KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: HUKUMAN DIAT UNTUK IBANAH (PERUSAKAN) ATHROF DAN SEJENISNYA

Hukuman diat
Hukuman diat merupakan hukuman pengganti untuk Qishash apabila hukuman qishash terhalang karena suatu sebab, atau gugur karena sebab sebab tertentu. Diat sebagai hukuman pengganti berlaku dalam tindak pidana atas selain jiwa dengan sengaja. Di sampiing itu diat juga merupakan hukuman pokok apabila jinayahnya menyerupai sengaja atau kesalahan, seperti apa yang dikemukakanoleh syafi’iyah dan hanabilah.

Diat sebagai hukuman pokok atau hukuman pengganti, digunakan untuk pengertian diat yang penuh (kamilah), yaitu seratus ekor unta. Adapun hukuman yang kurang dari diat penuh (kamilah), maka digunakan istilah irsy. Walaupun demikian, kebanyakan para ulama mungkin untuk mempermudah penyebutan tetap menggunakan lafaz diat untuk hukuman yang seharusnya digunakan istilah irsy.

Irsy (ganti rugi) ada dua macam;
Irsy yang telah ditentukan (irsyum muqoddar)
Irsy yang belum ditentukan (irsyun ghoyru muqoddar)

Irsyum muqoddar adalah ganti rugi yang sudah ditentukan batas dan jumlahnya oleh syara’. Contohnya ganti rugi untuk satu tangan atau satu kaki. Sedangkan irsyun ghair muqaddar adalah ganti rugi atau denda yang belum ditentukan oleh syara’, dan untuk penentuannya diserahkan kepada hakim. Ganti rugi yang ke dua ini disebut hukumah.

Hukuman diat (kamilah) berlaku apabila manfaat jenis anggota badan hilang seluruhnya, seperti hilangnya dua tangan. Sedangkan irsy berlaku apabila manfaat jenis anggota badan itu hilang sebagian, sedangkan sebagian lagi masih utuh. Contohnya seperti hilangnya satu tangan, atau satu kaki, atau satu jari.

Diat kamilah
Diat kamilah atau diat sempurna berlaku apabila manfaat jenis anggota badan dan keindahannya hilang sama sekali. Hal ini terjadi dengan perusakan seluruhanggota badan yang sejenis, atau dengan menghilangkan manfaatnya tanpa merusak atau menghilangkan bentuk atau jenis anggota badan itu.

Anggota badan yang berlaku diat yang sempurna ada empay kelompok, yaitu sebagai berikut;
Anggota yang tanpa pasangan
Termasuk dalam kelompok ini adalah
Hidung
Lidah
Zakar (kemaluan)
Tulang belakang (ash shulb)
Lubang kencing
Lubang dubur
Kulit
Rambut
Jenggot

Anggota yang berpasangan (dua buah)
tangan
kaki
mata
telinga
bibir
alis
payudara
telur kemaluan laki-laki
bibir kemaluan perempuan
pinggul
tulang rahang

Anggota yang terdiri dari dua pasang
Yang termasuk dalam kelompok ini adalah;
Kelopak mata
Bulu mata

Anggota yang terdiri dari lima pasang atau lebih;
Jari tangan
Jari kaki
Gigi

Diat ghair kamilah
Di atas telah dikemukakan bahwa diat ghair kamilah berlaku dalam ibanah al athraf, apabila jenis anggota badan atau menfaatnya hilang sebagian, sedangkan sebagian lagi masih utuh. Diat ghair kamilah atau irsy ini berlaku untuk semua jenis anggota badan, baik yang tunggal (tanpa pasangan) maupun yang berpasangan.

Dalam perusakan anggota badan yang tunggal (tanpa pasangan), irsy berlaku apabila perusakan berlaku pada sebagian anggota badan. Pada perusakan hidung misalnya, irsy berlaku pada perusakan batang hidung (qashabah). Demikian pula dalam pemotongan lidah, irsy berlaku pada pemotongan sebagian lidah yang mengakibatkan kurang sempurna perkataan, atau pada perusakan lidah yang bisu. Dalam pemotongan zakar, irsy berlaku pada pemotongan zakar yang tidak ada hasyafah-nya.

