KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: HAL HAL YANG MENGGUGURKAN HUKUMAN QISHOSH

Hukuman qishosh dapat gugur karena salah satu dari empat sebab, sebagai berikut;

[1] Hilangnya Objek Qishosh
Objek qishosh dalam tindak pidana pembunuhan adalah nyawa pelaku pembunuhan. Apabila objek qishosh tidak ada, karena pelaku meninggal dunia, dengan sendirinya hukuman qishosh menjadi gugur. Hanya saja yang menjadi masalah disini adalah apakah setelah meninggalnya terhukum, ia masih dibebani kewajiban membayar diat atau tidak? Menurut Hanafiyah dan Malikiyah, sebagaimana yang dikutip oleh Wahbah Zuhayli, apabila qishosh gugur karena meninggalnya pelaku, ia tidak diwajibkan untuk membayar diat. Alasannya adalah karena qishosh merupakan wajib ain. Apabila pelaku meninggal, kewajiban tersebut menjadi gugur, dan wali (keluarga) korban tidak berhak untuk mengambil diat kecuali dengan persetujuan pelaku.

Menurut Hanabilah, apabila qishosh gugur karena meninggalnya pelaku, wali masih berhak memilih diat. Hal ini karena kewajiban yang dibebankan karena pembunuhan sengaja adalah salah satu dari dua perkara, yaitu qishosh atau diat. Apabila wali korban memilih untuk mengambil diat, diat tersebut wajib dibayar walaupun pelaku tidak menyetujuinya. Menurut mazhab Syafi’i, walaupun pendapat yang rajih mengakui qishosh sebagai wajib ain, sebagaimana pendapat Hanafiyah dan Malikiyah, namun Syafi’iyah berpendapat bahwa diat merupakan pengganti qishosh apabila qishosh tersebut gugur karena pengampunan atau sebab lain, seperti meninggalnya pelaku. Dengan demikian, korban atau keluarganya tetap berhak untuk mengambil diat tanpa menunggu persetujuan pelaku.

[2] Pengampunan
Pengampunan terhadap qishosh diperbolehkan. Dasar hukumnya adalah;
►Surat Al Baqarah ayat 178
“Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik (pula).”
{Terjemahan Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 178}
►Surat Al Maaidah ayat 45
“Barangsiapa yang melepaskan (hak qishosh) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya.”
{Terjemahan Al Qur’an Surat Al Maaidah ayat 45}
►dalam Hadis Nabi s.a.w melalui Anas bin Malik, ia berkata:
Setiap perkara yang dilaporkan kepada Rosululloh yang berkaitan dengan hukuman qishosh, Rosululloh selalu memerintahkan pemaafan. {Hadis riwayat Ahmad dan Ashabus Sunan kecuali Turmudzi).

Pernyataan memberikan pengampunan tersebut dapat dilakukan secara lisan meupun tertulis. Redaksinya bisa dengan lafadz kata memaafkan, membebaskan, menggugurkan, melepaskan, memberikan, dan sebagainya.

Pengampunan menurut persepsi Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, sebagaimana yang dikutip Abdul Qodir Awdah adalah pembebasan dari qishosh, dan tidak otomatis mengakibatkan hukuman diat. Menurut mereka tampilnya diat menggantikan qishosh, bukan dengan pengampunan melainkan dengan perdamaian(shulh). Dengan demikian penggantian hukuaman qishosh dengan diat tidak dapat ditetapkan secara sepihak, melainkan dengan persetujuan kedua belah pihak, yaitu pihak wali korban dan pihak pelaku. Akan tetapi menurut Syafi’iyah dan Hanabilah, pengampunan itu disamping menggugurkan hukuman qishosh, juga secara otomatis mengakibatkan tampilnya hukuman diat sebagai hukuman pengganti, dan wali korban berhak memilih qishosh atau diat, tanpa menunggu persetujuan pelaku.

