KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: HUKUMAN UNTUK BAGIAN YANG KE LIMA

Apabila tindak pidana atas selain jiwa tidak menimbulkan luka pada athraf, tidak pula menghilangkan manfaatnya, juga tidak menimbulkan syajjaj, dan tidak pula jirah, menurut pendapat kebanyakan fuqaha dalam kasus ini tidak berlaku hukuman qishash. Tindakan penempelengan, pemukulan dengan cambuk dan tongkat semuanya itu tidak dikenakan hukuman qishash apabila tidak meninggalkan bekas.

Imam malik berpendapat bahwa dalam pemukulan dengan cambuk berlaku hukuman qishash, walaupun tidak menimbulkan jirah atau syajjaj. Akan tetapi dalam penempelengan dan pemukulan dengan tongkat dan penempelengan tidak berlaku hukuman qishash, kecuali apabila menimbulkan luka jirah atau syajjaj.

Menurut syamsu ad din ibnu al qayyim al jauziyah, di dalam penempelengan dan pemukulan juga berlaku hukuman qishash, berdasarkan firman Allah dalam surat an-nahl ayat 126:

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu . Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.”

{terjemahan QS an-nahl ayat 126}

Ayat di atas menjelaskan tentang kesepadanan dalam hukuman dan perbuatan. Dalam kasus ini penempelengan di balas dengan penempelengan dan pemukulan dengan pemukulan adalah suatu tindakan yang lebih dekat dengan kesepadanan dan keseimbangan dibandingkan dengan ta’zir yang berlainan jenis dengan perbuatan yang dilakukan oleh terhukum. Pendapat ibnu al qayyim ini diperkuat dengan merujuk kepada pendapat imam ahmad ibnu hanbal yang mengatakan bahwa untuk penempelengan dan pemukulan berlaku hukuman qishash. Demikian pula para sahabat seperti abu bakar, utsman, ali, dan khalid bin walid pernah meng-qishash pelaku penempelengan.

Sebagian fuqaha dari kalangan mazhab syafi’i dan hanbali berpendapat bahwa untuk penempelengan berlaku hukuman qishas jika tindakan tersebut menghilangkan daya penglihatan. Akan tetapi untuk penempelengan nya sendiri, mereka tidak meberlakukan hukuman qishash.

Dari uraian tersebut, jelaslah bahwa untuk tindak pidana atas selain jiwa yang tidak mengakibatkan luka pada athraf, syajjaj, atau jirah, hukumannya adalah ganti rugi yang tidak tertentu atau hukumah, yaitu ganti rugi yang ketentuannya diserahkan kepada kebijaksanaan dan ijtihad hakim, dan ini hampir mirip dengan ta’zir.

Seperti telah dikemukakan di atas, disamping untuk bagian yang ke lima, ganti rugi yang tidak tertentu atau hukumah diterapkan juga tindak pidana atas selain jiwa yang lain, yang tidak dikenakan hukuman qishash atau ganti rugi yang tertentu, seperti pelukaan pada athraf, jirah atau syajjaj di bawah mudhilah, yaitu kharisah, damiyah, dami’ah, badhi’ah dan simhaq. Hukumah merupakan bagian dari diat yang dinisbahkan kepada diat jiwa. Akan tetapi menurut sebagian fuqaha syafi’iyah, hukumah dinisbahkan kepada anggota badan yang terkena tindak pidana. Nisbahnya adalah kekurangannya dihitung dari jumlah diat yang tertinggi. Sebagai contoh dapat dikemukakan sebagai berikut: seseorang dilukai pada bagian tangannya. Apabila hukumah dinisbahkan pada diat jiwa, untuk menghitungnya adalah diperkirakan berapa nilai orang tersebut setelah terkena tindak pidana (terluka). Kalau misalnya nilainya sebelum terluka (ketika masih utuh) 100 ekor unta, lalu diperkirakan nilai setelah terluka misalnya 90 ekor unta maka akibat dari pelukaan tersebut korban kehilangan nilai: 100-90=10 ekor unta. Dengan demikian hukumah-nya adalah sepersepuluh diat jiwa, yaitu 10 (sepuluh) ekor unta. Akan tetapi, apabila apabila hukumah dinisbahkan kepada diat anggota badan yang terluka, hukumah-nya adalah sepersepuluh dari diat sebelah tangan, yaitu (1/10)x50=5 (lima) ekor unta. Kalau misalnya pelukaannya mengenai satu jari tangan, hukumahnya: (1/10)x10=1 (satu) ekor unta.S

