KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM HUKUMAN UNTUK MENGHILANGKAN MANFAAT ANGGOTA BADAN

Menghilangkan manfaat anggota badan tidak berarti menghilangkan jenis anggota badan itu sendiri. Artnya dalam hal ini yang hilang hanya manfaatnya saja, sedangkan jenis anggota badannya masih tetap ada. Dengan demikian bila disamping manfaatnya, anggota badan jug turut hilang atau rusak maka perbuatan tersebut termasuk merusak anggota badan (ibanah al athraf), karena manfaat itu mengikuti anggota badan.

Manfaat anggota badan ada yang menyatu dengan anggota badan dan ada pula yang terpisah. Kemampuan memegang menyatu dengan tangan sedangkan kemampuan mendengar ( daya pendengaran) terpisah dari telinga. Jenis manfaat anggota badan ini, seperti dikemukakan oleh wahbah zuhaili, yang mengutip pendapat sebagian ulama, ada duapuluh jenis bahkan lebih. Diantara jenis manfaat anggota badan tersebut adalah daya akal, pendengaran, penglihatan, penciuman, pembicaraan, suara, rasa (dzuq), pengunyahan (madhghun), pengeluaran mani (imna’) penghamilan (ihbal), persetubuhan (jima’), pengeluaran air seni (ifdha’), daya gerak (bathsyu), dan berjalan.

Hukuman untuk tindak pidana menghilangkan manfaat anggota badan ini adalah sebagai berikut.

1) Hukuman qishash
Meski faktor kesulitan untuk melaksanakan hukuman qishash dalam tindak pidana menghilangkan manfaat ini sangat besar, namun menurut jumhur fuqaha selama hal itu memungkinkan, tetap diupayakan untuk melaksanakannya. Apabila qishash betul-betul tidak memungkinkan untuk dilaksanakan maka pelaku dibebani hukuman diat.

2) Hukuman diat
Diatas telah dikemukakan bahwa manfaat anggota badan ada yang menyatu dengan anggota badannya dan ada pula yang terpisah. Dalam hal manfaat yang menyatu dengan anggota badannya maka apabila anggota badannya hilang atau rusak, dan dengan sendirinya mengakibatkan lenyapnya manfaatnya, hukuman yang dijatuhkan hanya satu diat, yaitu diat anggota badan. Apabila manfaatnya lenyap, sedangkan anggota badannya masih tetap utuh, barulah berlaku hukuman diat menfaat. Sebagai contoh dapat dikemukakan, apabila seorang memukul kepala orang lain dan mengakibarkan lenyapnya daya penglihatan dan daya pendengaran, sedangkan mata dan telinganya masih tetap utuh maka dalam kasus ini pelaku dikenakan dua diat, yaitu diat penglihatan dan pendengaran.

Dalam hal manfaat yang terpisah dari anggota badannya, apabila anggota badan hilang atau rusak karena suatu tindak pidana dan manfaatnya juga turut lenyap maka dalam kasus ini pelaku dikenakan dua diat, yaitu diat anggota badan dan diat manfaat. Contohnya apabila seseorang memukul bagian telinga orang lain, sehingga mengakibatkan hilangnya daun telingadan daya pendengarannya maka ia dikenakan dua diat, yaitu diat telinga dan diat pendengaran.

Menurut mazhab syafi’i dan hanbali, manfaat anggota badan yang dapat diberlakukan hukuman diat tidak terbatas kepada manfaat-manfat tertentu saja, melainkan mencakup semua jenis anggota badan yang memiliki manfaat. Manfaat-manfaat yang disebutkan dalam buku-buku itu hanya sekedar contoh dari beberapa jenis manfaat saja yang apabila lenyap maka wajib diat.

