QASAMAH SEBAGAI PEMBUKTIAN UNTUK TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN

[1] DEFINISI QASAMAH
Qasamah dalam arti bahasa adalah:
Al husnu wal jamaal yang artinya bagus dan indah
Al yamiin yang artinya sumpah
Menurut arti istilah, qasamah di definisikan sebagai berikut:
“adapun yang dimaksud qasamah disini adalah sumpah yang diulang-ulang dalam dakwaan (tuntutan) pembunuhan.

Hanafiyah mendefinisikan qasamah sebagai berikut:
Dalam istilah syara’, qasamah digunakan untuk arti sumpah dengan nama Allah swt karena adanya sebab tertentu, dengan bilanhan tertentu, untuk orang tertentu yaitu si terdakwa dan menurut cara tertentu.

Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa qasamah adalah sumpah yang diulang-ulang. Hanya saja siapa saja yang bersumpah masih diperselisihkan oleh para fuqaha. Menurut Hanafiyah, sumpah dilakukan oleh penduduk tempat ditemukannyakorban, sedangkan jumhur ulama menyatakan sumpah dilakukan oleh keluarga korban. Atas dasar itu, abdul qadir audah dan juga Wahbah Zuhaili membuat definisi yang merangkum kedua pendapat tersebut dengan mengatakan:
“Arti qasamah menurut istilah para fuqaha adalah sumpah yang diulang-ulang di dalam dakwaan (tuntutan) pembunuhan, yang dilakukan oleh wali (keluarga si terbunuh) untuk membuktikan pembunuhan atas tersangka, atau dilakukan oleh tersangka untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan pembunuhan.

[2] DASAR HUKUM DI SYARIATKANNYA QASAMAH
Qasamah merupakan salah satu cara pembuktian yang berlaku pada zaman jahiliah. Setelah Islam datang, Nabi mengakui dan menetapkannya (qasamah) sebagai salah satu alat bukti yang sah untuk tindak pidana pembunuhan. Hal ini dijelaskan dalam beberapa hadis Nabi.

Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Abi Salamah;
“Dari Abi Salamah ibn Abdurrahman dan Sulaiman ibn Yasar dari seorang laki-laki sahabat Nabi saw kelompok Anshar, bahwa sesungguhnya dari Nabi saw menetapkan qasamah (sebagai alat bukti) sebagaimana yang berlaku di zaman jahiliyah
{Hadis Riwayat Ahmad, Muslim, dan Nasa’i}

Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Sahl ibn Abi Hatsmah;
“Dari Sahl ibnu Abi Hatsmah ia berkata: “Abdullah ibn Sahal dan Muhaishah ibn Mas’ud pergi ke Khaibar yang waktu itu dalam keadaan damai; kemudian keduanya berpisah. Setelah itu Muhaishah mendatangi Abdullah ibn Sahal yang mati dengan berlumuran darah, lalu ia menguburkannya, setelah itu ia kembali ke Madinah. Abdurrahman ibn Sahal, dan Muhaishah serta Huwaishah keduanya anak ibn Mas’ud, pergi manghadap Nabi saw. Maka Abdurrahman memulai pembicaraan, tetapi Nabi berkata: panggillah orang yang lebih tua umurnya darimu, dan dialah yang berbicara mewakili kaummu maka Abdurrahman diam, dan berbicaralah dua orang saudara (Muhaishah dan Huwaishah). Nabi kemudian berkata: ‘apakah kalian mau bersumpah dan kalian berhak terhadap pembunuh saudaramu?’ mereka berkata: ‘bagaimana kami bersumpah, padahal kami tidak menyaksikan dan tidak pula melihat (peristiwa pembunuhan tersebut)?’ Nabi berkata: ‘kalian bisa meminta kepada kaum Yahudi (Khaibar) untuk bersumpah limapuluh kali.’ Mereka berkata lagi: ‘bagaimana kami akan menerima sumpah dari kaum kafir?’ akhirnya Nabi membayar diat untuk si korban dari harta Nabi sendiri.”
{Hadis Riwayat Jama’ah}

Dari kedua hadis tersebut jelaslah bahwa qasamah pernah dilaksanakan oleh Nabi, meskipun pada awalnya qasamah itu merupakan suatu tradisi yang dilakukan oleh orang-orang arab zaman jahiliah, ketika mereka menghadapi kasus pembunuhan yang tidak ada bukti-bukti, baik saksi maupun pengakuan. Atas dasar hadis-hadis tersebut, jumhur ulama, seperti ulama mazhab empat, Zahiriyah, dan Syi’ah berpendapat bahwa qasamah merupakan salah satu cara pembuktian yang sah dan diakui untuk tindak pidana pembunuhan. Akan tetapi, beberapa fuqaha yang lain, seperti Salim ibn Abdullah, Abu Qalabah, Umar ibn Abdul Aziz, al Hakam ibn Utaibah, Qatadah, Sulaiman ibn Yasar, Ibrahim ibn Aliyah, dan Muslim ibn Khalid berpendapat bahwa qasamah tidak boleh dijadikan alat bukti untuk tindak pidana pembunuhan. Alasannya adalah qasamah menyimpang dari prinsip-prinsip pokok Syari’at Islam, yang meliputi berikut ini.

