KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: HUKUMAN UNTUK BAGIAN YANG KE LIMA

Apabila tindak pidana atas selain jiwa tidak menimbulkan luka pada athraf, tidak pula menghilangkan manfaatnya, juga tidak menimbulkan syajjaj, dan tidak pula jirah, menurut pendapat kebanyakan fuqaha dalam kasus ini tidak berlaku hukuman qishash. Tindakan penempelengan, pemukulan dengan cambuk dan tongkat semuanya itu tidak dikenakan hukuman qishash apabila tidak meninggalkan bekas.

Imam malik berpendapat bahwa dalam pemukulan dengan cambuk berlaku hukuman qishash, walaupun tidak menimbulkan jirah atau syajjaj. Akan tetapi dalam penempelengan dan pemukulan dengan tongkat dan penempelengan tidak berlaku hukuman qishash, kecuali apabila menimbulkan luka jirah atau syajjaj.

Menurut syamsu ad din ibnu al qayyim al jauziyah, di dalam penempelengan dan pemukulan juga berlaku hukuman qishash, berdasarkan firman Allah dalam surat an-nahl ayat 126:

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu . Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.”

{terjemahan QS an-nahl ayat 126}

Ayat di atas menjelaskan tentang kesepadanan dalam hukuman dan perbuatan. Dalam kasus ini penempelengan di balas dengan penempelengan dan pemukulan dengan pemukulan adalah suatu tindakan yang lebih dekat dengan kesepadanan dan keseimbangan dibandingkan dengan ta’zir yang berlainan jenis dengan perbuatan yang dilakukan oleh terhukum. Pendapat ibnu al qayyim ini diperkuat dengan merujuk kepada pendapat imam ahmad ibnu hanbal yang mengatakan bahwa untuk penempelengan dan pemukulan berlaku hukuman qishash. Demikian pula para sahabat seperti abu bakar, utsman, ali, dan khalid bin walid pernah meng-qishash pelaku penempelengan.

Sebagian fuqaha dari kalangan mazhab syafi’i dan hanbali berpendapat bahwa untuk penempelengan berlaku hukuman qishas jika tindakan tersebut menghilangkan daya penglihatan. Akan tetapi untuk penempelengan nya sendiri, mereka tidak meberlakukan hukuman qishash.

Dari uraian tersebut, jelaslah bahwa untuk tindak pidana atas selain jiwa yang tidak mengakibatkan luka pada athraf, syajjaj, atau jirah, hukumannya adalah ganti rugi yang tidak tertentu atau hukumah, yaitu ganti rugi yang ketentuannya diserahkan kepada kebijaksanaan dan ijtihad hakim, dan ini hampir mirip dengan ta’zir.

Seperti telah dikemukakan di atas, disamping untuk bagian yang ke lima, ganti rugi yang tidak tertentu atau hukumah diterapkan juga tindak pidana atas selain jiwa yang lain, yang tidak dikenakan hukuman qishash atau ganti rugi yang tertentu, seperti pelukaan pada athraf, jirah atau syajjaj di bawah mudhilah, yaitu kharisah, damiyah, dami’ah, badhi’ah dan simhaq. Hukumah merupakan bagian dari diat yang dinisbahkan kepada diat jiwa. Akan tetapi menurut sebagian fuqaha syafi’iyah, hukumah dinisbahkan kepada anggota badan yang terkena tindak pidana. Nisbahnya adalah kekurangannya dihitung dari jumlah diat yang tertinggi. Sebagai contoh dapat dikemukakan sebagai berikut: seseorang dilukai pada bagian tangannya. Apabila hukumah dinisbahkan pada diat jiwa, untuk menghitungnya adalah diperkirakan berapa nilai orang tersebut setelah terkena tindak pidana (terluka). Kalau misalnya nilainya sebelum terluka (ketika masih utuh) 100 ekor unta, lalu diperkirakan nilai setelah terluka misalnya 90 ekor unta maka akibat dari pelukaan tersebut korban kehilangan nilai: 100-90=10 ekor unta. Dengan demikian hukumah-nya adalah sepersepuluh diat jiwa, yaitu 10 (sepuluh) ekor unta. Akan tetapi, apabila apabila hukumah dinisbahkan kepada diat anggota badan yang terluka, hukumah-nya adalah sepersepuluh dari diat sebelah tangan, yaitu (1/10)x50=5 (lima) ekor unta. Kalau misalnya pelukaannya mengenai satu jari tangan, hukumahnya: (1/10)x10=1 (satu) ekor unta.S

Dalam menentukan besarnya hukumah ini, disyaratkan apabila pelukaan mengenai anggota badan yang diatnya tertentu, seperti tangan atau kaki, hukumah tidak boleh mencapai jumlah tertentu tersebut. Dalam kasus semacam ini maka hakim berdasarkan ijtihadnya berhak menguranginya. Disamping itu juga, perlu diperhatikan bahwa perhitungan atau perkiraan tersebut dilakukan setelah korban sembuh dari lukanya, dan dilakukan oleh orang yang ahli yang kemudian dijadikan pegangan oleh hakim dalam memutuskan hukumannya. Akan tetapi, hakim sendiri berhak untuk melakukan ijtihad dalam menetapkan hukumah tersebut.

Para ulama telah sepakat bahwa hukumah wajib diberikan apabila yang sembuh itu mengakibatkan cacat. apabila luka tidak menimbulkan cacat, atau tidak ada bekas luka seperti pada syajjaj bagian yang ke lima, para ulama berbeda pendapat. Menurut imam syafi’i dan imam ahmad hukumah harus tetap dilaksanakan, meskipun luka sembuh tanpa cacat. Menurut imam malik, hukumannya bukan hukumah, melainkanta’zir. Menurut imam abu yusuf hukumannya adalah hukumah, karena walaupun bagaimana, luka tersebut menimbulkan rasa sakit. Sedangkan menurut muhammad ibnu hasan, pelaku hanya dikenakan ganti rugi sebagai pengganti biaya pengobatan.

About ngobrolislami

hamba ALLAH
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s