Dalam perusakan atau pemotongan anggota badan yang berpasangan, irsy berlaku apabila pemotongan terjadi pada sebagian dari pasangan tersebut. Sebagai contoh untuk pemotongan sebelah tangan atau kaki dikenakan irsy muqaddar (ganti rugi yang tertentu). Pada pemotongan satu jari misalnya, berlaku irsy muqaddar yaitu sepuluh ekor unta, dua jari duapuluh ekor unta, dan seterusnya. Pemotongan sebelah telinga dikenakan irsy muqaddar. Demikian pula perusakan atau penanggalan satu gigi dikenakan irsy muqaddar, yaitu lima ekor unta, dua gigi sepuluh ekor unta, dan seterusnya.

Di bawah ini dijelaskan secara rinci diat kamilah dan ghair kamilah (irsy) untuk masing-masing anggota badan tersebut.

Diat hidung
Diat yang sempurna untuk hidung berlaku apabila bagian yang rusak adalah tulang rawan. Alasannya adalah hadis yang diriwayatkan oleh abu bakar ibn muhammad ibn amr ibn hazm dari ayahnya dari kakeknya bahwa nabi saw menulis surat untuk penduduk yaman, yang berisi ketentuan mengenai qishash dan diat. Di dalam hadis tersebut antara lain rasulullah saw bersabda;
…Di dalam perusakan hidung apabila menghilangkan seluruh tulang rawan berlaku hukuman diat…
(hadis diriwayatkan oleh abu dawud di dalam marasil, nasa’i, ibn ibn khuzaimah, ibn jarud, ibn hibban, dan ahmad)

Alasan lain adalah pada hidung terdapat keindahan dan manfaat. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara hidung yang mempunyai daya penciuman dengan yang tidak memilikinya. Pemotongan sebagian dari hidung juga dikenakan hukuman diat (irsy), sesuai dengan kadar perusakannya. Apabila hidung yang di potong itu seperuh, maka diatnya separuh, dan apabila yang di potong itu sepertiga maka hukumannya sepertiga diat. Bagian – bagian dari hidung, yaitu dua sisi kanan dan kiri yang di sebut munkhar, dan diantara keduanya ada penyekat yang disebut hajiz, menurut imam nawawi untuk masing – masing bagian adalah sepertiga diat.

Apabila yang dipotong tulang rawan (marin) dan batang hidung (qashabah), menurut mazhab syafi’i dan alah satu pendapat fuqaha hanabilah, untuk tulang rawan satu diat dan untuk batang hidung (qashabah) berlaku hukumah. Menurut imam malik dan imam abu hanifah serta salah satu pendapat hanabilah, dalam kasus ini pelaku hanya dikenakan satu diat, karena tulang rawan dan batang hidung kedua-duanya merupakan satu kesatuan yang disebut hidung.

Diat lidah
Dalam perusakan atau pemotongan lidah berlaku hukuman diat, berdasarkan hadis rasulullah saw melalui amribn hazm:
“…dan pada pemotongan lidah berlaku hukuman diat…”

Alasan lain adalah karena pada lidah terdapat keindahan dan manfaat. Ada dua manfaat yang terdapat pada lidah, yaitu untuk berbicara dan untuk merasakan berbagai rasa makanan.

Hukuman diat untuk perusakan lidah berlaku untuk lidah yang mampu berbicara. Apabila seseorang melakukan tindakan yang merusak lidah, sehingga pemiliknya menjadi bisu, ia wajib dikenakan hukuman diat yang sempurna, meskipun lidahnya sendiri masih utuh.

