KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: Pengertian Tindak Pidana Atas Janin

Tindak pidana atas janin atau pengguguran kandungan terjadi apabila terdapat suatu perbuatan maksiat yang mengakibatkan terpisahnya janin dari ibunya. Terpisahnya (keluarnya) janin ini kadang-kadang hidup dan kadang-kadang meninggal. Akan tetapi, terlepas dari hidup atau meninggalnya janin setelah ia keluar, tindak pidana dianggap sempurna apabila telah terjadi pemisahan janin dari ibunya, meskipun untuk masing-masing perbuatan dan akibatnya ada hukumannya tersendiri, karena hukuman tergantung kepada akibat perbuatannya.

Perbuatan pengguguran kandungan itu ada tiga kemungkinan:
1. Dengan perkataan, seperti gertakan, intimidasi yang kemudian mengakibatkan gugurnya kandungan.
2. Dengan perbuatan, seperti memukul atau memberi minum obat kepada perempuan yang sedang mengandung, atau memasukkan benda yang aneh ke dalam rahim, sehingga kandungan menjadi gugur.
3. Dengan sikap tidak berbuat, misalnya tidak memberi makan dan minum perempuan yang sedang mengandung, sehingga kandungannya menjadi gugur.

Tindak pidana atas janin atau pengguguran kandungan yang berakibat meninggalnya janin, sebenarnya dapat digolongkan pada tindak pidana atas jiwa (pembunuhan), karena dari satu sisi janin sudah dianggap sebagai makhluk manusia yang bernyawa. Akan tetapi dalam segi hukum, tindak pidana atas janin dipisahkan dari tindak pidana atas jiwa (pembunuhan), karena dilihat dari sisi lain janin walaupun sudah bernyawa, tetapi ia belum bisa hidup mandiri, karena ia masih tersimpan dalam perut ibunya, dan hidupnya sangat tergantung kepada ibunya. Itulah sebabnya fuqaha Hanafiyah menyebut tindak pidana atas janin dengan tindak pidana atas jiwa dilihat dari satu sisi dan bukan jiwa bukan dilihat dari sisi lain.

Diatas telah dikemukakan bahwa tindak pidana atas janin terjadi apabila janin terpisah dari ibunya. Dengan demikian apabila perbuatan tindak pidana tersebut tidak mengakibatkan gugurnya kandungan, melainkan hanya menghentikan geraknya atau pernapasannya saja maka menurut pendapat fuqaha yang empat, perbuatan tersebut tidak dianggap jinayah atas janin, karena hidup atau meninggalnya janin yang masih dalam perut ibunya itu masih diragukan, dan pelaku tidak dikenakan hukuman. Akan tetapi menurut Imam Az-Zuhri, pelaku tetap harus tetap dikenakan hukuman, karena jelas ia telah membunuh janin. Akan tetapi di masa sekarang ini, ilmu pengetahuan kedokteran sudah demikian maju, pendapat dokter dapat dijadikan pegangan untuk menghilangkan keragu-raguan tersebut. Apabila janin menurut pendapat dan hasil pemeriksaan dokter terdapat kepastian tentang adanya janin dalam perut ibu dan janin itu meninggal akibat perbuatan pelaku maka pelaku harus dikenakan hukuman.

Adapun yang dianggap sebagai janin adalah setiap sesuatu yang keluar dari rahim seorang perempuan yang diketahui bahwa sesuatu itu adalah anak manusia. Sehubungan dengan itu, Imam Malik pelaku dikenakan pertanggungjawaban atas setiap sesuatu yang terlepas dari seorang perempuan yang diketahui bahwa sesuatu itu adalah kandungannya, baik wujudnya sudah sempurna maupun baru berupa gumpalan (mudghah), ‘alaqah, atau bahkan darah. Akan tetapi menurut Imam Asyhab, salah seorang fuqaha Malikiyah, tidak ada pertanggungjawaban bagi pelaku apabila yang keluar itu hanya darah.

Menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i, pelaku dibebani pertanggungjawaban atas seseatu yang keluar dari rahim seorang perempuan apabila sesuatu itu telah jelas bentuk wujudnya walaupun belum lengkap. Apabila sesuatu itu berbentuk gumpalan (mudghah) yang belum jelas wujudnya, tetapi kata seorang ahli gumpalan tersebut adalah calon manusia maka pelaku harus dikenakan hukuman. Sedangkan menurut mazhab Hanbali, pelaku dikenakan pertanggungjawaban apabila perbuatannya mengakibatkan seorang perempuan menggugurkan sesuatu yang sudah berbentuk manusia. Apabila yang keluar itu belum berbentuk manusia maka tidak ada pertanggungjawaban pidana atas pelaku, kecuali apabila ada petunjuk bahwa sesuatu yang keluar itu adalah janin.

Di atas telah dikemukakan bahwa janin kadang-kadang gugur dalam keadaan meninggal. Hidupnya janin itu dapat dibuktikan dengan segala sesuatu yang menunjukkan adanya kehidupan, seperti menangis, menyusu, bernapas, bersin, dan sebagainya. Gerakan semata-mata dari janin tidak dianggap sebagai petunjuk yang pasti untuk hidupnya janin itu, karena gerakan tersebut kadang-kadang terjadi akibat perubahan dari tempat yang sempit ketika dalam perut ibu ke tempat yang luas setelah keluar dari rahimnya. Dengan demikian, gerakan dapat dianggap sebagai tanda kehidupan apabila ada petunjuk lain yang menyatakan hidupnya janin.

Untuk dianggap hidupnya janin setelah gugur disyaratkan sebagai berikut.
1. Hidupnya janin harus mantab, tidak dalam keadaan koma.
2. Janin tersebut gugur dalam waktu yang cukup atau layak untuk hidup, yaitu berumur enam bulan atau lebih. Apabila janin yang gugur itu usia kandungannya kurang dari enam bulan, ia dianggap gugur dalam keadaan mati, karena memang pada umumnya janin tidak akan mampu bertahan hidup kalau gugur pada usia kurang dari enam bulan.

Menurut Malikiyah, Hanafiyah, dan Syafi’iyah, janin dianggap gugur dalam keadaan hidup apabila setelah keluar ia memiliki tanda-tanda kehidupan, walaupun usia kandungannya kurang dari enam bulan. Kehidupan tersebut dihitung setelah janin terpisah dengan sempurna dari ibunya. Apabila janin tersebut diketahui hidup, sebelum ia keluar dengan sempurna, misalnya baru keluar kepalanya ia menangis beberapa kali, tetapi setelah keluar langsung meninggal, maka ia dianggap gugur dalam keadaan meninggal.

Menurut Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, untuk dapat dikenakannya pertanggungjawaban kepada pelaku disyaratkan gugurnya janin itu terjadi ketika ibu masih dalam keadaan hidup. Apabila janin tersebut gugur setelah meninggalnya ibu maka pelaku tidak bisa dituntut atas perbuatannya apabila janin tersebut gugur dalam keadaan meninggal, karena meninggalnya ibu merupakan penyebab yang jelas atas meninggalnya janin. Adapun apabila janin itu gugur dalam keadaan hidup setelah meninggalnya ibu, maka pelaku dikenakan pertanggungjawaban atas perbuatannya, dan ia diwajibkan membayar diat apabila janin tersebut meninggal karena perbuatannya. Apabila bayi itu tetap hidup maka pelaku dikenakan hukuman ta’zir.

Menurut Imam Syafi’i adan Imam Ahmad, pelaku tetap dibebani pertanggungjawaban atas perbuatannya, baik janin itu gugur ketika ibu masih hidup maupun sesudah meninggalnya, baik janin itu keluar dalam keadaan hidup maupun meninggal. Hal ini karena gugurnya janin disebabkan oleh perbuatan pelaku.

Seperti halnya tindak pidana atas jiwa, tindak pidana atas janin, menurut mazhab Maliki, kadang-kadang terjadi dengan sengaja dan kadang-kadang terjadi karena kesalahan. Sedangkan menurut pendapat yang rajih dari mazhab Syafi’i dan Hanafiyah serta Hanabilah, tindak pidana atas janin tidak terjadi dengan sengaja, melainkan menyerupai sengaja atau kesalahan. Perbedaan pendapat ini berlanjut pada perbedaan mengenai hukuman yang dijatuhkan dalam hal janin gugur dalam keadaan hidup. Menurut pendapat kelompok pertama, hukuman bagi pelaku adalah qishash apabila sengaja, sedangkan menurut kelompok yang kedua hukumannya hanya diat.

About ngobrolislami

hamba ALLAH
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s