KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: HUKUMAN PEMBUNUHAN KARENA KESAAHAN

Pembunuhan karena kesalahan sebagaimana telah dijelaskan adalah suatu pembunuhan dimana pelaku sama sekali tidak berniat melakukan pemukulan apalagi pembunuhan, tetapi pembunuhan tersebut terjadi karena kelalaian atau kurang hati-hatinya pelaku. Hukuman untuk pembunuhan karena kesalahan ini sama dengan hukuman untuk pembunuhan menyerupai sengaja yaitu:

1] HUKUMAN POKOK: DIAT DAN KIFAROT
2] HUKUMAN TAMBAHAN: PENGHAPUSAN HAK WARIS DAN WASIAT


1] HUKUMAN DIAT
Hukuman diat untuk pembunuhan karena kesalahan, seperti talah disinggung pada artikel sebelumnya adalah diat mukhoffafah, yaitu diat yang diperingan. Keringanan tersebut dapat dilihat dalam tiga aspek berikut.
1. Kewajiban pembayaran dibebankan kepada ‘aqilah (keluarga)
2. Pembayaran diangsur selama tiga tahun
3. Komposisi diat dibagi menjadi lima kelompok
a. 20 ekor unta bintu makhodh (unta betina 1-2tahun)
b. 20 ekor unta ibnu makhodh (unta jantan umur 1-2 tahun) menurut Hanafiah dan Hanabilah; atau 20 ekor unta bintu labun (unta betina umur 2-3 tahun) menurut Malikiyah dan Syafi’iyah
c. 20 ekor unta bintu labun (unta betina umur 2-3 tahun)
d. 20 ekor unta hiqqoh (umur 3-4 tahun)
e. 20 ekor unta jadza’ah (umur 4-5 tahun)

Diatas telah dikemukakan bahwa pembayaran diat untuk tindak pidana pembunuhan menyerupai sengaja atau kesalahan dibebankan kepada ‘aqilah. Pengertian ‘aqilah sebagaimana yang dikemukakan oleh Sayid Sabiq adalah kelompok yang secara bersama-sama menanggung pembayaran diat. Mereka adalah kelompok ashabah, yaitu semua kerabat laki-laki dari pihak bapak yang balig, berakal, dan mampu. Dengan demikian, pihak perempuan, anak kecil, orang gila, dan miskin tidak termasuk dalam kelompok ‘aqilah.

Pembebanan diat kepada ‘aqilah dalam pembunuhan menyerupai sengajaan kesalahan, didiasarkan kepada hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Dari jabir bahwa dua orang perempuan dari kabilah Hudzayl salah satunya membunuh yang lainnya. Dan wanita itu masing-masing mempunyai suami dan anak. Maka Rosululloh menjadiakan diat si terbunuh atas ‘aqilah (keluarga) pembunuh, sedangkan suami dan anaknya dibebaskan dari kewajiban membayar diat. Berkata jabir: berkata ‘aqilah korban(terbunuh): “apakah warisannya jatuh ke tangan kami? Maka Rosululloh s.a.w bersabda: “tidak, warisannya tetap untuk suami dan anaknya.”
{Hadis Riwayat Abu Dawud}

Pembebanan diat kepada ‘aqilah dalam pembunuhan menyerupai sengaja dan kesalahan merupakan pengecualian dari kaidah umum yang berlaku dalam hukum pidana ISLAM. Menurut kaidah yang berlaku, seseorang harus dibebani pertanggungjawaban atas perbuatan yang dilakukannya. Dengan demikian, orang lain yang tidak melakukan atau turut melakukan perbuatan pidana, tidak dikenakan hukuman karena perbuatan orang lain. ALLOHberfirman dalam surat Faathir(35) ayat 18:
“dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain…”
{Terjemahan Al Qur’an Surat FaathirAyat 18}

Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh nasa’idari Ibnu Mas’ud r.a, Rosululloh saw bersabda:
“seseorang tidak dituntut karena dosa ayahnya dan tidak pula karena dosa saudaranya.”
{Hadis Riwayat Nasa’i}