Pemotongan sebagian lidah yang mengakibatkan kurang sempurnanya ucapan korban dapat dikenakan hukuman diat sesuai dengan kadar hilangnya (tidak sempurnanya) perkataan. Menurut ar-rahman sebagaimana dikutip oleh dr. Saliman, s.h., diat dibagi – bagi menurut hilangnya huruf. Ada enambelas macam huruf yang dikeluarkan oleh lidah, yaitu ta, tsa, jim, dal, dzal, ra, zai, sin, syin, shad, dhad, tha, zha, lam, mim, nun, dan ya. Dalam hal ini diat wajib dibayarkan atas huruf – huruf yang tidak dapat lagi diucapkan atau hilang. Apabila diat dibagi dalam enambela huruf tersebut, untuk hilangnya satu huruf wajib dibayar seperenam belas diat.

Dalam perusakan lidah yang bisu, menurut imam malik dan imam abu hanifah, hanya berlaku hukumah. Sedangkan menurut mazhab syafi’i dalam kasus ini harus dibedakan antara perbuatan yang mengakibatkan hilangnya perasaan lidah (dauq) dan tidak menghilangkannya. Apabila perusakan tersebut menghilangkan perasaan lidah (dauq) maka pelaku wajib dikenakan diat, dan apabila tidak menghilangkannya, pelaku hanya dikenakan hukumah. Dalam mazhab hanbali ada yang berpendapat bahwa dalam hal perusakan lidah yang bisu tidak wajib diat secara mutlak.

Diat zakar
Dalam perusakan zakar (alat kelamin laki-laki) dan menghilangkan manfaatnya, berlaku hukuman diat, berdasarkan hadis rasulullah saw, melalui amr ibn hazm:
“…dan pada perusakan zakar berlaku hukuman diat…”
Selain hadis tersebut alasan lain adalah karena zakar merupakan alat yang sangat vital bagi manusia yang mengandung unsur keindahan dan manfaat yang sangat besar.

Dalam hal pemotongan zakar ini tidak ada perbedaan antara zakar anak – anak, pemuda, orang tua, dan orang dewasa. Semuanya itu tetap berlaku hukuman diat.

Dalam pemotongan kepala kemaluan (hasyafah) tetap berlaku satu diat, karena hasyafah merupakan bagian yang menyebabkan sempurnanya manfaat zakar. Dalam pemotongan sebagian hasyafah berlaku separuh diat.

Dalam hal pemotongan zakar yang lemah karena dikebiri atau karena impoten, terjadi perbedaan pendapat. Menurut mazhab syafi’i, hanbali, dan salah satu pendapat dalam mazhab maliki, tetap berlaku satu diat. Alasan mereka adalah karena anggotanya (zakarnya) tetap sempurna (sehat), sedangkan lemahnya kemampuan jima’, disebabkan karena unsur yang lain. Akan tetapi menurut imamabu hanifah, dalam kasus ini hanya berlaku hukumah, karena yang menjadi ukuran standar adalah kemampuan untuk melakukan hubungan seksual. Pendapat ini merupakan salah satu pendapat mazhab maliki. Dalam hal zakar tanpa hasyafah, para ulama sepakat bahwa pelaku hanya dikenakan hukumah.

Diat tulang belakang (ash_shulb)
Dalam perusakan tulang belakang (ash shulb) berlaku satu diat, berdasarkan hadis rasulullah saw melalui amr ibn hazm:
“…dan pada perusakan tulang rusuk (belakang) berlaku hukuman diat…”

Alasan lain adalah perusakan tulang belakang menghilangkan manfaat anggota badan yang lain, misalnya kemampuan berjalan.

Apabila kerusakan tersebut hanya retak saja, menurut satu pendapat dalam mazhab hanbali berlaku hukuman diat. Sedangkan pendapat yang lain dalam pendaat mazhab hanbali, sama dengan pendapat jumhur fuqaha, yaitu hanya dikenakan hukumah, selama perusakan tersebut tidak sampai menghilangkan manfaat dan kemampuan berjalan dan berjima’. Akan tetapi apabila retanya tulang belakang tersebut mengakibatkan korban tidak mampu berjalan dan berjima’, hukumannya adalah diat.