Seseorang tidak boleh bersumpah kecuali atas apa yang ia ketahui secara pasti dan ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Sedangkan dalam qasamah, wali korban sama sekali tidak mengetahui dan tidak menyaksikan pembunuhan, karena tindak pidana pembunuhan tersebut terjadi di tempat yang jauh dari tempat tinggal mereka (keluarga korban).

Pembuktian dan keterangan adalah pihak penuntut, sedangkan sumpah adalah hak terdakwa.

Mengenai hadis Sahal yang digunakan sebagai dalil oleh kelompok pertama, kelompok kedua ini tidk menganggapnya saebagai dalil untuk qasamah, melainkan sekedar upaya memperlunak kebiasaan-kebiasaan zaman jahiliah, untuk kemudian dibatalkan secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit.

Alasan dari kelompok kedua ini dibantah oleh kelompok pertama dengan argumentasi, bahwa qasamah ditetapkan berdasarkan hadis yang khusus, sehingga tidak bisa dibatalkan dengan dalil yang umum, melainkan justru men-takshis-kannya. HAL ini dimaksudkan untuk memelihara keselamatan jiwa dan sebagai pencegahan terhadap pelaku (pelanggaran hukum).

[3] TUJUAN DISYARIATKANNYA QASAMAH
Qasamah disyariatkan dalam rangka memelihara jiwa, sehingga dalam keadaan bagaimanapun pembunuhan itu harus tetap diselesaikan, dibuktikan, dan ditetapkan hukumannya. Dengan demikian qasamah merupakan suatu jalan keluar untuk menyelesaikan suatu kasus pembunuhan, dimana tidak terdapat bukti berupa saksi atau pengakuan.

Dalam rangka memelihara jiwa ini, Imam Ahmad berpendapat bahwa seseorang yang meninggal akibat berdesak-desakan dalam shalat atau tawaf, diatnya tetap harus dibayar dari baitul mal, seperti yang pernah dilakukan oleh Nabi dalam hadis Sahal yang telah dikemukakan di atas. Pendapat ini juga dikemukakan oleh sayidina Umar dan sayidina Ali. Diriwayatkan oleh sa’id dari ibrahim bahwa seseorang terbunuh didalam kerumunan manusia yang berdesak-desakan di Arafah. Kemudian keluarganya datang menghadap Umar, lalu Umar berkata: “buktikan siapa yang membunuhnya?” maka berkata sayidina Ali: “Ya amirul mukminin tidak akan dialirkan darah seorang Muslim, andaikata saya tahu siapa pembunuhnya, kalau tidak maka bayarlah diatnya dari baitul mal!”

Menurut Hanafiah, qasamah disyariatkan untuk menanggulangi kelalaian warga tempat ditemukannya korban dalam menjaga dan memelihara wilayahnya dari tindakan-tindakan kriminal yang ditakutkan, baik oleh penduduk setempat maupun oleh pihak luar. Akibat kelalaian mereka dalam mengamankan wilayahnya, mereka dibebani kewajiban harus melakukan qasamah dan sekaligus membayar diat, karena menurut Imam Abu Hanifah, mereka baik sebagai individu maupun kelompok dianggap membunuh korban, karenanya mereka harus bertanggung jawab.

[4] PENGGUNAAN QASAMAH
Para ulama sepakat bahwa qasamah hanya digunakan untuk tindak pembunuhan, bukan yang lainnya. Hanya saja mengenai kapan digunakannya qasamah, para ulama berbeda pendapat. Menurut Imam Abu Hanifah, qasamah digunakan apabila pelaku (pembunuh) tidak diketahui. Apabila pelakunya diketahui maka pembuktiannya tidak menggunakn qasamah, melainkan menggunakan cara-cara pembuktian biasa.

Menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad qasamah digunakan apabila pelaku (pembunuh) diketahui karena ada tanda dan petunjuk yang mengarah kepadanya. Apabila pembunuh tidak diketahui maka menurut mereka (jumhur) qasamah tidak dapat diberlakukan.

