KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: HUKUMAN QISHOSH UNTUK IBANAH (PERUSAKAN) ATHROF DAN SEJENISNYA

Hukuman untuk tindak pidana atas selain jiwa dapat di bagi kepada tiga bagian;
1. Hukuman untuk tindak pidana atas selain jiwa dengan sengaja
2. Hukuman untuk tindak pidana atas selain jiwa yang menyerupai sengaja
3. Hukuman untuk tindak pidana atas selain jiwa karena kesalahan

Tindak pidana menyerupai sengaja (syibhil ‘amd) dalam tindak pidana atas selain jiwa dikemukakan oleh Syafi’iyah dan HaNabilah. Sedangkan Imam Malik dan Imam Abu Hanifah tidak membedakan antara sengaja dan menyerupai sengajadalam kasus ini. Imam Abu Hanifah hanya mengakui perbuatan menyerupai sengaja dalam kasus tindak pidana atas jiwa, sedang Imam Malik bahkan sama sekali tidak mengakuinya, apalagi dalam tindak pidana atas selain jiwa.

Pengelompokan hukuman untuk sengaja, menyerupai sengaja, dan kesalahan dalam tindak pidana atas selain jiwa, sebenarnya tidak begitu penting, karena dalam tindak pidana atas selain jiwa realisasi dan penerapan hukuman didasarkan atas berat ringannya akibat yang menimpa sasaran atau objek tindak pidana, bukan kepada niat pelaku. Sebagaimana telah dikemukakan di atas, di tinjau dari segi objek atau sasarannya, tindak pidana atas selain jiwa dibagi kepada lima bagian, yaitu perusakan anggota badan atau sejenisnya, menghilangkan manfaatnya, syajjaj, jirah, dan tindakan yang tidak termasuk ke dalam keempat jenis tersebut. Hukuman untuk tindak pidana atas selain jiwa tergantung kepada akibat yang timbul atas kelima jenis tindak pidana tersebut, baik perbuatan dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja (kekeliruan).

Perbedaan yang mencolok dalam tindak pidana sengaja, menyerupai sengaja dan kesalahan untuk kasus tindak pidana atas selain jiwa ini adalah dalam hukuman pokok. Dalam tindak pidana atas selain jiwa dengan sengaja, sepanjang kondisinya memungkinkan, hukuman pokoknya adalah qishosh. Sedangkan untuk menyerupai sengaja dan kekeliruan, hukuman pokoknya adalah diat atau irsy. Akan tetapi, diat dan irsy juga diberlakukan untuk tindak pidana sengaja sebagai hukuman pengganti. Oleh karena itu dalam membicarakan hukuman diat atau irsy, tidak ada perbedaan antara sengaja, menyerupai sengaja dan kekeliruan.

Dibawah ini akan diuraikan secara rinci hukuman untuk tindak pidana atas selain jiwa, yang dikaitkan dengan sasaran atau objeknya.

HUKUMAN UNTUK IBANAH (PERUSAKAN) ATHROF DAN SEJENISNYA
Athrof menurut para fuqoha adalah tangan dan kaki. Pengertian tersebut kemudian diperluas kepada anggota badan yang lain sejenis athrof, yaitu jari, kuku, bulu mata, gigi, rambut, jenggot, alis, kumis, hidung, lidah, zakar, biji pelir, telinga, bibir, mata, dan bibir kemaluan perempuan. Sedangkan tindakan perusakan athrof (anggota badan) dan sejenisnya, meliputi tindakan pemotongan, seperti pada tangan dan kaki, pencongkelan seperti pada mata, dan pencabutan seperti pada gigi, serta tindakan lain yang sesuai dengan jenis anggota badannya.

Hukuman pokok untuk perusakan athrof dengan sengaja adalah qishosh, sedangkan hukuman penggantinya adalah diat atau ta’zir. Adapun hukuman pokok untuk perusakan athrof yang menyerupai sengaja dan kekeliruan adalah diat, sedangkan hukuman penggantinya adalah ta’zir.