Diat saluran (lubang) kencing dan lubang dubur
Apabila suatu tindakan pidana mengakibatkan rusaknya saluran kencing atau dubur sehingga air kencing dan atau kotoran tidak dapat dikendalikan, pada masing-masing saluran tersebut berlaku hukuman diat. Hal ini karena kedua anggota badan tersebut merupakan anggota yang sangat penting dalam tubuh manusia. Oleh karena itu kedudukannya sama dengan organ tubuh yang lain seperti telinga atau mata.

Apabila manfaat kedua saluran tadi rusak karena satu tindak pidana pelaku dikenakan dua diat, karena keduanya merupakan dua jenis anggota badan yang fungsinya berainan. Hal ini telah disepakati oleh para fuqaha. Namun di kalangan mazhab maliki ada pendapat yang menyatakan bahwa untuk kedua saluran tersebut masing – masing hanya berlaku hukumah.

Diat kulit
Menurut mazhab syafi’i beraku hukuman diat atas tindak pidana yang mengakibatkan kulit rusak atau terkelupas seluruhnya, karena pada umumnya seseorang jarang yang dapat bertahan hidup dalam kondisi tubuh tanpa kulit. Imam malik berpendapat bahwa pada kulit berlaku hukuman diat apabila pelaku melakukan perbuatan yang mengakibatkan kulit menjadi hitam dan belang. Akan tetapi menurut imam abu hanifah dan imam ahmad ibn hanbal, pada perusakan kulit tidak berlakuhukuman diat, melainkan hukumah.

Diat rambut, jenggot dan alis
Menurut imam abu hanifah, hukuman diat berlaku dalam tindak pidana merusak dan menghilangkan rambut kepala, baik laki-laki maupun perempuan, dan jenggot, dengan syarat rambut tersebut tidak bisa tumbuh lagi. Alasannya adalah karena rambut, baik bagi laki-laki maupun perempuan, merupakan sesuatu yang dapat menambah keindahan dan kecantikannya. Sedangkan untuk rambut (bulu) yang lain, seperti alis dan kumis, hanya berlaku hukumah.

Imam ahmad sama pendapatnya dengan imam abu hanifah, hanya berbeda dalam menentukan hukuman karena menghilangkan kedua alis, yaitu berlaku hukuman diat. Sedangkan imam syafi’i dan imam malik berpendapat bahwa dalam merusak atau menghilangkan rambut hanya berlaku hukumah, karena dalam hal ini yang hilang hanya keindahannya saja.

Diat tangan
Dalam menghilangkan kedua tangan berlaku hukuman diat. Alasannya adalah hadis yang diriwayatkan oleh mu’adz bahwa rasulullah saw bersabda;
“…di dalam perusakan kedua tangan berlaku hukuman diat…”

Apabila salah satu tangan yang hilang, rusak, atau potong, hukumannya adalah separuh diat, berdasarkan surat dari nabi muhammad kepada amr ibn hazm ketika ia ditugaskan ke najran yang isinya antara lain;
“…dalam perusakan satu tangan dikenakan hukuman lima puluh ekor unta…”

Para ulama berbeda pendapat dalam mengartikan “tangan” (al-yad). Menurut kebanyakan fuqaha dari mazhab syafi’ dan sebagian fuqaha hanabilah serta imam abu hanifah dan imam muhammad ibn hasan yang dimaksud dengan tangan itu adalah telapak tangan (sampai batas pergelangan tangan). Konsekuensi dari pengertian tersebut adalah hukuman diat berlaku untuk pemotongan tangan sampai batas pergelangan tangan. Apabila pemotongan melebihi telapak tangan (pergelangan), untuk kelebihan tersebut berlaku hukumah. Menurut imam malik, sebagian besar fuqaha hanabilah, sebagian fuqaha mazhab syafi’i, dan imam abu yusuf dari mazhab hanafi, yang dimaksud dengan tangan itu adalah keseluruhan tangan mulai dari telapak sampai pundak. Konsekuensi dari pengertia ini adalah bahwa hukuan diat berlaku untuk pemotongan telapak tangan maupun selebihnya.

