KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: HUKUMAN DIAT UNTUK TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN SENGAJA

Hukuman qishash dan kifarat untuk pembunuhan sengaja merupakan hukuman pokok. APABILA kedua hukuman tersebut tidak bisa dilaksanakan, karena sebab sebab yang dibenarkan oleh syara’ maka hukuman penggantinya adalah hukuman diat untuk qishash dan puasa untuk kifarat

A. PENGERTIAN DIAT
pengertian diat sebagaimana dikemukakan oleh sayid sabiq adalah sebagai berikut:
“diat adalah sejumlah harta yang dibebankan kepada pelaku, karena tejadinya tindak pidana (pembunuhan atau penganiayaan) dan diberikan kepada korban atau walinya.”

Dari definisi tersebut jelaslah bahwa diat merupakan uqubah maliyah (hukuman yang bersifat harta), yang diserahkan kepada korban apabila ia masih hidup, atau kepada wali (keluarganya) apabila ia sudah meninggal, bukan kepada pemerintah. Dasar hukum untuk wajibnya hukuman diat ini terdapat dalam al qur’an, sunah dan ijma’.

“…dan barangsiapa membunuh seorang mu’min karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah …”
{terjemahan al qur’an surat an nisaa’ ayat 92}

Menurut ayat ini, hukuman diat dikenakan kepada pelaku pembunuhan karena kesalahan, namun disini kedudukannya sebagai hukuman pokok. Adapun penerapannya untuk pembunuhan sengaja merupakan hukuman pengganti yang diperkuat oleh hadis.

Dasar hukum dari hadis nabi untuk wajibnya diat ini adalah sebagai berikut;
Dari abu syuraih al khuza’i ia berkata: telah bersabda rasulullah saw:
“maka barang siapa yang salah seorang anggota keluarganya menjadi korban pembunuhan setelah ucapanku ini, keluarganya memiliki dua pilihan: adakalanya memilih diat, atau memilih qishash”
{hadis ini dikeluarkan oleh abu dawud dan nasa’i}

B. JENIS-JENIS DIAT DAN KADARNYA
para ulama berbeda pendapat dalam menentukan jenis diat. Menurut imam malik dan imam abu hanifah, dan imam syafi’i dalam qaul qadim, diat dapat dibayar dengan salah satu dari tiga jenis: yaitu unta, emas, atau perak. Alasannya adalah sebagai berikut:
1. hadis yang diriwayatkan oleh amr ibn hazm dari ayahnya dari kakeknya, bahwa rasulullah menulis surat kepada penduduk yaman, diantara isi suratnya itu adalah;
Sesungguhnya barang siapa membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang sah dan ada saksi, ia harus di qishash kecuali apabila keluarga korban merelakan; dan sesungguhnya dalam menghilangkan nyawa harus membayar diat, berupa seratus ekor unta.
2. dalam lanjutan hadis amr bin hazm tersebut diatas yang diriwayatkan oleh an nasa’i, rasulullah menyatakan:
“…dan untuk keluarga yang memiliki emas, diatnya adalah seribu dinar.”
3. penetapan sayidina umar dalam atsar yang diriwayatkan oleh baihaqi melalui imam syafi’i. Sayidina umar menetapkan untuk penduduk yang memiliki emas, diatnya adalah seribu dinar, dan untuk perak diatnya adalah sepuluh ribu dirham.

Menurut imam abu yusuf, imam muhamad ibn hasan, dan imam ahmad ibnu hanbal, jenis diat itu ada enam macam, yaitu;
1. Unta
2. Emas
3. Perak
4. Sapi
5. Kambing
6. Pakaian

Menurut hanabilah, lima jenis yang disebut pertama merupakan asal diat, sedangkan yang ke enam, yaitu pakaian bukan asal, karena bisa berubah ubah. Alasan yang dikemukakan oleh kelompok yang kedua ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh abu dawud dari ‘amr ibn syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa sayidina umar berpidato:
“inhatlah sesungguhnya harga unta telah naik (mahal)-berkata perawi-maka umar memberikan harga kepada pemilik emas dengan seribu dinar, dan pemilik perak duabelas ribu dirham, dan kepada pemilik sapi duaratus ekor sapi, dan kepada pemilik kambing seribu ekor kambing, dan kepada pemilik pakaian duaratus setel (pasang) pakaian.

Disamping atsar tersebut dan hadis yang dikemukakan oleh kelompok pertama, terdapat pula hadis lain yang diriwayatkan oleh abu dawud;
Dari atha’ ibn abi rabah, bahwa rasulullah saw telah memutuskan-dalam riwayat lain dari ‘atha’ dari jabir ia berkata-“rasulullah telah memutuskan dalam diat untuk pemilik unta seratus ekor unta, untuk pemilik sapi duaratus ekor sapi, untuk pemilik kambing duaribu ekor kambing, dan untuk pemilik pakaian dua ratus setel pakaian.”
{hadis diriwayatkan oleh abu dawud}

Adpun kadar (ukuran) diat, dari hadis-hadis tersebut telah cukup jelas, yaitu apabila diatnya unta, jumlahnya seratus ekor, sapi duaratus ekor, kambing duaribu ekor, uang emas seribu dinar, uang perak duabelas ribu dirham, dan pakaian duaratus setel. Dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, kecuali apabila diat dibayar dengan uang perak. Menurut hanafiyah, apabila diat dibayar dengan emas, maka jumlahnya seribu dirham, dan apabila dibayar denga uang perak maka jumlahnya epuluh ribu dirham. Sedangkan menurut jumhur ulama apabila diat dibayar dengan uang perak, jumlahnya dua belas ribu dirham. Sebab perbedaan pendapat ini adalah karena perbedaan kurs uang emas dengan uang perak. Menurut hanafiyah nilai satu dinar setara dengan sepuluh dirham berdasarkan atsar umar yang diriwayatkan oleh baihaqi melalui imam syafi’i. Sedangkan menurut jumhur nilai satu dinar setara dengan duabelas dirham, berdasarkan hadis umar melalui amr ibn syu’aib tersebut.