HUKUMAN QISHOSH
Diatas telah dikemukakan bahwa hukuman qishosh merupakan hukuman pokok untuk tindak pidana atas selain jiwa dengan sengaja, sedangkan diat dan ta’zir merupakan hukuman pengganti yang menempati tempat qishosh. Sehubungan dengan hal tersebut, pada prinsipnya hukuman pokok (qishosh) dan hukuman pengganti (diat dan ta’zir) tidak dapat dijatuhkan bersama-sama dalam satu jenis tindak pidana, karena penggabungan hukuman tersebut dapat menafikan karakter penggantian. Konsekuensi lebih lanjut dari karakter penggantian ini adalah bahwa hukuman pengganti tidak dapat dilaksanakan kecuali apabila hukuman pokok tidak bisa dilaksanakan.

Akan tetapi didalam penerapannya dalam kondisi-kondisi tertentu, mengenai penggabungan antara hukuman qishosh dan diat, terdapat dua pandangan di kalangan ulama. Menurut Imam Syafi’i dan sebagian ulama HaNabilah, hukuman qishosh tidak dapat digabungkan dengan diat apabila qishosh tidak mungkin dilaksanakan kecuali pada sebagian pelukaan. Dalam kondisi semacam ini, pada bagian yang mungkin dilaksanakan qishosh, pelaku bisa di- qishosh, sedangkan pada bagian yang tidak mungkin dilaksanakan hukuman qishosh, diganti dengan hukuman diat. Dengan demikian dalam kasus semacam ini, hukuman qishosh dan hukuman diat dijatuhkan bersama-samadalam satu jenis pelukaan. Menurut pendapat Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan sebagian fuqoha HaNabilah, hukuman pokok (qishosh) tidak mungkin dijatuhkan bersama-sama dengan hukuman pengganti (diat) dalam satu jenis pelukaan. Dengan demikian apabila si pelaku sudah di-qishosh untuk sebagian pelukaan, tidak ada hukuman diat atau sisanya (sebagian pelukaan lainnya). Oleh karena itu dalam kasus semacam ini, korban diwajibkan untuk memilih antara qishosh tanpa diat atau langsung mengambil diat saja.

Hukuman pokok yaitu qishosh tidak dapat dilaksanakan atau gugur karena beberapa sebab. Sebab-sebab ini ada yang bersifat umum dan ada pula yang bersifat khusus, yaitu berkaitan dengan tindak pidana atas selain jiwa.

I. Sebab-Sebab Terhalangnya Qishosh Yang Bersifat Umum
Adapun yang dimaksud dengan sebab umum ini adalah sebab – sebab terhalangnya qishosh, yang berlaku baik untuk tindak pidana atas jiwa maupun untuk tindak pidana atas selain jiwa. Sebab-sebab yang umum ini sudah dijelaskan ketika membahas syarat-syarat pelaksanaan hukuman qishosh dalam tindak pidana atas jiwa. Sebab – sebab tersebut adalah sebagai berikut.

A. Korban merupakan bagian dari pelaku
Apabila korban yang dilukai merupakan bagian dari pelaku, hukuman qishosh tidak dapat dilaksanakan. Yang dimaksud dengan bagian disini adalah bahwa orang yang menjadi korban tindak pidana itu adalah anaknya atau cucunya. Dengan demikian apabila seorang ayah atau ibu melukai anaknya, ia tidak dikenai hukuman qishosh. Hal ini didasarkan kepada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Turmudzi, Ibnu Majah dan Bayhaqi dari Umar bin Khoththob, bahwa ia mendengar Rosulullohsaw bersabda;
“tidaklah di- qishosh orang tua karena membunuh anaknya.”

Sebaliknya, apabila anak melukai orang tuanya, ia tetap dikenakan hukuman qishosh, berdasarkan nas (dalil) yang umum. Masalah ini secara panjang lebar telah dijelaskan dalam pembahasan mengenai pembunuhan sengaja.

B. Tidak ada keseimbangan antara korban dengan pelaku
Apabila korban tidak seimbang dengan pelaku, pelaku tidak dikenakan hukuman qishosh. Ukuran keseimbangan ini dilihat dari sisi korban, bukan dari pelaku.

Dasar keseimbangan menurut Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad adalah merdeka dan Islam, sedangkan menurut Imam Abu Hanifah adalah merdeka dan jenis kelamin. Di bawah ini akan dijelaskan ketiga macam dasar keseimbangan tersebut dalam kaitannya dengan tindak pidana atas selain jiwa.