Pemotongan jari tangan dikenakan hukuman sepersepuluh diat, yaitu sepuluh ekor unta untuk satu jari. Hal ini didasarkan kepada hadis abi bakar ibn muhammad ibn hazm, yang didalamnya disebutkan:
“…dan untuk setiap jari tangan dan kaki dikenakan sepuluh ekor unta.”

Alasan lain adalah karena jari itu jumlahnya ada sepuluh buah, sehingga perhitungan diatnya untuk satu jari, seratus ekor unta dibagi sepuluh.

Pemotngan bagian-bagian jari, selain ibu jari dikenakan hukuman sepertiga diat. Sedangkan pemotonga ibu jari hukumannya adalah separuh diat.

Untuk pemotongan tangan atau jari yang lumpuh, hanya berlaku hukumah. Alasannya dalam kasus ini yang dirusak hanya keindahannya saja sedangkan manfaatnya memang sejak awal sudah tidak ada. Akan tetapi menurut pendapat sebagian fuqaha hanabilah, dalam kasus ini hukumannya adalah sepertiga diat.

Diat kaki
Perusakan atau pemotongan kedua kaki dikenakan hukuman diat kamilah, sedangkan untuk satu kaki adalah separuh diat. Hal ini didasarkan kepada hadis yang diriwayatkan oleh imam abu dawud, nasa’i dan lain-lain dari abu bakar ibn muhammad ibn amr ibn hazm yang di dalam nya disebutkan:
…pada pemotongan satu kaki berlaku separuh diat…

Seperti halnya dalam mengartikan kata tangan, para ulama juga berbeda pendapat dalam mengartikan kaki. Menurut kebanyakan fuqaha mazhab syafi’i, sevagian fuqaha hanabilah, dan imam abu hanifah serta muhammad ibn hasan, yang dimaksud dengan kaki adalah telapak kaki (sampai batas mata kaki). Konsekuensi dari pengertian ini adalah hukuman diat berlaku untuk pemotongan kaki sampai batas mata kaki. Apabila pemotongan melebihi mata kaki maka untuk, kelebihan tersebut disamping diat, berlaku juga hukumah. Menurut imam malik, sebagan besar fuqaha hanabilah, sebagian besar fuqaha mazhab syafi’i, dan imam abu yusuf dari mazhab hanafi, yang dimaksud dengan kaki adalah keseluruhan kaki dari mulai telapak kaki sampai pangkal paha. Konsekuensi hukum dari pengertian ini adalah baik pemotongan telapak kaki hanya berlaku satu diat kamilah, tanpa ada tambahan hukumah.

Pemotongan jari kaki hukumanya sama dengan pemotongan jari tangan, yaitu sepersepuluh diat untuk satu jari, yaitu sepuluh ekor unta. Demikian pula pemotongan bagian – bagian jari kaki, hukumannya sama dengan pemotongan bagian – bagian jari tangan.

Diat mata
Hukuman diat untuk perusakan kedua mata adalah seratus ekor unta, sedangkan untuk perusakan sebelah mata diatnya adalah limapuluh ekor unta. Ketentuan ini didasarkan pada hadis nabi dari amr ibn hazm, yang didalamnya disebutkan;
“…pada perusakan kedua mata berlaku hukuman diat…”

Untuk mata yang buta sebelah, sedangkan yang sebelahnya masih normal, menurut imam abu hanifah dan imam syafi’i, untuk keduanya berlaku separuh diat, karena mata yang sebelah tidak berfungsi. Akan tetapi menurut imam malik dan imam ahmad, untuk keduanya berlaku diat yang sempurna, yaitu seratus ekor unta. Hilangnya daya penglihatan juga menyebabkan berlakunya hukuman diat, meskipun matanya masih utuh.