Orang yang berhak memiliki dan memberikan pengampunan adalah orang yang memiliki hak qishosh. Menurut jumhur ulama yang terdiri atas Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad, pemilik qishosh sebagaimana telah dikemukakan di artikel sebelumnya, adalah semua ahli waris, baik zawil furudh maupun ashabah, laki-laki maupun perempuan, dengan syarat mereka itu akil dan balig. Akan tetapi menurut Imam Malik, pemilik hak qishosh itu adalah ashabah laki-laki yang paling dekat derajatnya dengan korban, dan perempuan yang mewaris dengan syarat-syarat tertentu.

Apabila mustahik qishosh itu hanya seorang diri, dan dia memberikan pengampunan, maka pengampunan itu hukumnya sah dan menimbulkan akibat hukum. Dengan demikian, pelaku bebas dari hukuman qishosh. Apabila wali korban menuntut kompensasi dengan diat, ia wajib membayar diat atas persetujuannya menurut Malikiyah dan Hanafiyah, atau meskipun tanpa persetujuannya menurut Syafi’iyah dan Hanabilah.

Apabila mustahik qishosh terdiri atas beberapa orang, dan salah seorang dari mereka memberikan pengampunan, hukuman qishosh menjadi gugur, dan dengan demikian pelaku bebas dari hukuman qishosh. Hal ini karena qishosh merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dibagi-bagi di antara ahli waris. Hanya saja untuk pembebasan ini, Malikiyah memberikan persyaratan orang yang memberikan pengampunan itu sama derajatnya dengan ahli waris (mustahik) yang lain, atau lebih tinggi. Dengan demikian apabila yang memberikan pengampunan itu derejatnya kepada korban lebih rendah dari pada mustahik yang lain maka pemaafannya itu tidak berlaku, dan pelaku tidak bebas dari hukuman qishosh.

Apabila wali korban memberikan pengampunan, baik dari qishosh maupun diat, pengampunan tersebut hukumnya sah, dan pelaku bebas dari qishosh dan diat yang kedua-duanya merupakan hak adami (individu). Akan tetapi, oleh karena di dalam hukuman qishosh itu terkandung hak Alloh dan hak manusia, penguasa masih berwenang menjatuhkan hukuman ta’zir. Pendapat ini dikemukakan oleh Hanafiyah dan Malikiyah. Hukuman ta’zir yang harus dijatuhkan menurut Malikiyah adalah penjara selama satu tahun dan jilid sebanyak seratus kali. Akan tetapi menurut Syafi’iyah, Hanabilah, ishak, dan Abu tsaur, pelaku tidak perlu dikenakan hukuman ta’zir.

[3] Shulh (Perdamaian)
Shulh dalam arti bahasa adalah “qoth’ul munaaza’ah”, yang artinya memutuskan perselisihan. Dalam istilah syara’, seperti dikemukakan oleh Sayid Sabiq, shulh adalah:
“suatu akad (perjanjian) yang menyelesaikan persengketaan antara dua orang yang bersengketa (berperkara).”

Apabila pengertian tersebut dikaitkan dengan qishosh, shulh berarti perjanjian atau perdamaian antara pihak wali korban dengan pihak pembunuh untuk membebaskan hukuman qishosh dengan imbalan.

Para ulama telah sepakat tentang dibolehkannya shulh dalam qishosh, sehingga dengan demikian qishosh menjadi gugur. Shulh dalam qishosh itu boleh dengan meminta imbalan yang lebih besar daripada diat, sama dengan diat, atau lebih kecil daripada diat. Juga boleh dengan tunai atau utang, dengan jenis diat atau selain jenis diat, dengan syarat disetujui oleh pelaku. Alasan dibolehkannya shulh atas qishosh dengan imbalan yang melebihi jumlah maksimal diat adalah karena qishosh itu bukan harta, sehingga tidak dikhawatirkan terjadinya riba. Adapun shulh atas diat, tidak boleh lebih besar dari diat, karena apabila demikian, bisa termasuk riba.