1. Merdeka
Ulama mazhab yang empat sepakat bahwa merdeka merupakan salah satu dasar keseimbangan, yang menjadi syarat pelaksanaan qishosh dalam tindak pidana atas selain jiwa. Dengan demikian, apabila seseorang yang merdeka melukai hamba sahaya maka ia tidak di- qishosh, karena korban (hamba) tidak seimbang dengan orang merdeka (pelaku).

Dalam tindak pidana atas selain jiwa, Imam Abu Hanifah berbeda pendapatnya dengan apa yang telah dikemukakan dalam kaitan dengan tindak pidana atas jiwa. Dalam tindak pidana atasa jiwa, seperti telah diuraikan terdahulu, Imam Abu Hanifah tidak memasukkan merdeka dalam keseimbangan. Dengan demikian apabila seorang merdeka membunuh seorang hamba sahaya maka ia tetap dikenakan hukuman qishosh.

2. Islam
Seperti halnya dalam tindak pidana atas jiwa, dalam tindak pidana atas selain jiwa ini para ulama berbeda pendapat dalam hal masuknya Islam sebagai dasar keseimbangan. Menurut jumhur ulama orang kafir tidak seimbang dengan orang muslim. Dengan demikian apabila seorang muslim membunuh atau melukai seorang kafir dzimmi maka ia tidak di- qishosh. Akan tetapi menurut Imam Abu Hanifah kafir simbang dengan muslim, oleh karena itu apabila muslim membunuh atau melukai kafir dzimmi, ia tetap dikenai hukuman qishosh. Masalah ini sudah diuraikan dengan jelas dalam pembahasan tindak pidana atas jiwa, sehingga tidak perlu diperpanjang lagi di sini.

3. Jenis kelamin
Sebenarnya para ulama telah sepakat bahwa jenis kelamin tidak termasuk salah satu dasar keseimbangan dalam tindak pidana atas jiwa. Akan tetapi dalam tindak pidana atas selain jiwa, Imam Abu Hanifah memasukkan jenis kelamin sebagai salah satu dasar keseimbangan. Dengan demikian apabila seorang laki-laki melukai seorang perempuan atau sebaliknya maka ia tidak dikenai qishosh. Alasan yang dikemukakan oleh Imam Abu Hanifah adalah adanya suatu ketentuan, bahwa selain jiwa atau apa yang kurang dari jiwa, kedudukanya sama dengan harta benda. Atas dasar itu maka dalam hal selain jiwa, kedudukannya sama dengan harta benda. Atas dasar itu maka dalam hal selain jiwa, perempuan tidak seimbang dengan laki-laki, dan diat anggota badannya tidak sama dengan diat anggota badan laki-laki. Oleh karena anggota badan laki-laki dan perempuan tidak sama, dengan sendirinya hukuman qishosh tidak dapat dilaksanakan, baik pelakunya laki-laki maupun pelakunya perempuan.

Selain keseimbangan dalam ketiga hal tersebut di atas, Imam Abu Hanifah juga mensyaratkan keseimbangan dalam bilangan (jumlah) antara korban dan pelaku, tetapi jumhur ulama tidak mensyaratkan hal ini.

C. Perbuatan yang dilakukan merupakan perbuatan yang menyerupai sengaja (syibhul ‘amd)
Seperti telah dikemukakan di muka, menurut Imam Syafi’i dan Imam Ahmad tindak pidana atas selain jiwa dapat terjadi dengan sengaja dan dapat pula menyerupai sengaja (syibhul ‘amd). Apabila perbuatan terjadi dengan sengaja maka jelas berlaku hukuman qishosh. Akan tetapi, apabila perbuatannya menyerupai sengaja, hukuman qishosh tidak dapat dilaksanakan.

Akan tetapi menurut Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, tidak ada perbuatan menyerupai sengaja (syibhul ‘amd) dalam tindak pidana atas selain jiwa, yang ada hanya sengaja dan kesalahan. Dengan demikian menurut Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, dalam tindak pidana atas selain jiwa dalam keadaan bagaimanapun tetap berlaku hukuman qishosh, selama perbuatannya dilakukan dengan sengaja dan kondisinya memungkinkan.