Meskipun pembebanan diat kepada ‘aqilah dalam dua jenis pembunuhan ini menyimpang dari kaidah umum yang berlaku, namun keikutsertaan ‘aqilah di sini betul-betul sangat diperlukan, dalam rangka membantu pelaku menanggung beban diat, akibat tindak pidana yang terjadi tanpa kesengajaan, baik dalam perbuatannya maupun akibatnya. Sifat dari pembebanan ini bukan merupakan hukuman, melainkan pertolongan dan bantuan kepada salah seorang anggota keluarga yang sedang menghadapi kesulitan. Disamping itu sifat dari pembebanan ini merupakan pelajaran kepada semua anggota keluarga. Apabila mereka mengetahui bahwa mereka akan dibebani diat, mereka dapat melakukan upaya dan langkah-langkah untuk menghentikan tindak pidana pembunuhan yang akan dilakukan oleh salah seorang anggota keluarganya, dan mengarahkan mereka ke jalan yang baik dan lurus sesuai dengan apa yang diajarkan oleh agama ISLAM.

2] HUKUMAN KIFAROT
Hukuman kifarot untuk pembunuhan karena kesalahan merupakan hukuman pokok. Jenisnya telah dikemukakan dalam pembicaraan mengenai syibhul ‘amd, adalah memerdekakan hamba yang mukmin. Apabila hamba tidak diperoleh maka hukuman penggantinya adalah berpuasa dua bulan berturut-turut. Hal ini didasarkan kepada firman ALLOH:

“…dan barangsiapa membunuh seorang mu’min karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah . Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya , maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada ALLOH. Dan adalah ALLOHMaha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
{Terjemahan Al Qur’an Surat An-Nisaa’ Ayat 92}

Disamping sebagai hukuan, kifarot juga sebagai ibadah. Oleh karena itu hukuman ini dibebankan sepenuhnya kepada harta pelaku dan tidak dibantu oleh orang lain.

Para fuqoha sepakat tentang kewaiban kifarot untuk pembunuhan karena kesalahan, ini apabila korban bukan kafir dzimmi dan hamba sahaya. Apabila korban adalah kafir dzimmi, menurut jumhur ulama, kifarot wajib dilaksanakan. Sedangkan menurut Malikiyah, hukuman kifarot tidak wajib dilaksanakan, karena kekafiran itu sebagai sebab dibolehkannya pembunuhan secara umum terhadap setiap orang kafir.

3] HUKUMAN PENGGANTI
Hukuman pengganti dalam pembunuhan karena kesalahan, yaitu puasa dua bulan berturut-turut sebagai penganti memerdekakan hamba apabila hamba tidak diperoleh. Sedangkan hukuman ta’zir sebagai pengganti diat apabila dimaafkan dalam pembunuhan karena kesalahan ini tidak ada, dan ini disepakati oleh para fuqoha.

4] HUKUMAN TAMBAHAN
Hukuman tambahan untuk tindak pidana pembunuhan karena kesalahan ini, adalah penghapusan hak waris dan wasiat. Namun dalam masalah ini setelah dikemukakan dalam hukuman pembunuhan sengaja tidak ada kesepakatan dikalangan fuqoha. Menurut jumhur ulama, pembunuhan karena kesalahan tetap dikenakan hukuman tambahan karena pembunuhan ini termasuk kepada pembunuha yang melawan hukum. Dengan demikian walaupun pembunuhan terjadi karena kesalahan, penghapusan hak waris dan hak wasiat tetap diterapkan sebagai hukuman tambahan kepada pelaku. Akan tetapi imam Malik berpendapat, pembunuhan karena kesalahan tidak menyebabkan hilangnya hak waris dan wasiat, karena pelaku sama sekali tidak berniat melakuan perbuatan yang dilarang, yaitu pembunuhan.

About ngobrolislami

hamba ALLAH
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s