Diat telinga
Perusakan atau pemotongan kedua telinga dikenakan hukuman diat yang sempurna, yaitu seratus ekor unta, sedangkan perusakan salah satunya dikenakan separuh diat atau limapuluh ekor unta. Ketentuan ini didasarkan kepada hadis nabi dari amr ibn hazm yang didalamnya disebutkan:
“…pada perusakan satu telinga berlaku hukuman diat lima puluh ekor unta…”

Disamping hadis tersebut alasan lain oleh karena pada telinga terdapat unsur keindahan dan manfaat.

Pemotongan sebagian telinga juga dikenakan jukuman diat sesuai dengan kadar atau ukuran pemotongannya, misalnya separuh, sepertiga, atau seperempat.

Apabila pemotongan kedua telinga tidak mengakibatkan hilangnya daya pendengaran maka menurut jumhur fuqaha, yaitu imam abu hanifah, imam syafi’i, imam ahmad, dan sebagian fuqaha malikiyah pelaku tetap dikenakan hukuman diat. Alasan mereka adalah bahwa kedua telinga mempunyai manfaat yang terpisah dari daya pendengaran, yaitu menampung dan mengumpulkan suara sebelum suara itu masuk ke gendang telinga. Akan tetapi sebagian fuqaha malikiyh berpendapat, bahwa dalam kasus tersebut pelaku hanya dikenakan hukumah. Alasanya adalah kedua daun telinga itu tidak memiliki manfaat, melainkan hanya berfungsi sebagai keindahan saja dan imbangan untuk keindahan itu hanyalah hukumah.

Diat bibir
Perusakan kedua bibir dikenakan diat yang sempurna, yaitu seratus ekor unta. Ketentuan ini didasarkan pada hadis nabi dari amr ibn hazm yang didalamnya disebutkan;
“…dan pada perusakan dua bibir berlaku diat..”

Di samping hadis tersebut, alasan lain adalah karena bibir itu banyak manfaatnya, disamping berfungsi sebagai keindahan.

Pemotongan satu bibir baik sebelah atas maupun sebelah bawah dikenakan separuh diat, yaitu lima puluh ekor unta. Demikian pula pemotongan sebagian dari bibir dikenakan hukuman diat, sesuai dengan kadar pemotongannya.

Diat puting susu dan buah dada
Pemotongan buah dada dikenakan hukuman diat yang sempurna dan pada salah satunya dikenakan separuh diat. Disamping itu, juga berlaku hukuman diat untuk pemotongan kedua puting susu. Dalam pemotongan kedua puting susu ini, imam malik mensyaratkan terhentinya air susu untuk bisa berlakunya hukuman diat. Apabila syarat ini tidak terpenuhi maka berlaku hukumah. Sedangkan ulama yang lain tidak mensyaratkan hal tersebut.

Perusakan buah dada laki-laki menurut imam malik, imam abu hanifah, dan imam syafi’i hanya dikenakan hukumah. Sedangkan menurut mazhab hanbali, dalam kasus ini tetap berlaku hukuman diat.

Diat biji pelir (telur laki-laki)
Perusakan dua buah biji pelir (telur laki-laki) dikenakan hukuman diat yang sempurna. Hal ini didasarkan kepada hadis nabi dari amr ibn hazm yang di dalamnya disebutkan;
“…dan pada perusakan dua telur laki-laki berlaku hukuman diat…”

Perusakan pada salahsatu dari kedua biji pelir tersebut dikenakan hukuman separuh diat.