D. Tindakan pidana terjadi di Darul Harb
Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa apabila tindak pidana atas selain jiwa terjadi di Darul Harb, pelaku tidak dapat dikenai hukuman qishosh. Akan tetapi jumhur ulama berpendapat dimanapun terjadinya tindak pidana tersebut, pelaku tetap harus dikenakan hukuman qishosh.

E. Perbuatan dilakukan secara tidak langsung
Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa apabila tindak pidana atas selain jiwa dilakukan secara tidak langsung (dengan tasabbub), hukuman qishosh tidak dapat dilaksanakan. Akan tetapi, jumhur ulama berpendapat bahwa pelaku tetap harus dikenakan hukuman qishosh, walaupun perbuatan dilakukan secara tidak langsung.

F. Qishosh tidak mungkin dilaksanakan
Apabila pelaksanaan qishosh itu tidak memungkinkan, misalnya karena objek qishosh tidak seimbang, hukuman qishosh tidak dilaksanakan. Misalnya korban sendi ibu jarinya yang sebelah atas sudah tidak ada, kemudian datang pelaku memotong sendi kedua (sebelah bawah) dari ibu jari tersebut. Dalam hal ini qishosh tidak mungkin dilaksanakan, apabila ibu jari pelaku sempurna (tidak cacat). Hal ini karena apabila qishosh dilaksanakan, berarti ada dua sendi yang dipotong, padahal pelaku hanya memotong satu sendi karena sendi pertama memang sudah tidak ada.

II. Sebab-Sebab Terhalangnya Qishosh yang Khusus
Sebab-sebab yang khusus bagi terhalangnya qishosh dalam tindak pidana atas selain jiwa ada tiga yaitu;
Karena qishosh tidak mungkin dilaksanakan secara tepat tanpa kelebihan
Karena tidak adanya keseimbangan dalam objek qishosh
Karena tidak adanya kesamaan, baik dalam kesehatan maupun kesempurnaan

A. qishosh tidak mungkin dilaksanakan secara tepat tanpa kelebihan
salah satu syarat untuk dapat dilaksanakannya hukuman qishosh adalah bahwa hukuman qishosh mungkin dilaksanakan tepat tanpa adanya kelebihan. Apabila hukuman qishosh dikhawatirkan melebihi tindak pidananya, qishosh tidak boleh dilaksanakan.

Dalam athrof (anggota badan), hukuman qishosh mungkin dilaksanakan dengan tepat tanpa kelebihan apabila pemotongannya pada persendian, atau pada anggota badan yang ada batas tertentu (ujungnya), seperti daun telinga. Apabila pemotongannya bukan pada persendian, seperti pemotongan tangan antara pergelangan dan siku maka para fuqoha berbeda pendapat. Menurut Imam Abu Hanifah dan sebagian fuqoha HaNabilah, dalam kasus tersebut tidak berlaku hukuman qishosh, karena sulit melaksanakan qishosh dengan tepat tanpa ada kelebihan. Sedangkan menurut Imam Syafi’i dan sebagian fuqoha HaNabilah, dalam kasus tersebut dapat dilaksanakan qishosh dari persendian pertama yang termasuk objek tindak pidana, yaitu pergelangan tangan dan sisanya dibayar dengan hukuman (ganti rugi). Menurut Imam Malik apabila memungkinkan, dalam kasus tersebut dapat dilaksanakan hukuman qishosh. Akan tetapi apabila tidak memungkinkan maka hukuman qishosh tidak dilaksanakan dan hukuman diganti dengan diat.

B. Tidak ada kesepadanan (mumatsalah) dalam objek qishosh
Salah satu syarat yang lain untuk dapat diterapkannya hukuman qishosh adalah adanya kesepadanan atau persamaan di dalam objek qishosh. Tangan misalnya, hanya dapat di- qishosh dengan tangan, dan kaki hanya dapat di qishosh dengan kaki. Demikian pula anggota badan yang lainnya. Apabila tidak ada kesepadanan atau persamaan anggota badan yang akan di qishosh dan anggota badan yang dirusak oleh tindak pidana, hukuman qishosh tidak dapat dilaksanakan. Tangan misalnya, tidak dapat di qishosh-kan untuk mengganti kaki yang dipotong.