Imam malik membatasi manfaat anggota badan ini hanya pada sepuluh jenis saja, yaitu
a) Akal
b) Pendengaran
c) Penglihatan
d) Penciuman
e) Pembicaraan
f) Suara
g) Rasa (dzauq)
h) Jima’ dan keturunan
i) Perubahan warna kulit
j) Berdiri dan duduk

Dibawah ini akan dijelaskan hukuman diat atau ganti rugi untuk sebagian manfaat anggota badan yang dianggap sangat penting.

a) Diat akal
Apabila seseorang melakukan tindak pidan yang mengakibatkna hilangnya akal, ia dapat dikenakan hukuman diat. Ketentuan ini didasarkan pada hadis nabi yang diriwayatkan oleh amr ibn hazm yang didalamnya disebutkan
“…dan pada perusakan akal berlaku hukuman diat.”

Alasan lain adalah karena akal merupakan organ yang sangat penting dan besar pengaruhnya terhadap seluruh anggota tubuh, karena fungsinya sebagai pengatur dan pengendali. Disamping itu, akal menyebabkan manusia berbeda dengan binatang, sehingga ia (manusia) dibebani taklif. Oleh karena itu, wajarlah apabila seseorang melakukan tindak pidana yang menyebabkan hilang akal, ia dikenakan hukuman diat, yaitu seratus ekor unta.

b) Diat pendengaran
Apabila terjadi suatu tindak pidana yang mengakibatkan rusak atau lenyapnya daya pendengaran, pelaku dapat dikenakan hukuman diat. Ketentuan ini didasarkan kepada hadis nabi yang diriwayatkan oleh mu’adz bahwa nabi saw bersabda:
“…dalam melenyapkan daya pendengaran berlaku suatu diat…”
(hadis riwayat baihaqi)

Di samping hadis tersebut juga ada atsar sahabat. Diriwayatkan dari abi qilabah, bahwa seseorang melempar orang lain dengan batu pada kepalanya sehingga hilanglah pendengarannya, akalnya, pembicaraannya, dan kejantanannya, sedangkan orangnya masih hidup. Maka sayidina umar memutuskan dengan memberikan hukuman empat macam diat atau empat ratus ekor unta.

Apabila yang hilang hanya salah satu pendengarannya maka berlaku separuh diat. Apabila dipotng kedua telinga dan lenyap pula pendengarannya, maka berlaku dua diat, karena pendengaran terpisah dari telinga, sehingga hukumannya tidak bisa disatukan. Akan tetapi sebagian ulama malikiyah berpendapat, bahwa untuk pendengaran berlaku diat, sedangkan untuk telinga berlaku hukumah. Alasannya adalah karena menurut mereka perusakan telinga hanya dikenakan hukumah, bukan diat.

c) Diat daya penglihatan
Dalam menghilangkan daya penglihatan berlaku hukuman diat, karena penglihatan merupakan manfaat kedua mata. Apabila hilangnya anggota badan mewajibkan hukuman diat, maka demikian pula menghilangkan manfaatnya. Apabila manfaat yang hilang itu hanya sebelah maka diatnya adalah separuhnya, yaitu lima puluh ekor unta. Akan tetapi, apabila manfaat itu hilang bersama-sama dengan hilangnya kedua mata maka hukumannya hanya satu diat, yaitu diat mata.

d) Diat penciuman
Menghilangkan daya penciuman dapat dikenakan hukuman diat. Ketentuan ini berdasarkan hadis nabi dalam suratnya kepada amr ibn hazm, yang didalamnya disebutkan;
“…pada perusakan atau pelenyapan daya penciuman berlaku hukuman diat…”

Apabila seseorang memotong hidung orang lain yang mengakibatkan hilangnya daya penciuman, hukumannya adalah dua diat, karena penciuman terpisah dari hidung. Apabila daya penciuman hilang dari sebuah lubang hidung maka berlaku separuh diat, yaitu lima puluh ekor unta.

e) Diat perasaan (dzauq)
Menurut imam malik dan imam abu hanifah, dalam melenyapkan perasaan lidah (dzauq) berlaku hukuman diat. Alasannya adalah dengan mengiaskan perasaan lidah (dzauq) dengan kepada panca indra yang lain, seperti penciuman. Di kalangan mazhab hanbali berkembang dua pendapat. Pendapat pertama berlaku hukuman diat, sedangkan menurut pendapat yang kedua tidak berlaku hukuman diat.