Pemotongan zakar (penis) dan dua buah telur sekaligus (bersamaan), atau memotong zakar terlebih dahulu kemudian telur, dapat dikenakan hukuma dua diat, satu diat untuk zakar dan satu diat untuk telur. Akan tetapi, apabila dua telur dipotong lebih dahulu sebelum zakar maka menurut mazhab hanafi dan sebagian fuqaha malikiyah, untuk pemotongan dua telur hukumnya adalah diAT, sedangkan untuk pemotongan zakar, dikenakan hukumah, karena menurut mereka setelah pemotongan telur, maka zakar menjadi impoten, dan akar yang impoten hanya dikenakan hukumah. Sedangkan menurut ulama-ulama yang lain, dalam pemotongan zakar dan telur hukumannya tetap dua diat, baik pemotongan telur dilakukan sebelum pemotongan zakar mmaupun sesudahnya.

Diat bibir kelamin perempuan
Dalam pemotongan dua bibir kemaluan perempuan berlaku hukuman diat yang sempurna apabila pemotongan tersebut sampai mengakibatkan kelihatan tulangnya. Pemotongan salah satunya dikenakan hukuman separuh diat. Alasanya adalah pada kedua bibir kemaluan tersebut terdapat keindahan dan manfaat. Dengan demikian, anggota badan tersebut disamakan statusnya dengan anggota badan yang lain.

Diat pinggul
Menurut imam abu hanifah, imam syafi’i dan imam ahmad, hukuman diat berlaku pada perusakan dua buah pinggul, dan pada perusakan salah satunya berlaku separuh diat. Alasanya adalah karena pinggul merupakan anggota badan yang jenis dan fungsinya berbeda dengan anggota badan yang lain. Di samping itu juga pada pinggul terdapat keindahan dan manfaat, seperti halnya anggota badan yang lain. Pendapat ini juga dikemukakan oleh sebagian ulama malikiyah.

Akan tetapi menurut sebagian uama malikiyah, pada perusakan dua buah pinggul hanya berlaku hukumah, baik perusakan sampai pada tulang yang ada di bawahnya maupun hanya sebagiannya.

Diat tulang rahang
Imam syafi’i dan imam ahmad berpendapat bahwa dalam perusakan dua rahang berlaku hukuman diat yang sempurna dan pada perusakan salah satunya berlaku separuh diat. Alasanya adalah karena pada tulang rahang tersebut terdapat unsur keindahan dan manfaat. Di samping itu juga tulang rahang merupakan anggota badan yang tidak ada padanannya dalam tubuh, yang fungsinya berbeda dengan anggota tubuh yang lain. Apabila gigi turut rontok pada perusakan rahang maka hukumannya ditambah dengan diat gigi.

Akan tetapi menurut imam malik, perusakan rahang tidak mewajibkan diat yang sempurna, melainkan disamakan dengan hukuman diat untuk mudhilah muka. Mudhilah adalah pelukaan pada bagiankepala atau muka sampai kelihatan tulangnya, dan hukumannya adalah denda yang telah ditentukan, yaitu lima ekor unta.

Diat kelopak mata
Menurut jumhur ulama, yaitu imam abu hanifah, imam syafi’i, dan imam ahmad, pada perusakan semua kelopak mata berlaku hukuman diat kamilah, yaitu seratus ekor unta. Alasanya adalah karena pada kelopak mata terdapat keindahan dan manfaat. Kelopak mata itu sendiri atas dua pasang atau ada empat buah maka untuk masing-masing berlaku seperempat diat atau dua puluh lima ekor unta. Akan tetapi menurut imam malik, untuk kelopak mata tidak berlaku hukuman diat melainkan hukumah yang penetapannya diserahkan kepada ijtihad hakim. Alasannya adalah karena dalam kasus ini tidak ada dalil (nas) yang menetapkan hukuman diatnya, dan imam malik tidak memberlakukan qiyas, sebagaimana yang dilakukan oleh imam-imam yang lain.

Diat bulu mata
Seperti halnya diat rambut, diat bulu mata ini juga diperselisihkan oleh para ulama. Menurut imam abu hanifah dan imam ahmad, perusakan bulu mata ini hukumannya adalah diat sempurna, dan pada masing-masingnya berlaku seperempat diat atau dua puluh lima ekor unta. Tetapi apabila bulu mata ini di potong bersama-sama dengan kelopak mata diatnya hanya satu, yaitu seratus ekor unta.