Dasar hukum dibolehkannya shulh ini adalah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi, bahwa Rosululloh s.a.w bersabda;
“barang siapa yang dibunuh dengan sengaja maka urusanya diserahkan kepada wali korban. Apabila ia menghendaki, ia bisa meng- qishosh, dan apabila ia menghendaki, ia boleh mengambil diat 30 hiqqoh (unta betina umur 3 masuk 4 tahun), 30 jadza’ah (unta umur 4 masuk 5 tahun/betina), dan 40 kholifah (unta yang sedang bunting). Apabila mereka mengadakan perdamaian (shulh), maka itu adalah hak mereka.

Shulh ini statusnya sama dengan pemaafan, baik dalam hak pemiliknya, maupun dalam pengaruh atau akibat hukumnya, yaitu dapat menggugurkan qishosh. Perbedaannya dengan pengampunan adalah pengampunan itu pembebasan qishosh tanpa imbalan, sedangkan shulh adalah pembebasan dengan imbalan. Memang dimungkinkan pemaafan dari qishosh dengan imbalan diat, seperti dikemukakan oleh Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, namun menurut Hanafiyah dan Malikiyah, hal itu harus dengan persetujuan pelaku, dan kalau demikian, hal itu bukan pemaafan melainkan shulh (perdamaian).

[4] Diwarisnya Hak Qishosh
Hukuman qishosh dapat gugur apabila wali korban menjadi pewaris hak qishosh. Contohnya, seperti seseorang yang divonis qishosh, kemudian pemilik qishosh meninggal, dan pembunuh mewarisi hak qishosh tersebut, baik seluruhnya maupun sebagiannya, atau qishosh tersebut diwarisi oleh orang yang tidak mempunyai hak qishosh dari pembunuh, yaitu anaknya.

Sebagai penjabaran dari contoh tersebut dapat dikemukakan penjelasan sebagai berikut.
►contoh pembunuh sebagai ahli waris qishosh: seorang anak membunuh ayahnya, dan ia (anak tersebut) mempunyai saudara. Kemudian saudara tersebut yang memiliki hak qishosh meninggal, dan ia tidak mempunyai ahli waris selain saudaranya yang membunuh tadi. Dalam kondisi ini, pembunuh menjadi ahli waris atas hak qishosh dari saudaranya. Dengan demikian maka hukuman qishosh menjadi gugur, karena tidak mungkin seorang melaksanakan qishosh terhadap dirinya.
►contoh yang mewarisi qishosh orang yang tidak bisa meng- qishosh pembunuh: salah seorang dari kedua orang tua, misalnya ayah, membunuh orang tua yang lainnya, misalnya ibu, dan mereka mempunyai anak, baik laki-laki maupun perempuan. Dalam hal ini qishosh menjadi gugur karena anak, sebagai pemilik qishosh tidak bisa meng- qishosh ayahnya, dengan asumsi, andaikata ayah membunuh anaknya, ia tidak dapat di- qishosh, sesuai dengan Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Turmudzi, ibnu Majah, dan Bayhaqi dari Umar bin Khoththob, bahwa ia mendengar Rosululloh s.a.w bersabda;
“tidaklah di- qishosh orang tua karena membunuh anaknya.”


SUMBER

Muslich, Ahmad Wardi. 2005. Hukum Pidana Islam. Jakarta. Sinar Grafika.

About ngobrolislami

hamba ALLAH
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: HAL HAL YANG MENGGUGURKAN HUKUMAN QISHOSH

  1. temen-temen, aku lagi ikutan lomba blog, mohon bantuannya untuk membaca dan memberikan komentar ya diblog saya. silakan klik http://pelangiituaku.wordpress.com/2011/05/09/hipnotis-fatamorgana/
    makasih untuk kunjungan dan komentarnya, semoga amal kebaikan dibalas oleh Tuhan. amin🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s