KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM HUKUMAN UNTUK SYAJJAJ

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, syajjaj adalah pelukaan pada bagian muka dan kepala. Pelukaan tersebut ada yang ringan dan ada yang berat. Imam abu hanifah membagi syajjaj ini kepada 11 (sebelas) bagian, mulai dari yang paling ringan yaitu al-kharishah dan yang paling berat yaitu ad-damighah.

Hukuman untuk syajjaj sebagian ada yang dikenakan qishash, dan sebagian lagi adalah diat.

HUKUMAN QISHASH
Dari sebelas jenis syajjaj yang dikemukakan oleh imam abu hanifah di atas, hanya satu jenis yang disepakati oleh para ulama untuk dikenakan hukuman qishash, yaitu mudhihah. Mudhihah sebagaimana telah dikemukakan adalah pelukaan yang agak dalam sehingga memotong atau merobek selaput antara daging dan tulang, sehingga tulang tersebut kelihatan. Sedangkan jenis-jenis syajjaj di atas mudhihah yaitu hasyimah, munqilah, al ammah, dan ad damighah. Para fuqaha sepakat bahwa tidak berlaku hukuman qishash karena sangat sulit untuk dilaksanakan secara tepat tanpa ada kelebihan. Adapun jenis-jenis syajjaj sebelum (di bawah) mundhihah, para fuqaha berbeda pendapat tentang diterapkannya hukuman qishash atas jenis-jenis syajjaj tersebut. Imam malik berpendapat bahwa dalam semua jenis syajjaj sebelum mundhihah berlaku hukuman qishash, karena hal itu masih memungkinkan untuk dilaksanakan. Menurut imam abu hanifah mengacu kepada riwayat al hasan tidak ada qishash kecuali pada mundhihah dan simhaq, itupun kalau memungkinkan. Sementara menurut imam muhammad, qishash bisa diterapkan pada mundhihah, simhaq, badhi’ah, dan damiyah, karena kesepadanan masih mungkin dilaksanakan dengan mengukur lukanya, baik lebar maupun dalamnya.

Menurut mazhab syafi’i dan hanbali, tidak ada hukuman qishash pada syajjaj sebelum mudhihah, karena luka-luka tersebut tidak sampai kepada tulang sehingga tidak ada batas pasti yang aman dari kelebihan.

HUKUMAN DIAT
Hukuman diat yang diberlakukan untuk syajjaj adalah diat ghair kamilah atau yang disebut dengan irsy (ganti rugi). Untuk syajjaj di bawah mudhihah para ulama telah sepakat bahwa dalam kasus ini tidak ada irsy muqaddar (ganti rugi yang tertentu). Dengan demikian untuk syajjaj sebelum (di bawah) mudhihah hanya berlaku hukumah, yaitu gantirugi yang besarnya diserahkan kepada keputusan hakim. Akan tetapi ada satu riwayat dari imam ahmad, bahwa untuk damiyah dikenakan satu ekor unta, badi’ah dua ekor unta, mutalahimah tiga ekor unta, dan simhaq empat ekor unta. Dasarnya adalah bahwa zaid ibn tsabit pernah memutuskan hal itu.

Untuk tindak pidana syajjaj mulai dari mudhihah dan sesudahnya berlaku irsyun muqaddar (ganti rugi yang tertentu). Untuk mudhihah ganti ruginya adalah lima ekor unta, berdasarkan hadis amr bin hazm, dimana didalamnya disebutkan:
“dan didalam luka mudhihah hukumannya adalah lima ekor unta.”

Pendapat ini juga didasarkan kepada hadis ‘amr ibnu syu’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwa rasulullah s.a.w bersabda;
“di dalam luka-luka mudhihah berlaku lima ekor unta.”
{Hadis riwayat imam ahmad dan empat ahli hadis}

Ganti rugi dalam kasus ini berlaku untuk setiap luka mudhihah, baik kecil maupun besar, luka yang kelihatan maupun tertutup dengan rambut, karena istilah mudhihah berlaku untuk semua jenis mudhihah. Menurut imam yang empat, ganti rugi untuk luka mudhihah muka dan kepala sama saja. Akan tetapi untuk imam ahmad ada sedikit pendapat yang berbeda, yaitu bahwa ganti rugi untuk mudhihah pada muka harus dilipat gandakan, karena bekas lukanya lebih banyak dan jelas kelihatan, serta tidak tertutup oleh rambut, sebagaimana halnya pada kepala.

Menurut imam abu hanifah, imam syafi’i, dan imam ahmad, selain ganti rugi yang telah ditentukan, tidak ada tambahan apapun untuk mudhihah ini, walaupun lukanya telah sembuh dengan meninggalkan bekas yang buruk. Akan tetapi menurut pendapat yang masyhur dari imam malik, bahwa apabila korban telah sembuh dengan bekas luka mudhihah yang buruk baik pada muka maupun kepala, pelaku dikenakan hukumah sebagai imbalan dari buruknya bekas luka tersebut.

Untuk luka hasyimah, yaitu luka yang memotong tulang, dikenakan ganti rugi sepuluh ekor unta. Dasar untuk hukuman ini memang tidak ditemukan, melainkan atsar yang diriwayatkan dari zaid ibnu tsabit. Hasyimah ini hanya dikenal oleh imam abu hanifah, imam syafi’i dan imam ahmad, sedangkan imam malik tidak mengenalnya. Dengan demikian menurut imam malik, untuk mudhihah lima ekor unta sedangkan untuk pemotongan tulangnya berlaku hukumah.

Untuk luka munqilah, yaitu luka yang menyebabkan tulang bergeser dari posisinya, dikenakan ganti rugi lima belas ekor unta. Dasarnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh abu bakar ibnu muhammad ibnu amr ibnu hazm dari ayahnya dari kakeknya bahwa nabi menulis surat kepada penduduk yaman yang didalamnya disebutkan:
“…dan di dalam luka munqilah hukumannya adalah lima belas ekor unta…”

Untuk luka al ammah atau al ma’mumah, yaitu luka yang sampai kepada ummu ad-dimagh (selaput otak), ganti ruginya adalah sepertiga diat. Dasarnya adalah hadis amr ibnu hazm yang didalamnya disebutkan:
“…dan didalam luka ma’mumah adalah sepertiga diat…”

Untuk luka ad damighah, yaitu luka yang sampai menembus ke begian otak, ganti ruginya adalah sepertiga diat. Menurut fuqaha mazhab syafi’i dan hanbali, untuk luka al ammah dan ad-damighah dikenakan sepertiga diat untuk al-ammah, sedangkan untuk kelebihannya dikenakan hukumah. Para fuqaha umumnya kurang berminat membicarakan ad-damighah ini, karena pada umumnya luka yang sampai menembus otak mengakibatkan kematian.

About ngobrolislami

hamba ALLAH
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s