Dalam menentukan besarnya hukumah ini, disyaratkan apabila pelukaan mengenai anggota badan yang diatnya tertentu, seperti tangan atau kaki, hukumah tidak boleh mencapai jumlah tertentu tersebut. Dalam kasus semacam ini maka hakim berdasarkan ijtihadnya berhak menguranginya. Disamping itu juga, perlu diperhatikan bahwa perhitungan atau perkiraan tersebut dilakukan setelah korban sembuh dari lukanya, dan dilakukan oleh orang yang ahli yang kemudian dijadikan pegangan oleh hakim dalam memutuskan hukumannya. Akan tetapi, hakim sendiri berhak untuk melakukan ijtihad dalam menetapkan hukumah tersebut.

Para ulama telah sepakat bahwa hukumah wajib diberikan apabila yang sembuh itu mengakibatkan cacat. apabila luka tidak menimbulkan cacat, atau tidak ada bekas luka seperti pada syajjaj bagian yang ke lima, para ulama berbeda pendapat. Menurut imam syafi’i dan imam ahmad hukumah harus tetap dilaksanakan, meskipun luka sembuh tanpa cacat. Menurut imam malik, hukumannya bukan hukumah, melainkanta’zir. Menurut imam abu yusuf hukumannya adalah hukumah, karena walaupun bagaimana, luka tersebut menimbulkan rasa sakit. Sedangkan menurut muhammad ibnu hasan, pelaku hanya dikenakan ganti rugi sebagai pengganti biaya pengobatan.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: HUKUMAN UNTUK JIRAH

KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: HUKUMAN UNTUK JIRAH

Sebagaimana telah dikemukakan, jirah adalah pelukaan pada anggota badan selain wajah, kepala, dan athraf. Anggota badan yang pelukaannya ternmasuk jirah ini meliputi leher, dada, perut sampai batas pinggul. Jirah ini ada dua macam.

1. Jaifah, yaitu pelukaan yang sampai ke bagian dalam dari dada dan perut, baik pelukaannnya dari depan, belakang, maupun samping.

2. Ghair jaifah, yaitu pelukaan yang tidak sampai ke bagian dalam dari anggota badan tersebut, melainkan hanya pada bagian luarnya saja.

Hukuman untuk jirah ini adalah qishash. Apabila qishash tidak bisa dilaksanakan maka diganti diat.

1) HUKUMAN QISHASH
Hukuman qishash untuk jirah ini diperselisihkan oleh para fuqaha. Imam Malik berpendapat bahwa qishash berlaku pada semua jirah, baik lukanya munqilah maupun hasyimah. Alasannya adalah qishash dengan keseimbangan masih memungkinkan, kecuali kalau menimbulkan kekhawatiran. Sedangkan untuk jaifah tidak berlaku hukuman qishash.

Abu Hanifah berpendapat bahwa di dalam jirah tidak berlaku hukuman qishash sama sekali, baik jaifah maupun ghair jaifah. Alasannya adalah karena sulit untuk menerapkan kesepadanan daam pelaksanaannya. Akan tetapi apabila jirah tersebut mengakibatkan kematian, pelaku wajib di qishash jika ia sengaqja melakukan pembunuhan.

Imam Syafi’i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa dalam jirah berlaku hukuman qishash apabila pelukaannya sampai mudhihah, yaitu pelukaan yang sampai kepada tulangnya. Alasannya karena dalam hal ini kesepadanan mungkin diterapkan karena ada batas, yaitu tulang. Akan tetapi, sebagian dari pengikut Imam Syafi’i berpendapat bahwa dalam jirah sama sekali tidak berlaku hukuman qishash. Alasan mereka adalah karena mudhihah kepala dan wajah ada ganti rugiyang tertentu, sedangkan pada jirah badan tidak ada. Oleh karena itu, keduanyatidak boleh disamakan. Akan tetapi pendapat tersebut ditolak, karena dasar qishash bukan irsy (ganti rugi), melainkan firman Allah dalam surat Al_Maaidah ayat 45.