Qarinah atau petunjuk (Al-Lauts) didefinisikan oleh Imam Malik dan Imam Syafi’i sebagai berikut.

Lauts adalah suatu keadaan yang timbul dari dugaan yang kuat atas kebenaran penuntut, atau lauts adalah suatu qarinah (petunjuk) yang masuk ke dalam hati tentang kebenaran penuntut.

Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa lauts adalah suatu petunjuk yang memperkuat dugaan penuntut bahwa seseorang betul membunuh korban. Contohnya, seperti adanya jasad korban dihalaman rumah musuhnya, atau terlihatnya tersangka di dekat kepala korban, dan ditangannya ada pisau yang terhunus.

Menurut Imam Ahmad dalam riwayat yang marjuh (lemah), lauts adalah permusuhan yang nyata antara korbn dengan terdakwa. Contohnya seperti permusuhan kaum Anshar dengan Yahudi Khaibar, atau antara pencuri dengan polisi yang menangkapnya. Sedangkan menurut riwayat yang rajih (kuat), lauts adalah suatu yang memperkuat dugaan tentang kebenaran tuduhan penuntut. Contohnya sepperti permusuhan yang telah disebutkan tadi, atau seperti bercerai-berainya sekelompok orang dari tempat terbunuhnya korban, atau ditemukannya seseorang didekat korban, dan ia memegang pisau yang berlumuran darah.

Dari uraian tersebut diatas dapat diambil intisari bahwa qasamah menurut Imam Malik dan Imam Syafi’i diberlakukan apabila pelaku pembunuhan diketahui tetapi tidaka ada bukti yang kuat bahwa daialah yang membunuh korban. Namun demikian, ada lauts (petunjuk) yang memperkuat bahwa dialah pembunuhnya. Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa qasamah menurut mereka (Imam Malik dan Imam Syafi’i) digunakan untuk membuktikan tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, qasamah digunakan apabila jasad korban ditemukan ditempat tertentu tetapi pelakunya sama sekali tidak diketahui. Karena itu, qasamah diberikan kepada penduduk tempat ditemukannya korban untuk membuktikan bahwa mereka tidak melakukan pembunuhan. Akan tetapi, mereka tetap dibebani kewajiban membayar diat, karena pembunuhan terjadi akibat keteledoran dan kelalaian mereka dalam menjaga keamanan wilayahnya.

[5] SYARAT-SYARAT QASAMAH
Qasamah tidak bisa digunakan sebagai alat bukti kecuali apabila syarat-syaratnya telah terpenuhi. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:

Kematian yang dialami oleh korban merupakan akibat tindak pembunuhan, baik karena pelukaan, pemukulan, pencekikan, maupun lainnya. Apabila tidak ada bekas-bekas atau tanda-tanda pembunuhan maka tidak ada qasamah dan tidak ada diat.

Jumhur ulama selain Hanafiah mensyaratkan adanya lauts atau petunjuk yang mengarah kepada pelaku pembunuhan, seperti ditemukannya jasad korban di halaman rumah musuhnya. Apabila tidak ada lauts maka tidak ada qasamah. Akan tetapi, Imam Abu Hanifah tidak mensyaratkan adanya lauts, melainkan cukup ditemukannya mayat dan ada bekas pembunuhan.

Hanafiyah mensyaratkan terdapatnya sebagian besar dari jasad korban di tempat kejadian. Apabila yang ditemukan hanya satu anggota badan saja, tidak ada qasamah dan tidak ada diat. Apabila terdapat separuh badan berikut kepalanya maka berlaku qasamah dan diat. Akan tetapi, apabila hanya ditemukan kepalanya saja maka tidak ada qasamah dan tidak ada diat. Sedangkan ulama yang lain tidak mensyaratkan hal ini.

Imam Abu Hanifah mensyaratkan bahwa pembunuh tidak diketahui. Apabila pembunuh diketahui maka tidak ada qasamah. Akan tetapi menurut Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad untuk diberlakukannya qasamah, justru pembunuh harus diketahui berdasarjan adanya petunjuk (lauts). Apabila pembunuh tidak diketahui maka qasamah tidak dapat digunakan.

Keluarga korban mengajukan tuntutannya kepada tersangka.

Tuntutan yang diajukan keluarga korban tidak boleh bertentangan antara yang satu dengan yang lain. Misalnya sebagian wali (keluarga) menuntut bahwa pembunuhnya A, tetapi keluarga yang lain menyatakan bahwa pembunuhnya B. Jika pertentangan dalam tuntutan itu terjadi maka qasamah tidak bisa digunakan.

