersebut timbul suatu akibat yang dikatagorikan sebagai tindak pidana. Dalam hal ini pelaku tetap dipersalahkan, karena ia lalai atau kurang hati-hati sehingga mengakibatkanhilangnya nyawa orang lain

Kekeliruan dalam pembunuhan itu ada dua macam;
► pembunuhan karena kekeliruan semata-mata
► pembunuhan yang disamakan / dikategorikan dengan kekeliruan

Pembunuhan Karena kekeliruan semata, didefinisikan oleh Abdul Qodir Awdah sebagai berikut;
“pembunuhan karena kekeliruan semata-mata adalah suatu pembunuhan di mana pelaku sengaja melakukan suatu perbuatan, tetapi tidak ada maksud untuk mengenai orang, melainkan terjadi kekeliruan, baik dalam perbuatannya maupun dalam dugaannya.”

Pembunuhan yang dikategorikan kepada kekeliruan adalah sebagai berikut;
“suatu pembunuhan dimana pelaku tidak mempunyai maksud untuk melakukan perbuatan dan tidak menghendaki akibatnya.”

Dalam kekeliruan macam yang pertama, pelaku sadar dalam melakukan perbuatannya, tetapi tidak mempunyai niat untuk mencelakai orang. Dalam kekeliruan macam yang kedua, pelaku sama sekali tidak menyadari perbuatannya dan sama sekali tidak ada niat untuk mencelakai orang, tetapi karena kelalaian tetapi karena kelalaian dan kekurang hati-hatiannya, perbuatan itu mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Oleh karena itu, pelaku tetap dibebani pertanggung jawaban pidana karena kelalaiannya. Contoh kekeliruan yang pertama adalah seorang pemburu yang menembak sasarannya berupa kijang tetapi pelurunya menyimpang mengenai orang dan membunuhnya. Atau seperti seorang pemburu melihat sesuatu yang bergerak dibalik semak-semak dan ia menyangka sebagai kijang atau binatang buruan, kemudian ia menembaknya tanpaberpikir panjang lagi. Setelah diperiksa ternyata yang ditembaknya itu adalah manusia dan mati akibat tembakannya. Contoh kekeliruan macam kedua adalah seperti seseorang yang menggali parit di tengah jalan dengan tidak memberi rambu-rambu dan akibatnya pada malam hari seorang pengendara sepeda motor terjatuh dan kemudian meninggal dunia.

Para fuqoha menetapkan dua kaidah untuk menentukan apakah pelaku tindak pidana karena kesalahan dibebani pertanggungjawaban atau tidak. Dua kaidah tersebut adalah sebagai berikut;
► setiap perbuatan yang menimbulkan kerugian pada pihak lain dikenakan pertanggungjawaban atas pelakunya apabila kerugian tersebut dapatdihindari dengan jalan hati-hati. Apabila kerugian tersebut tidak mungkin dihinari secara mutlak, pelaku perbuatan itu tidak dibebani pertanggungawaban. Sebagai contoh dapat dikemikakan, seseorang yang mengendarai mobil dijalan umum, kemudian ia menabrak orang hingga mati maka ia dikenakan pertanggungjawaban, karena ia bisa hati-hati, dan kemungkinan menghindari akibat tersebut masih bisa, tetapi ia tidak melakukannya. Akan tetapi jika seseorang megendarai mobil dan debunya yang terbang karena angin yang ditimbulkan menegnai mata orang yang lewat, sampai mengakibatkan buta maka pengendara tersebut tidak dibebani pertanggungawaban, karena menghindari debu dari kendaraan yang berjalan, sulit dilakukan oleh pengendara itu.

► apabila suatu perbuatan tidak dibenarkan oleh Syaro’ dan dilakukan tanpa darurat yang mendesak, hal itu merupakan perbuatan yang melampaui batas tanpa darurat, dan akibat yang timbul daripadanya dikenakan pertanggungjawaban bagi pelakunya, baik akibat tersebut bisa dihindari atau tidak. Sebagai contoh dapat dikemukakan, apabila seseorang memarkir kendaraan di pinggir (bahu) jalan yang disana terdapat larangan parkir, dan akibatnya jalan tersebut menjadi sempit, sehingga terjadilah tabrakan antara kendaraan yang lewat dan diantara penumpang ada yang mati maka pemilik kendaraan yang diparkir di tempat terlarang tersebut dapat dikenakan pertanggungjawaban, karena perbuatan memarkir kendaraan di tempat tersebut tidak dibenarkan.