“…dan setiap luka ada qishashnya…”
{Terjemahan surat Al_Maaidah ayat 45}

2) HUKUMAN DIAT
Hukuman diat untuk ghair jaifah adalah hukumah. Sedangkan ganti rugi untuk jaifah adalah sepertiga diat. Hal ini didasarkan kepada hadis Amr ibn Hazm yang didalamnya disebutkan
“….dan di dalam jaifah hukumannya adalah sepertiga diat…”

Apabila seseorang menusuk orang lain pada bagian depan perutnya sampai tembus ke belakang maka menurut Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad, tindakan tersebut dihitung dua jaifah, dan hukumannya adalah dua per tiga diat. Adapun mazhab Syafi’i tetap menganggapnya sebagai satu jaifah. Pendapat ini merupakan pendapat yang rajih. Pendapat lain dalam mazhab Syafi’i menyatakan dalam jaifah pertama berlaku sepertiga diat, sedangkan dalam jaifah kedua hanya dikenakan hukumah.

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM HUKUMAN UNTUK SYAJJAJ

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, syajjaj adalah pelukaan pada bagian muka dan kepala. Pelukaan tersebut ada yang ringan dan ada yang berat. Imam abu hanifah membagi syajjaj ini kepada 11 (sebelas) bagian, mulai dari yang paling ringan yaitu al-kharishah dan yang paling berat yaitu ad-damighah.

Hukuman untuk syajjaj sebagian ada yang dikenakan qishash, dan sebagian lagi adalah diat.

HUKUMAN QISHASH
Dari sebelas jenis syajjaj yang dikemukakan oleh imam abu hanifah di atas, hanya satu jenis yang disepakati oleh para ulama untuk dikenakan hukuman qishash, yaitu mudhihah. Mudhihah sebagaimana telah dikemukakan adalah pelukaan yang agak dalam sehingga memotong atau merobek selaput antara daging dan tulang, sehingga tulang tersebut kelihatan. Sedangkan jenis-jenis syajjaj di atas mudhihah yaitu hasyimah, munqilah, al ammah, dan ad damighah. Para fuqaha sepakat bahwa tidak berlaku hukuman qishash karena sangat sulit untuk dilaksanakan secara tepat tanpa ada kelebihan. Adapun jenis-jenis syajjaj sebelum (di bawah) mundhihah, para fuqaha berbeda pendapat tentang diterapkannya hukuman qishash atas jenis-jenis syajjaj tersebut. Imam malik berpendapat bahwa dalam semua jenis syajjaj sebelum mundhihah berlaku hukuman qishash, karena hal itu masih memungkinkan untuk dilaksanakan. Menurut imam abu hanifah mengacu kepada riwayat al hasan tidak ada qishash kecuali pada mundhihah dan simhaq, itupun kalau memungkinkan. Sementara menurut imam muhammad, qishash bisa diterapkan pada mundhihah, simhaq, badhi’ah, dan damiyah, karena kesepadanan masih mungkin dilaksanakan dengan mengukur lukanya, baik lebar maupun dalamnya.

Menurut mazhab syafi’i dan hanbali, tidak ada hukuman qishash pada syajjaj sebelum mudhihah, karena luka-luka tersebut tidak sampai kepada tulang sehingga tidak ada batas pasti yang aman dari kelebihan.

HUKUMAN DIAT
Hukuman diat yang diberlakukan untuk syajjaj adalah diat ghair kamilah atau yang disebut dengan irsy (ganti rugi). Untuk syajjaj di bawah mudhihah para ulama telah sepakat bahwa dalam kasus ini tidak ada irsy muqaddar (ganti rugi yang tertentu). Dengan demikian untuk syajjaj sebelum (di bawah) mudhihah hanya berlaku hukumah, yaitu gantirugi yang besarnya diserahkan kepada keputusan hakim. Akan tetapi ada satu riwayat dari imam ahmad, bahwa untuk damiyah dikenakan satu ekor unta, badi’ah dua ekor unta, mutalahimah tiga ekor unta, dan simhaq empat ekor unta. Dasarnya adalah bahwa zaid ibn tsabit pernah memutuskan hal itu.

Untuk tindak pidana syajjaj mulai dari mudhihah dan sesudahnya berlaku irsyun muqaddar (ganti rugi yang tertentu). Untuk mudhihah ganti ruginya adalah lima ekor unta, berdasarkan hadis amr bin hazm, dimana didalamnya disebutkan:
“dan didalam luka mudhihah hukumannya adalah lima ekor unta.”