Tersangka mengingkari perbuatan pembunuhan tersebut. Apabila pelaku pembunuhan mengakui prbuatannya maka qasamah tidak dapat digunakan, karena sudah ada alat bukti pengakuan.

Imam Abu Hanifah mensyaratkan adanya permintaan agar kasus pembunuhan tersebut dibuktikan dengan qasamah. Hal ini karena qasamah itu merupakan sumpah dan sumpah adalah hak penuntut yang dapat dipenuhi dengan permintaannya. Itulah sebabnya dalam qasamah, kesempatan pertama diberikan kepada keluarga korban, karena sumpah adalah hak mereka. Mereka berhak memilih dan menentukan orang-orang yang diduga sebagai tersangka pelaku pembunuhan dan meminta keluarga mereka yang baik-baik untuk bersumpah.

Imam Abu Hanifah juga mensyaratkan bahwa tempat mayat korban ditemukan adalah milik seseorang atau dalam kekuasaan seseorang. Apabila tempat (tanah) tersebut bukan milik seseorang atau bukan dalam kekuasaan seseorang maka tidak ada qasamah dan tidak ada hukuman diat. Apabila mayat korban berada di tempat yang digunakan untuk kepentingan umum maka tidak wajib qasamah, tetapi diat wajib dibayar dari baitul mal.

[6] CARA PELAKSANAAN QASAMAH
Qasamah adalah suatu cara pembuktian dengan menggunakan sumpah yang dilakukan (diucapkan) oleh lima puluh orang. Akan tetapi kepada siapa sumpah itu diberikan pertamakali, apakah kepada penuntut atau terdakwa, para ulama berbeda pendapat.

Menurut Hanafiyah, sumpah diberikan pertamakali kepada terdakwa, yaitu penduduk tempat ditemukannya mayat korban. Hal ini karena sumpah itu harus dilakukan oleh terdakwa yang dipilih dan ditunjuk oleh keluarga korban. Penuntut (keluarga korban) memilih orang-orang yang diduga sebagai pelaku pembunuhan, dan mereka sebanyak lima puluh orang, masing-masing bersumpah, dengan mengatakan:
“Demi Allah, saya tidak membunuhnya, dan saya tidak tahu siapa pelaku pembunuhan itu.”

Mereka beralasan dengan hadis yang diriwayatkan oleh bukhari dan Muslim (Muttafaq Alaih):
Dan didalam riwayat Muttafaq Alaih: maka Nabi berkata kepada mereka (Muhaishah dan Huwaishah): “kamu sekalian harus mendatangkan saksi atas orang yang membunuhnya.” Mereka berkata: “kami tidak memiliki saksi.” Nabi berkata: “kalau begitu mereka (penduduk setempat) harus bersumpah.” Mereka berkata: “kami tidak suka dengan sumpahnya orang Yahudi” maka Nabi tidak mau membatalkan kasus pembunuhan tersebut, dan akhirnya Nabi membatar diat sebanyak 100 ekor unta yang diambil dari unta zakat.

Apabila mereka (penduduk setempat) mau bersumpah maka diputuskan mereka harus membayar diat kalau pembunuhnya sengaja, dan apabila pembunuhnya tidak sengaja (al-Khata’) maka diat dibebankan kepada keluarga penduduk setempat. Apabila mereka tidak mau (enggan) bersumpah maka mereka ditahan (dipenjara) sampai mereka mau bersumpah.

Menurut Malikiyah, suafi’iyah, dan Hanabilah serta Dawud Azh-Zhahiri, qasamah pertamakali diberikan kepada keluarga korban. Mereka bersumpah lima puluh kali atau lima puluh orang yang menyatakan baha mereka (terdakwa) telah membunuh korban. Lafaz sumpah bisa dengan:
“Demi Allah, yang tidak ada tuhan kecuali dia, yang mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”

Sumpah disyaratkan harus mantap dan pasti yang menyatakan bahwa tersangka melakukan pembunuhan itu sendiri, atau bersama-sama dengan orang lain, ia melakukannya dengan sengaja atau karena kesalahan (tidak sengaja).

Pendapat jumhur ini didasarkan pada hadis Sahl ibn Abi Hatsmah, yang didalamnya disebutkan:
Nabi berkata: “apakah kalian mau bersumpah dan kalian berhak atas orang yang membunuh teman kalian…”

Hadis ini menjelaskan bahwa kesempatan pertama untuk melakukan qasamah (bersumpah) diberikan kepada keluarga korban, bukan terdakwa.