Dari uraian tersebut, jelaslah bahwa dasar untuk menentukan kesepadanan (mumatsalah) pada anggota badan tersebut adalah jenis dan manfaatnya. Apabila anggota badan korban dan pelaku sama jenisnya maka antara keduanya terdapat kesepadanan dan dengan sendirinya dapat diterapkan hukuman qishosh. Tetapi apabila anggota badan korban dan pelaku tidak sama jenisnya, atau tidak sama manfaatnya (kegunaannya), antara keduanya tidak terdapat kesepadanan, dan dengan demikian hukuman qishosh tidak dapat dilaksanakan.

C. Tidak sama dalam kesehatan (kualitas) dan kesempurnaan
Syarat yang lain untuk dapat dilaksanakannya hukuman qishosh adalah kedua anggota badan yang akan di qishosh dan yang menjadi korban tindak pidana harus sama (seimbang) baik dalam kesehatan maupun kesempurnaannya. Apabila kedua anggota badan tersebut tidak sama kesehatan atau kesempurnaannya maka hukuman qishosh tidak dapat dilaksanakan. Sebagai contoh tangan yang sehat tidak dapat di- qishosh untuk mengganti tangan yang lumpuh, demikian pula kaki yang sehat tidak dapat di qishosh untuk mengganti kaki yang lumpuh. Hal ini karena korban mengambil sesuatu yang melebihi haknya. Akan tetapi menurut Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad kalau kebalikannya, yaitu tangan yang lumpuh dapat di qishosh untuk mengganti tangan yang sehat, karena dalam kasus ini korban mengambil sesuatu yang kurang dari haknya. Sedangkan menurut Imam Malik dalam kedua kasus tersebut tetap tidak dilaksanakan hukuman qishosh, karena tidak adanya persamaan kesehatan anggota badan yang bersangkutan.

Sesuai dengan syarat kesamaan dalam kesempurnaan di atas, anggota badan yang sempurna (utuh) tidak dapat di qishosh untuk mengganti anggota badan yang tidak sempurna. Sebagai contoh, tangan atau kaki yang lengkap jarinya tidak dapat di- qishosh untuk mengganti tangan atau kaki yang jarinya kurang atau tidak lengkap, karena dalam hal ini berarti korban mengambil sesuatu yang melebihi haknya. Akan tetapi kalau sebaliknya, tangan atau kaki yang tidak lengkap jarinya dapat di qishosh untuk mengganti tangan atau kaki yang lengkap jarinya karena dalam hal ini berarti korban mengambil sesuatu yang kurang dari haknya. Untuk mengganti kekuarangan tersebut, Imam Syafi’i dan sebagian ulama HaNabilah berpendapat perlu ada ganti rugi (irsy), sedangkan menurut Imam Abu Hanifah dan sebagian fuqoha HaNabilah tidak perlu ada ganti rugi (irsy), karena qishosh sudah dilaksanakan. Menurut Imam Malik , dalam kasus yang terakhir, apabila kurangnya jari tangan atau kaki itu hanya sebuah, hukuman qishosh dapat dilaksanakan tanpa adanya tambahan ganti rugi.

Dari uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa ketiga sebab penghalang qishosh yang telah dijelaskan di atas, dasar dan landasanya hanya satu, yaitu keseimbangan (tamatsul). Hal ini karena memang qishosh menurut tabiatnya selalu menghendaki adanya keseimbangan dalam semua aspek, baik aspek perbuatan, objek, maupun manfaatnya.

III. Penerapan Syarat-Syarat Qishosh Pada Athrof
Diatas telah dikemukakan bahwa anggota badan yang termasuk athrof adalah tangan, kaki, jari, kuku, mata, telinga, hidung, lidah, bibir, zakar, biji, pelir, bibir kemaluanperempuan, bulu mata, alis rambut, kumis jenggot dan gigi. Secara umum, perusakan pada athrof dapat diterapkan hukuman qishosh, sepanjang syarat-syarat yang telah disebutkan, baik yang umum maupun yang khusus dapat terpenuhi. Naun dalam rinciannya, ada anggota badan yang disepakati oleh para ulama yang diterapkan qishosh dan ada pula yang diperselisihkan. Pada umumnya anggota badan yang disepakati untuk diterapkan qishosh adalah anggota badan yang mempunyai persendian atau ada batas – batasnya.

