KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: PENGAKUAN SEBAGAI PEMBUKTIAN UNTUK TINDAK PIDANA ATAS JIWA, BUKAN JIWA, DAN JANIN

Pengakuan (Al Iqraar) menurut arti bahasa adalah penetapan. Sedangkan menurut syara’, pengakuan didefinisikan sebagai berikut:
“Pengakuan menurut syara’ adalah suatu pernyataan yang menceritakan tentang suatu kebenaran atau mengakui kebenaran tersebut.”

Dasar hukum tentang iqraar (pengakuan) ini terdapat dalam Al-Qur’an, Sunah dan Ijma’. Adapun sumber dari Al-Qur’an tercantum dalam:

Surat An-Nisaa ayat 135
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu.”
{Terjemah Al-Qur’an Surat An-Nisaa’ ayat 135}

Penyaksian seseorang atas dirinya sendiri ditafsirkan sebagai suatu pengakuan atas perbuatan yang dilakukannya.

Surat Ali Imran ayat 81:
Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya” . Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”.
{Terjemah Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 81}

Sumber hukum dari Sunah terdapat dalam hadis Ma’iz yang datang kepada Nabi mengakui perbuatannya, dan hadis tentang kisah Al ‘Asif, dan ini sudah dijelaskan panjang lebar dalam bab zina. Dalam hadis Al ‘Asif Nabi bersabda:
“…dan pergilah kamu hai Unaisuntuk memeriksa isterinya laki-laki ini, apabila ia mengaku (berzina) maka rajamlah dia.” (Muttafaq Alaih)

Disamping Al-Qur’an dan Sunah, para ulama bahkan semua umat Islam telah sepakat tentang keabsahan pengakuan, karena pengakuan merupakan suatu pernyataan yang dapat menghilangkan keraguan dari orang yang menyatakan pengakuan tersebut. Alasan lain adalah bahwa seorang yang berakal sehat tidak melakukan kebohongan yang akibatnya dapat merugikan dirinya. Karena itu, pengakuan lebih kuat daripada persaksian, dan dapat digunakan sebagai alat bukti untuk semua jenis tindak pidana, termasuk jarimah qishash dan diat.

Pengakuan hanya berlaku untuk orang yang bersangkutan dan tidak berlaku untuk orang lain. Apabila A mengaku membunuh B dengan dibantu oleh C, tetapi C mengingkarinya maka pengakuan itu hanya berlaku untuk A, dan tidak berlaku untuk C. Ketentuan ini didasarkan pada Sunah Fi’liah berkaitan dengan jarimah zina:

Dari Sahl ibnu Sa’ad bahwa seorang laki-laki telah datang kepada Nabi saw. Kemudia ia mengatakan bahwa ia telah berzina dengan seorang perempuan yang ia sebutkan namanya. Nabi saw kemudian mengutus seorang sahabat untuk memanggil perempuan tersebut. Nabi kemudian bertanya kepada perempuan tersebut mengenai apa yang dikatakan oleh laki-laki tadi, tetapi perempuan tersebut mengingkarinya. Akhirnya, Nabi menghukum laki-laki tersebut dan membebaskan perempuan yang tidak mengaku.
{HR. Ahmad dan Abu Dawud}

Pengakuan yang dapat diterima sebagai alat bukti adalah pengakuan yang jelas, terperinci, dan pasti, sehingga tidak bisa ditafsirkan lain kecuali perbuatan pidana yang dilakukannya. Berbagai aspek yang berkaiyan dengan tindak pidana pembunuhan misalnya, seperti caranya, alatnya, motifnya, tempat dan waktunya harus diungkapkan secara jelas oleh orang yang mengaku melakukan perbuatan tersebut. Apabila pengakuan hanya globalnya saja, pengakuan tersebut belum bisa diterima sebagai alat bukti yang kuat dan meyakinkan.

Kejelasan dan rincian dari pengakuan tersebut didasarkan kepada Sunah Rasulullah saw ketika beliau menginterogasi Ma’iz yang mengaku berzina dan mengulangi pengakuannya itu sebanyak empat kali. Dalam interogasinya Nabi menanyakan;
“Barangkali engkau hanya menciumnya, atau meremas-remasnya, atau hanya memandangnya?”
Ma’iz menjawab;
“Tidak ya Rasulullah.”
{Hadis Riwayat Bukhari}

Disamping itu syarat yang lain untuk sah nya pengakuan adalah bahwa pengakuan harus benar dan tidak di paksa. Pengakuan yang demikian harus timbul dari orang yang berakal dan mempunyai kebebasan (pilihan). Dengan demikian, pengakuan yang datang dari orang gila atau hilang akalnya, dan yang dipaksa hukumnya tidak sah dan tidak dapat diterima.

Apabila orang yang menyatakan pengakuan menarik kembali pengakuannya maka penarikan dan pencabutan pengakuan tersebut dapat diterima apabila tindak pidana yang tadinya diakuinya itu berkaitan dengan hak Allah yang gugur karena adanya syubhat. Adapun tindak pidana yang berkaitan dengan hak manusia atau hak Allah yang tidak gugur karena syubhat, seperti zakat dan kifarat maka penarikan atau pencabutan pengakuan tersebut tidak dapat diterima. Apabila seseorang mengaku berbuat zina tetapi kemudian ia menarik pengakuannya maka ia tidak dituntut karena pengakuannya itu. Akan tetapi apabila ia mengaku membunuh orang atau melukainya, kemudian ia mencabut pengakuannya maka ia tetap dituntut, karena tindakan yang dilakukannya berkaitan dengan hak manusia yang tidak bisa digugurkan kecuali dengan kerelaan pemiliknya.

About ngobrolislami

hamba ALLAH
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s