Apabila para penuntut (keluarga korban) tidak mau bersumpah maka terdakwa diberi kesempatan untuk bersumpah sebanyak limapuluh kali sumpah. Kalau ia (tersangka) mau bersumpah maka ia dibebaskan dari tuduhan pembunuhan. Syarat-syarat untuk sumpahnya tersangka ini sama dengan syarat-syarat sumpahnya penuntut, yaitu sumpah harus mantap dan pasti bahwa ia tidak melakukan pembunuhan. Misalnya dalam sumpahnya ia mengatakan:
“Demi Allah, saya tidak membunuhnya, dan saya tidak turut serta dalam membunuhnya, juga tidak melakukan perbuatan yang menjadi sebab kematiannya, serta tidak menjadi sebab, dan tidak menjadi pembantu atas kematiannya.”

Apabila para penuntut tidak mau bersumpah dan mereka tidak menerima sumpahnya terdakwa maka para tersangka dibebaskan dari hukuman, dan diat dibayar oleh negara dari baitul mal menurut pendapat Imam Ahmad. Akan tetapi, ulama yang lain berpendapat dalam hal ini tidak ada diat.

Apabila para terdakwa menolak untuk bersumpah maka menurut satu pendapat didalam mazhab Hanbali, mereka harus ditahan, tetapi menurut pendapat lain tidak. Menurut Imam Malik, mereka (terdakwa) harus ditahan selama satu tahun. Apabila mereka tidak mau bersumpah juga maka mereka dibebaskan. Sedangkan Imam Syafi’i, apabila terdakwa menolak untuk bersumpah maka sumpah dikembalikan kepada para penuntut. Apabila mereka (penuntut) tidak mau bersumpah juga maka terdakwa dibebaskan dari segala tuntutan. Akan tetapi apabila mereka (penuntut) mau bersumpah maka hukuman diterapkan kepada terdakwa.

Di atas telah dikemukakan bahwa sumpah dalam qasamah dilakukan oleh lima puluh orang. Menurut Imam Syafi’i, mereka (kelima puluh orang tersebut) terdiri atas semua ahli waris, baik laki-laki maupun perempuan, termasuk istri dan anak perempuan. Di dalam mazhab Hanbali ada dua pendapat. Pertama, sumpah dilakukan ahli waris laki-laki saja, baik dzawil furudh maupun ‘ashabah. Sumpah yang lima puluh itu dibagi sesuai dengan jumlah (banyaknya) ahli waris, tetapi tanpa pecahan. Kalau jumlah ahli warisnya sepuluh orang maka masing-masing ahli waris harus bersumpah sebanyak lima kali. Kedua, sumpah dilakukan oleh ahli waris ‘ashabah saja. Pendapat ini juga merupakan pendapat Imam Malik. Hanya saja Imam Malik membedakan antara pembunuhan karena kesalahan dan pembunuhan sengaja. Dalam pembunuhan karena kesalahan, sumpah dilakukan oleh semua ahli waris korban, baik dzawil furudh maupun ‘ashabah. Sedangkan dalam pembunuhan sengaja, sumpah hanya dilakukan oleh ‘ashabah saja.

Menurut Imam Abu Hanifah, qasamah hanya dilakukan oleh laki-laki saja. Anak kecil dan orang gila tidak dibebani kewajiban melakukan qasamah, walaupun korban ditemukan diatas tanah miliknya dalam hal ini qasamah dibebankan kepada keluarganya (‘aqilah). Demikian pula perempuan tidak dibebani kewajiban qasamah, kecuali apabila korban ditemukan di rumahnya, dan tidak ada orang lain di dalamnya selain dia.

Sebagai akibat hukum dilaksanakannya qasamah adalah diwajibkannya diat, apabila pembunuhnya karena kekeliruan atau menyerupai sengaja. Ketentuan ini disepakati oleh para ulama. Apabila pembunuhnya sengaja maka hukuman yang harus dijatuhkan diperselisihkan oleh para fuqaha. Menurut Imam Malik, dan qaul qadim dari mazhab Syafi’i, serta Imam Ahmad, hukuman yang dijatuhkan adalah hukuman diat, baik pembunuhnya sengaja maupun tidak sengaja.

Menurut pendapat Achmad Wardi Muslich, pembuktian dengan qasamah merupakan suatu terobosan untuk menyelesaikan kasus pembunuhan yang tidak terdapat alat-alat bukti yang lazim, seperti saksi atau pengakuan. Karenanya hukuman yang tertinggi cukup dengan diat bukan dengan qishash.

About ngobrolislami

hamba ALLAH
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s