Para ulama mazhab yang empat sepakat untuk menerapkan qishosh dalam pemotongan kaki, telinga bibir dan tangan, pencongkelan mata, dan perontokan gigi. Hal ini didasarkan pada firman Alloh dalam surat Al Maa’idah ayat 45;
“Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Tawrot) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishosh-nya..”
{Terjemahan Al_Qur’an Surat Al Maa’idah: 45}

Sedangkan pada anggota badan yang lainnya seperti rambut, jenggot, kumis, alis, lidah dan lain-lainnya, tidak ada kesepakatan di kalangan para fuqoha. Jumhur fuqoha berpendapat bahwa pada anggota badan tersebut dapat diterapkan hukuman qishosh, sepanjang syarat-syarat yang disebutkan dapat dipenuhi dan kondisinya memungkinkan. Alasannya adalah firman Alloh surat Al Maa’idah ayat 45:
“dan luka luka (pun) ada qishosh-nya…”
{Terjemahan Al_Qur’an Surat Al Maa’idah: 45}

Kata al juruwh (luka-luka) dalam ayat tersebut merupakan lafaz yang umum yang mencakup semua jenis pelukaan. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa pada anggota-anggota badan yang tidak bersendi atau tidak ada batas yang jelas, sulit untuk diterapkan qishosh dengan tepat, tanpa adanya kelebihan kecuali pemotongan secara keseluruhan. Dengan demikian menurut Imam Abu Hanifah, pada anggota – anggota badan tersebut tidak berlaku hukum qishosh, melainkan hukuman diat.

Dari uraian tersebut terlihat bahwa Imam Abu Hanifah dalam menerapkan qishosh untuk tindak pidana untuk tindak pidana selain jiwa sangat hati-hati, karena khawatir terjadi kelebihan. Sementara jumhur ulama yang terdiri dari Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa sepanjang masih ada celah-celah kemungkinan untuk dilaksanakannya qishosh, hukuman qishosh dapat dilaksanakan berdasarkan nas yang umum dalam surat Al Maa’idah ayat 45.

IV. Pelaksanaan Hukuman Qishosh
Dalam pembahasan mengenai pelaksanaan (eksekusi) qishosh dalam tindak pidana atas selain jiwa ini, siapa yang melaksanakannya, bagaimana cara melaksanakannya, dan alat apa yang digunakannya. Dibawah ini akan diuraikan secara rinci masing-masing topik tersebut.

A. Mustahik qishosh
Orang yang berhak terhadap qishosh untuk tindak pidana atas selain jiwa adalah korban itu sendiri, bukan oran lain. Dia pulalah yang berhak melaksanakan qishosh itu apabial ia telah balig dan berakal. Apabila korban itu belum balig atau tidak berakal, menurut Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan sebagian fuqoha HaNabilah, yang berhak melaksanakan qishosh adalah wali atau washinya. Akan tetapi menurut mazhab Syafi’i dan sebagian besar fuqoha HaNabilah, wali dan washi tidak berhak untuk melaksanakan qishosh atas nama anaknya atau orang yang di bawah perwaliannya yang masih dibawah umur atau gila. Alasannya adalah karena qishosh itu tujuannya antara lain untuk mengobati jiwa orang yang menjadi korban, supaya ia merasa puas, dan hal itu tidak terpenuhi apabila qishosh itu dilaksanakan oleh orang lain, yaitu wali atau washi. Oleh karena itu pelaksanaan qishosh tersebutditunda sampai korban tersebut dewasa atau sembuh dari gilanya.

B. Eksekusi qishosh
Meskipun orang yang berhak terhadap qishosh dalam tindak pidana atas selain jiwa adalah korban itu sendiri, namun pelaksanaannya harus dilakukan dihadapan penguasa atau dibawah pengawasannya. Hal ini karena pelaksanaan qishosh dalam tindak pidana atas selain jiwa memerlukan ketelitian, kehati-hatian, bahkan suatu keahlian.