Menurut imam malik dan imam syafi’i pada perusakan bulu mata hanya berlaku hukumah, karena bulu mata ini hanya mengandung keindahan semata tanpa manfaat. Apabila bulumata dipotong bersama-sama dengan kelopaknya, di dalam mazhab syafi’i ada dua pendapat. Menurut pendapat pertama, untuk bulu mata tidak ada hukumannya, yang ada hanya diat untuk kelopaknya saja. Sedangkan menurut pendapat yang kedua, untuk perusakan kelopak mata berlaku hukuman diat, dan untukperusakan bulu mata berlaku hukumah.

Diat gigi
Hukuman ddiat yang berlaku untuk perusakan atau pencabutan setiap gigi adalah lima ekor unta. Ketentuan ini berdasarkan hadis nabi melalui amr ibn hazm yang di dalamnya disebutkan:
“…dan pada perusakan gigi berlaku hukumandiat lima ekor unta…”

Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara diat untuk gigi taring, gigi geraham, dan gigi lainnya. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh turmudzi dan abu dawud dari ibn abbas bahwa rasulullah bersabda:
“…dan diat gigi juga sama. Gigi depan dan geraham juga sama.”

Hukuman diat ini berlaku pada pencabutan atau perusakan gigi asli yang dewasa (matsghuroh). Sedangkan pada pencabutan gigi anak-anak, tidak dikenakan hukuman diat, karena menurut kebiasaannya, gigi tersebut akan tumbuh kembali.

Apabila terjadi pencabutan gigi yang goyah, sedangkan manfaatnya masih ada, yaitu untuk mengunyah makanan maka dalam kasus ini wajib ada ganti rugi (irsy). Apabila karena tindak pidana itu gigi berubah warnanya menjadi hitam, hijau, merah, atau kuning, maka menurut mazhab maliki harus ada ganti rugi (irsy) apabila perubahan kepada hijau, merah atau kuning tersebut menyamai hitam. Apabila tidak maka berlaku hukumah. Sedangkan menurut mazhab hanafi dalam kasus ini berlaku ganti rugi (irsy) apabila warna kuning tersebut menyamai hitam. Menurut salah satu pendapat dalam mazhab syafi,i dalam semua perubahan warna gigi tersebut hanya berlaku hukumah. Sedangkan menurut pendapat yang lain, pada perubahan gigi menjadi warna hitam berlaku hukuman diat apabila manfaatnya hilang. Apabila manfaat tersebut masih tetap ada, hukumannya adalah hukumah. Mazhab hanbali dalam salah satu pendapatnya sma dengan pendapat kedua dalam mazhab syafi,i, sedangkan menurut pendapat yang kedua, pada gigi yang berubah menjadi hitam berlaku hukuman diat.

Apabila satu tindak pidana merontokkan gigi seluruhnya, yaitu tiga puluh dua gigi, menurut jumhur ulama yang terdiri dari abu hanifah, imam malik dan imam ahmad ibn hanbal diatnya adalah seratus enam puluh ekor unta. Hal ini didasarkan ketentuan bahwa diat satu buah gigi adalah lima ekor unta. Dengan demikian apabila gigi yang rontok adalah tiga puluh dua buah, diatnya adalah 5 ekor x 32, dan hasilnya adalah 160 ekor unta. Di kalangan mazhab syafi’i dalam kasus ini berkembang dua pendapat. Pendapat pertama yaitu pendapat yang rajih sama dengan pendapat jumhur. Sedangkan menurut pendapat yang kedua, dalam kasus ini berlaku satu diat yang sempurna, yaitu seratus ekor unta, karena gigi merupakan satu jenis anggota badan, seperti halnya jari. Oleh karena gigi secara keseluruhan merupakan satu paket maka diatnya tidakboleh lebih dari seratus ekor unta.

About ngobrolislami

hamba ALLAH
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s