Unsur-unsur pembunuhan karena kesalahan, sebagaimana dikemukakan oleh Abdul Qodir Awdah, ada tiga bagian;
► adanya perbuatan yang mengakibatkan matinya korban.
► perbuatan tersebut terjadi karena kesaahhan (kelalaian) pelaku
► antara perbuatan kekeliruan dan kematian korban terdapat hubungan sebab akibat

Ketiga unsur pembunuhan karena kesalahan ini dijelaskan dalam uraian di bawah ini

► adanya perbuatan yang mengakibatkan matinya korban.
Untuk terwujudnya tindak pidana pembunuhan karena kesalahan, disyaratkanadanya perbuatan yang dilakukan oleh pelaku terhadap korban, baik ia menghendaki perbuatan tersebut maupun tidak. Perbuatan tersebut tidak disyaratkan harus tertentu, seperti pelukaan, melainkan perbuatan apa saja yang mengakibatkan kematian, seperti membuang air panas, melemparkan batu, menggali sumur atau parit.

Disamping itu perbuatan tersebut bisa langsung (mubasyir) dan bisa juga tidak langsung (bittasabbub). Contoh perbuatan langsung seperti menembak kijang (binatang buruan) tetapi pelurunya mengenai orang dan meninggal dunia. Contoh perbuatan yang tidak langsung seperti orang yang menggali saluran air ditengah jalan dan tidak diberi rambu-rambu, sehingga mobil yang lewat malam hari terjungkal dan pengemudinya mati.

Perbuatan tersebut bisa positif dan bisa juga negatif. Contoh perbuatan positif, seperti melemparkan batu dengan maksud untuk membuangnya, tetapi batu tersebut menimpa kepala orang yang lewat, sehingga ia mati. Contoh perbuatan negatif seperti membiarkan tembok yang sudah miring tanpa diperbaiki, kemudian tembok tersebut roboh dan menimpa anak-anak dan mereka mati.

Perbuatan tersebut disyaratkan menyebabkan kematian, baik pada saat itu maupun sesudahnya. Apabila korban tidak mati, tindak pidana tersebut termasuk tindak pidana atas selain jiwa karena kesalahan. Disamping itu juga disyaratkan korban harus orang yang dijamin keselamatannya oleh negara Islam.

► perbuatan tersebut terjadi karena kekeliruan (Khotho’)
Kekeliruan (al-Khotho’) merupakan unsur yang berlaku untuk semua jarimah. Apabila unsur kekeliruan ini terdapat maka tidak ada hukuman bagi pelaku.

Unsur kekeliruan ini terdapat apabila dari suatu perbuatan timbul akibat yang tidak dikehendaki oleh pelaku, baik perbuatan itu langsung atau tidak langsung, dikehendaki pelaku atau tidak. Dengan demikian dalam pembunuhan karena kekeliruan, kematian terjadi sebagai akibat kelalaian pelaku atau karena kurang hati-hatinya, atau karena perbuatan itu melanggar peraturan pemerintah.

Ketidak hati-hatian itu sendiri pada dasarnya tidak menyebabkan adanya hukuman, kecuali apabila hal itu menimbulkan kerugian kepada pihak lain. Dengan demikian apabila terdapat kerugian (dhoror) maka terdapatlah pertanggungjawaban dari kekeliruan, dan apabila tidak ada kerugian (dhoror), maka tidak adapertanggungjawaban.

Ukuran kekeliruan (al Khotho’) dalam syariat Islam adalah tidak adanya kehati-hatian. Dengan demikian, semua bentuk ketidak hati-hatian dan tindakanmelampaui batas serta istilah-istilah lain yang artinya sama, semuanya itu termasuk kedalam kelompok kekeliruan.

► antara perbuatan kekeliruan dan kematian korban terdapat hubungan sebab akibat
Untuk adanya pertanggungjawaban bagi pelaku dalam pembunuhan karena kekeliruan, disyaratkan bahwa kematian merupakan akibat dari kekeliruan tersebut. Artinya kekeliruan (al-Khotho’) merupakan penyebab (illat)bagi kematian tersebut. Dengan demikian antara kekeliruan (al-Khotho’) dan kematian terdapat hubungan sebab akibat. Apabila hubungan tersebut terputus maka tidak ada pertanggungjawaban bagi pelaku.

Hubungan sebab akibat dianggap ada, manakala pelaku menjadi penyebab dari perbuatan yang mengakibatkan kematian tersebut, baik kematian itu sebagai akibat langsung perbuatan pelaku, maupaun akibat langsung perbuatan pihak lain. Sebagai contoh dari perbuatan pihak lain seperti seseorang yang memberi upah orang lain untuk membuat saluran (galian) di tengah jalan, lalu ada orang jatuh kedalamnya dan mati. Dalam contoh ini orang yang menyuruh (memberi upah) itulah yang harus bertanggungjawab atas akibat yang terjadi.


SUMBER

Muslich, Ahmad Wardi. 2005. Hukum Pidana Islam. Jakarta. Sinar Grafika.

About ngobrolislami

hamba ALLAH
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s