Menurut mazhab Hanafi dan salah satu pendapat di dalam mazhab Hanbali korban dibolehkan untuk melaksanakan suatu hukuman qishosh untuk dirinya sendiri apabila ia mampu melaksanakannya dengan baik sesuai dengan persyaratan yang telah dikemukakan di atas. Apabila ia tidak mampu melaksanakannya dengan baik, ia boleh mewakilkan kepada orang lain yang mampu. Dalam kaitan dengan hal ini, ulama HaNabilah yang mengambil pendapat ini, membolehkan ditunjuknya seorang yang ahli melaksanakan qishosh oleh kholifah yang di gaji dari baitul mal. Dengan demikian apabila sewaktu-waktu diperlukan, petugas yang ahli untuk mengeksekusi qishosh sudah tersedia.

Menurut Imam Malik, Imam Syafi’i dan salah satu pendapat di kalanngan ulama HaNabilah, dalam tindak pidana atas selain jiwa tidak boleh melaksanakan sendiri hukuman qishosh tersebut, baik ia mampu maupun tidak. Alasannya adalah walaupun dieksekusi oleh korban sendiri dapat mengobati kepedihan jiwanya, namun pelaksanaan yang tepat tanpa terjadinya kelebihan sulit untuk di jamin, apalagi kalau disertai emosi yang tinggi. Oleh karena itu menurut mereka pelaksanaan qishosh dalam tindak pidana atas selain jiwa harus dilakukan oleh petugas yang ahli.

Adapun alat yang digunakan untuk melaksanakan qishosh dalam tindak pidana atas selain jiwa berbeda dengan alat yang digunakan untuk melaksanakan qishosh dalam tindak pidana atas jiwa. Apabila dalam tindak pidan atas jiwa (pembunuhan) alat yang digunakan untuk melaksanakan hukuman qishosh adalah pedang, seperti yang telah diuraikan terdahulu maka dalam tindak pidana atas selain jiwa pedang tidak boleh digunakan, karena dikhawatirkan akan menimbulkan kelebihan. Dengan demikian maka alat yang digunakan untuk eksekusi qishosh adalah alat yang sesuai dengan jenis anggota badan yang akan di- qishosh dan yang dapat menjamin tidak terjadi kelebihan dalam qishosh tersebut. Untuk memotong telinga atau jari dapat digunakan pisau atau senjata tajam lain yang sesuai.

Eksekusi qishosh harus dilakukan dengan cara yang paling mudah dan ringan, sehingga seolah-olah terhukum tidak merasa sakit dan tersiksa. Hal ini karena hukuman qishosh bukan merupakan tindakan balas dendam dan penyiksaan. Dasar hukum tentang cara qishosh ini adalah hadis Nabi saw; dari Abu Ya’la bin Syaddad bin Aws r.a dari Rosulullohs.a.w beliau bersabda;
“sesungguhnya Alloh telah memerintahkan ihsan (berbuat baik) dalam segala sesuatu. Apabila kamu membunuh (meng- qishosh) maka laksanakanlah qishosh itu dengan cara yang baik, dan apabila kamu menyembelih (binatang) maka laksanakan penyembelihan itu dengan baik. Dan hendaklah kamu menajamkan pisaunya dan menggembirakan binatang sembelihannya.”
{Hadis Riwayat Muslim}

Dalam rangka melaksanakan ihsan, sesuai dengan hadis tersebut diatas hukuman qishosh tidak boleh dilaksanakan dalam situasi panas yang sangat tinggi (panas terik), atau juga dalam kondisi cuaca yang sangat dingin, karena kondisi yang demikian itu mungkin dapat menimbulkan akibat atau pengaruh yang negatif dan merugikanterhadap kondisi fisik terhukum. Demikian pula qishosh tidak boleh dilaksanakan apabila pelaku terhukum sedang sakit, atau sedang hamil. Dalam kedua kasus ini, hukuman qishosh dilaksanakan apabila terhukum sudah sembuh dari sakitnya atau sudah melahirkan.