Hukuman diat penuh ini berlaku apabila perasaan lidah ini hilang secara total. Akan tetapi, apabila rasa yang hilang itu hanya sebagian saja maka berlaku hukumah. Menurut imam nawawi, sebagaimana dikutip oleh haliman, indra rasa ini dapat mengetahui rasa manis, asam, pahit, asin dan sedap, dan hukumann diatnya dibagi-bagi sesuai dengan hilangnya rasa tersebut.

f) Diat kemampuan berbicara
Lenyapnya kemampuan berbicara karena suatu tindak pidana, mengakibatkan hukuman diat. Hukuman diat ini berlaku apabila tindak pidana mengakibatkan korban menjadi bisu. Syarbini khatib, seperti dikutip oleh haliman, mendasarkannya kepada hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, yang artinya:
“pada lidah satu diat apabila menyebabkan korban tidak bisa berbicara. Apabila yang hilang itu hanya sebagian dari kemampuan berbicara diatnya disesuaikan dengan kadar hilangnya kemampuan tersebut.

Apabila seseorang memotong lidah orang lain, sehingga mengakibatkan hilangnya kemampuan berbicara dan perasaan lidahnya maka untuk semua akibat tersebut pelaku hany dikenakan satu diat, karena diat kalam (berbicara) dan diat rasa (dzauq) sudah termasuk ke dalam diat lidah. Akan tetapi apabila seseorang melakukan tindak pidan sehingga mengakibatkan hilangnya kemampuan berbicara dan perasaan lidahnya sedangkan lidahnya masih utuh, pelaku dikenakan dua diat. Sedangkan menurut sebagian fuqaha hanabilah, dalam kasus terakhir ini hanya berlaku satu diat.

g) Diat kemampuan berjalan dan berjima’
Hilangnya kemampuan berjalan dan berjima’ karena suatu tindak pidana mengakibatkan hukuman diat yang sempurna untuk masing-masing hilangnya kemampuan tersebut.hilangnya kedua kemampuan ini biaanya timbul karena perusakan pada tulang belakang. Dengan demikian apabila suatu tindak pidana menyebabkan patahnya tulang belakang dan kemudian mengakibatkan korban tidak mampu melakuakn hubungan sesual (jima’) maka menurut imam malik hukumannya adalah dua diat. Apabila karena patahnya tulang belakang tersebut berakibat hilangnya kemampuan berjalan disamping hilangnya kemampuan berjima’ maka hukumannya adalah tiga diat. Akan tetapi apabila tulang belakangnya tidak patah, maka hanya berlaku dua diat.

Dalam mazhab syafi’i dan hanbali terdapat dua pendapat sebagai berikut. Pendapat pertama menyatakan bahwa untuk hilangnya kemampuan berjalan dan berjima’ berlaku dua diat, karena kedua manfaat tersebut berbeda antara yang satu dengan yang lain. Menurut pendaat yang kedua, dalam kasus tersebut hanya berlaku satu diat, karena kedua manfaat tersebut hanya bertumpu kepada manfaat satu anggota badan, yaitu tulang belakang.

Imam abu hanifah sama pendapatnya dengan pendapat yang kedua dari mazhab syafi’i dan hanbali, yaitu dalam hilangnya kedua manfaat tersebut hanya berlaku satu diat saja.

h) Manfaat lain-lain
Hukuman diat berlaku juga pada Ash-sha’r, yaitu apabila seseorang memukul orang lain sehingga mengakibatkan wajahnya berpindah ke samping dan tidak bisa kembali lagi. Pendapat ini dikemukakan oleh imam abu hanifah dan imam ahmad. Sedangkan menurut imam syafi’i dalam kasus ini hanya berlaku hukumah atau ganti rugi yang tidak tertentu, karena yang hilang hanya keindahannya, sedang manfaatnya tidak ada.

Menurut imam abu hanifah, hukuman diat berlaku juga dalam menghilangkan manfaat beranak. Mazhab syafi’i malah memperluas pemberlakuan diat terhadap hilangnya manfaat dari setiap organ tubuh yang ada pada manusia, seperti rusaknya pita suara, kemampuan pencernaan dan lain-lain

About ngobrolislami

hamba ALLAH
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s