Pendapat ini juga didasarkan kepada hadis ‘amr ibnu syu’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwa rasulullah s.a.w bersabda;
“di dalam luka-luka mudhihah berlaku lima ekor unta.”
{Hadis riwayat imam ahmad dan empat ahli hadis}

Ganti rugi dalam kasus ini berlaku untuk setiap luka mudhihah, baik kecil maupun besar, luka yang kelihatan maupun tertutup dengan rambut, karena istilah mudhihah berlaku untuk semua jenis mudhihah. Menurut imam yang empat, ganti rugi untuk luka mudhihah muka dan kepala sama saja. Akan tetapi untuk imam ahmad ada sedikit pendapat yang berbeda, yaitu bahwa ganti rugi untuk mudhihah pada muka harus dilipat gandakan, karena bekas lukanya lebih banyak dan jelas kelihatan, serta tidak tertutup oleh rambut, sebagaimana halnya pada kepala.

Menurut imam abu hanifah, imam syafi’i, dan imam ahmad, selain ganti rugi yang telah ditentukan, tidak ada tambahan apapun untuk mudhihah ini, walaupun lukanya telah sembuh dengan meninggalkan bekas yang buruk. Akan tetapi menurut pendapat yang masyhur dari imam malik, bahwa apabila korban telah sembuh dengan bekas luka mudhihah yang buruk baik pada muka maupun kepala, pelaku dikenakan hukumah sebagai imbalan dari buruknya bekas luka tersebut.

Untuk luka hasyimah, yaitu luka yang memotong tulang, dikenakan ganti rugi sepuluh ekor unta. Dasar untuk hukuman ini memang tidak ditemukan, melainkan atsar yang diriwayatkan dari zaid ibnu tsabit. Hasyimah ini hanya dikenal oleh imam abu hanifah, imam syafi’i dan imam ahmad, sedangkan imam malik tidak mengenalnya. Dengan demikian menurut imam malik, untuk mudhihah lima ekor unta sedangkan untuk pemotongan tulangnya berlaku hukumah.

Untuk luka munqilah, yaitu luka yang menyebabkan tulang bergeser dari posisinya, dikenakan ganti rugi lima belas ekor unta. Dasarnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh abu bakar ibnu muhammad ibnu amr ibnu hazm dari ayahnya dari kakeknya bahwa nabi menulis surat kepada penduduk yaman yang didalamnya disebutkan:
“…dan di dalam luka munqilah hukumannya adalah lima belas ekor unta…”

Untuk luka al ammah atau al ma’mumah, yaitu luka yang sampai kepada ummu ad-dimagh (selaput otak), ganti ruginya adalah sepertiga diat. Dasarnya adalah hadis amr ibnu hazm yang didalamnya disebutkan:
“…dan didalam luka ma’mumah adalah sepertiga diat…”

Untuk luka ad damighah, yaitu luka yang sampai menembus ke begian otak, ganti ruginya adalah sepertiga diat. Menurut fuqaha mazhab syafi’i dan hanbali, untuk luka al ammah dan ad-damighah dikenakan sepertiga diat untuk al-ammah, sedangkan untuk kelebihannya dikenakan hukumah. Para fuqaha umumnya kurang berminat membicarakan ad-damighah ini, karena pada umumnya luka yang sampai menembus otak mengakibatkan kematian.

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM HUKUMAN UNTUK MENGHILANGKAN MANFAAT ANGGOTA BADAN

Menghilangkan manfaat anggota badan tidak berarti menghilangkan jenis anggota badan itu sendiri. Artnya dalam hal ini yang hilang hanya manfaatnya saja, sedangkan jenis anggota badannya masih tetap ada. Dengan demikian bila disamping manfaatnya, anggota badan jug turut hilang atau rusak maka perbuatan tersebut termasuk merusak anggota badan (ibanah al athraf), karena manfaat itu mengikuti anggota badan.

Manfaat anggota badan ada yang menyatu dengan anggota badan dan ada pula yang terpisah. Kemampuan memegang menyatu dengan tangan sedangkan kemampuan mendengar ( daya pendengaran) terpisah dari telinga. Jenis manfaat anggota badan ini, seperti dikemukakan oleh wahbah zuhaili, yang mengutip pendapat sebagian ulama, ada duapuluh jenis bahkan lebih. Diantara jenis manfaat anggota badan tersebut adalah daya akal, pendengaran, penglihatan, penciuman, pembicaraan, suara, rasa (dzuq), pengunyahan (madhghun), pengeluaran mani (imna’) penghamilan (ihbal), persetubuhan (jima’), pengeluaran air seni (ifdha’), daya gerak (bathsyu), dan berjalan.

Hukuman untuk tindak pidana menghilangkan manfaat anggota badan ini adalah sebagai berikut.