V. Gugurnya Hukuman Qishosh
Disamping terhalang oleh beberapa sebab yang telah dikemukakan di atas, hukuman qishosh juga dapat gugur oleh beberapa sebab. Sebab sebab tersebut adalah sebagai berikut;
Tidak adanya tempat (objek) qishosh
Pengampunan
Perdamaian (shulh)

A. Tidak adanya tempat (objek) qishosh
Objek (tempat) qishosh dalam tindak pidana atas selain jiwa adalah anggota badan yang sama dengan objek tindak pidana. Apabila anggota badan yang menjadi objek qishosh itu hilang atau rusak karena sesuatu sebab, seperti sakit, kecelakaan, atau karena hukuman yang pernah diterimanya di masa lalu, hukuman qishosh dapat gugur, karena anggota badan yang akan di qishosh tidak ada.

Apabila qishosh itu gugur, karena anggota badan yang akan di- qishosh tidak ada, konsekuensi lebih lanjut diperselisihkan oleh para fuqoha. Menurut Imam Malik, korban tidak menerima apa-apa, terlepas dari sebab apapun yang menggugurkan hukuman qishosh tersebut. Alasannya, dalam jarimah qishosh, hak korban itu adalah qishosh nya itu sendiri. Apabila qishosh gugur, maka gugurlah hak korban.

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa dalam kasus semacam ini, harus dilihat dahulu sebab hilangnya anggota badan yang akan di- qishosh tersebut. Apabila sebab hilangnya anggota badan tersebut karena kecelakaan, penyakit, atau dianiaya. Maka pelaku bebas dari hukuman dan korban tidak menerima apa-apa. Akan tetapi apabila sebab hilangnyaanggota badan tersebut karena eksekusi hukuman, hukuman qishosh tersebut harus diganti dengan hukuman diat. Menurut mazhab Syafi’i dan mazhab Hanbali, dalam kasus semacam ini korban berhak menerima diat sebagai pengganti hukuman qishosh yang gugur, tanpa melihat sebab hilangnya anggota badan yang menjadi objek qishosh.

B. Pengampunan
Menurut mezhab Syafi’i dan mazhab Hanbali, pengampunan dari qishosh mempunyai pengertan ganda, yaitu pengampunan dari qishosh saja, atau pengampunan dari qishosh dan diganti dengan diat. Kedua pengertian tersebut merupakan pembebasan hukuman dari pihak korban tanpa menunggu persetujuan dari pihak pelaku. Sedangkan menurut Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, pengampunan itu hanyalah pembebasan dari hukuman qishosh saja. Adapun pengalihan kepada diat menurut mereka bukan merupakan pengampunan melainkan termasuk perdamaian (shulh). Hal ini karena penggantian dengan hukuman diat itu tergantung kepada persetujuan pelaku. Perbedaan pendapat mengenai hal ini sudah sudah diuraikan dengan jelas dalam pembahasan mengenai tindak pidana atas jiwa, sehingga tidak perlu diperpanjang lagi.

Adapun yang berhak memberikan pengampunan itu adalah korban itu sendiri apabila ia telah balig dan berakal. Apabila ia belum balig atau akalnya tidak sehat, menurut mazhab Syafi’i dan mazhab Hanbali, hak itu dimiliki oleh walinya. Sedangkan menurut Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, wali dan washi (pemegang wasiat) tidak memiliki hak maaf, melainkan hanya hak untuk mengadakan perdamaian (shulh) saja.

C. Perdamaian (shulh)
Baik korban atau walinya maupun washinya diperbolehkan untuk mengadakan perdamaian dalam hal penggantian hukuman qishosh dengan imbalan pengganti yang sama dengan diat atau lebih besar dari diat. Akan tetapi, walaupun wali atau washinya berhak melakukan perdamaian, namun dalam pelaksanaannya mereka tidak boleh mengadakan negosiasi dengan imbalan penggantian yang lebih kecil dari pada diat, karena hal itu dapat merugikan korban. Apabila hal itu dilakukan juga, perdamaian tersebut tetap sah, dan hukuman qishosh dapat gugur, tetapi korban masih memiliki hak untuk meminta tambahan atas kekurangan diat tersebut. Masalah perdamaian ini telah diuraikan dengan panjang lebar dalam pembahasan tindak pidana atas jiwa sehingga di sini tidak perlu diperpanjang lagi.

About ngobrolislami

hamba ALLAH
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s