C. PEMBERATAN DAN PERINGANAN DIAT
diat terbagi kepada dua bagian yaitu
1. Diat mughalladzah
2. Diat mukhaffafah

Diat mughaladzah berlaku dalam pembunuhan menyerupai sengaja. Menurut hanafiyah diat mughalladzah juga berlaku dalam pembunuhan sengaja yang terjadi karena syubhat, yaitu pembunuhan oleh orang tua atas anaknya. Diat dalam pembunuhan sengaja ini berlaku dengan persetujuan pelaku dan wali korban, setelah adanya pemaafan dari pihak keluarga atau sebagian dari mereka.

Menurut jumhur ulama diat mughalladzah berlaku dalam pembunuhan sengaja apabila qishash dimaafkan oleh keluarga korban, dan pembunuhan menyerupai sengaja. Sedangkan malikiyah berpendapat diat mughalladzah berlaku apabila disetujui oleh wali si korban, dan juga dalam pembunuhan oleh orang tua kepada anaknya.

Diat mughalladzah hanya berlaku apabila diat tersebut dibayar dengan unta, sesuai dengan ketentuan syara’, dan tidak berlaku dengan jenis yang lain, seperti emas dan perak. Komposisinya menurut malikiyah, syafi’iyah, dan imam muhammad ibn hasan, dibagi menjadi tiga kelompok.
1. Tigapuluh ekor unta hiqqah (umur 3-4 tahun)
2. Tiga puluh ekor unta jadza’ah (umur 4-5 tahun)
3. Empat puluh ekor unta khalifah (sedang bunting)

Pendapat ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh turmudzi dan abu dawud ari amr ibn syu’aib, bahwa rasulullah saw bersabda;
“diat itu adalah tiga puluh ekor unta jadza’ah, tiga puluh hiqqah, dan empat puluh khalifah, yang di dalam perutnya ada anaknya.”

Menurut hanafiyah selain muhammad ibn hasan, dan hanabilah diat mughalladzah ini komposisinya dibagi empat kelompok.
1. 25 ekor unta bintu mulkhadh (unta betina umur 1-2 tahun)
2. 25 ekor unta bintu labun (unta betina umur 2-3 tahun)
3. 25 ekor unta hiqqoh (umur 3-4 tahun)
4. 25 ekor unta jadza’ah (umur 4-5 tahun)

Pendapat ini didasarkan kepada hadis nabi yang diriwayatkan oleh az-zuhri dari saib ibn yazid, ia berkata;
“diat pada masa rasulullah saw, dibagi empat kelompok, duapuluh lima ekor unta jadza’ah, dua puluh lima ekor unta hiqqah, dua puluh lima ekor unta bintu labun, dan dua puluh lima ekor unta bintu makhadh.”

Pemberatan diat dalam pembunuhan sengaja dan menyerupai sengaja, dapat dilihat dalam tiga aspek, yaitu;
1. Pembayaran ditangung sepenuhnya oleh pelaku
2. Pembayaran harus tunai
3. Umur unta lebih dewasa. Misalnya menurut syafi’iyah, unta harus berumur tiga tahun ke atas, bahkan sebagian harus sedang bunting.

Diat mukhaffafah adalah diat yang diperingan. Keringanan tersebut dapat dilihat dalam tig aspek.
1. Kewajiban pembayaran dibebankan kepada ‘aqilah (keluarga)
2. Pembayaran dapat diangsur selama tiga tahun
3. Komposisi diat dibagi dalam lima kelompok
→20 ekor unta bintu makhadh (unta betina umur 1-2 tahun)
→20 ekor unta ibnu makhadh (unta jantan umur 1-2 tahun)
→20 ekor unta bintu labun (unta betina umur 2-3 tahun)
→20 ekor unta hiqqah (umur 3-4 tahun)
→20 ekor unta jadza’ah (umur 4-5 tahun)

Komposisi ini merupakan pendapat hanafiyah dan hanabilah. Sementara menurut malikiyah dan syafi’iyah, untuk unta ibnu makhadh diganti dengan ibnu labun. Ketentuan ini didasarkan kepada hadis dari ibnu mas’ud, bahwa nabi saw bersabda;
“diat untuk pembunuhan karena kesalahan dibagi kepada lima bagian, dua puluh ekor unta hiqqah, dua puluh ekor unta jadza’ah, dua puluh ekor unta bintu mukhadh, dua puluh ekor unta bintu labun, dan dua puluh ekor unta ibnu labun.”
{diriwayatkan oleh daruquthni}
Dan diriwayatkan oleh imam yang empat (ahli hadis), dengan lafaz dua puluh ekor ibnu makhadh sebagai pengganti dua puluh ekor ibnu labun.

About ngobrolislami

hamba ALLAH
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: HUKUMAN DIAT UNTUK TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN SENGAJA

  1. hedzer says:

    salam, jika kes bapa bunuh anak kandung..dan dikenakan diat Muhghaladzah, kpd siapa diat itu mesti diserahkan ? Ini kerana bapa yg membunuh adalah wali darah kpd simati ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s