1) Hukuman qishash
Meski faktor kesulitan untuk melaksanakan hukuman qishash dalam tindak pidana menghilangkan manfaat ini sangat besar, namun menurut jumhur fuqaha selama hal itu memungkinkan, tetap diupayakan untuk melaksanakannya. Apabila qishash betul-betul tidak memungkinkan untuk dilaksanakan maka pelaku dibebani hukuman diat.

2) Hukuman diat
Diatas telah dikemukakan bahwa manfaat anggota badan ada yang menyatu dengan anggota badannya dan ada pula yang terpisah. Dalam hal manfaat yang menyatu dengan anggota badannya maka apabila anggota badannya hilang atau rusak, dan dengan sendirinya mengakibatkan lenyapnya manfaatnya, hukuman yang dijatuhkan hanya satu diat, yaitu diat anggota badan. Apabila manfaatnya lenyap, sedangkan anggota badannya masih tetap utuh, barulah berlaku hukuman diat menfaat. Sebagai contoh dapat dikemukakan, apabila seorang memukul kepala orang lain dan mengakibarkan lenyapnya daya penglihatan dan daya pendengaran, sedangkan mata dan telinganya masih tetap utuh maka dalam kasus ini pelaku dikenakan dua diat, yaitu diat penglihatan dan pendengaran.

Dalam hal manfaat yang terpisah dari anggota badannya, apabila anggota badan hilang atau rusak karena suatu tindak pidana dan manfaatnya juga turut lenyap maka dalam kasus ini pelaku dikenakan dua diat, yaitu diat anggota badan dan diat manfaat. Contohnya apabila seseorang memukul bagian telinga orang lain, sehingga mengakibatkan hilangnya daun telingadan daya pendengarannya maka ia dikenakan dua diat, yaitu diat telinga dan diat pendengaran.

Menurut mazhab syafi’i dan hanbali, manfaat anggota badan yang dapat diberlakukan hukuman diat tidak terbatas kepada manfaat-manfat tertentu saja, melainkan mencakup semua jenis anggota badan yang memiliki manfaat. Manfaat-manfaat yang disebutkan dalam buku-buku itu hanya sekedar contoh dari beberapa jenis manfaat saja yang apabila lenyap maka wajib diat.

Imam malik membatasi manfaat anggota badan ini hanya pada sepuluh jenis saja, yaitu
a) Akal
b) Pendengaran
c) Penglihatan
d) Penciuman
e) Pembicaraan
f) Suara
g) Rasa (dzauq)
h) Jima’ dan keturunan
i) Perubahan warna kulit
j) Berdiri dan duduk

Dibawah ini akan dijelaskan hukuman diat atau ganti rugi untuk sebagian manfaat anggota badan yang dianggap sangat penting.

a) Diat akal
Apabila seseorang melakukan tindak pidan yang mengakibatkna hilangnya akal, ia dapat dikenakan hukuman diat. Ketentuan ini didasarkan pada hadis nabi yang diriwayatkan oleh amr ibn hazm yang didalamnya disebutkan
“…dan pada perusakan akal berlaku hukuman diat.”

Alasan lain adalah karena akal merupakan organ yang sangat penting dan besar pengaruhnya terhadap seluruh anggota tubuh, karena fungsinya sebagai pengatur dan pengendali. Disamping itu, akal menyebabkan manusia berbeda dengan binatang, sehingga ia (manusia) dibebani taklif. Oleh karena itu, wajarlah apabila seseorang melakukan tindak pidana yang menyebabkan hilang akal, ia dikenakan hukuman diat, yaitu seratus ekor unta.

b) Diat pendengaran
Apabila terjadi suatu tindak pidana yang mengakibatkan rusak atau lenyapnya daya pendengaran, pelaku dapat dikenakan hukuman diat. Ketentuan ini didasarkan kepada hadis nabi yang diriwayatkan oleh mu’adz bahwa nabi saw bersabda:
“…dalam melenyapkan daya pendengaran berlaku suatu diat…”
(hadis riwayat baihaqi)

Di samping hadis tersebut juga ada atsar sahabat. Diriwayatkan dari abi qilabah, bahwa seseorang melempar orang lain dengan batu pada kepalanya sehingga hilanglah pendengarannya, akalnya, pembicaraannya, dan kejantanannya, sedangkan orangnya masih hidup. Maka sayidina umar memutuskan dengan memberikan hukuman empat macam diat atau empat ratus ekor unta.

Apabila yang hilang hanya salah satu pendengarannya maka berlaku separuh diat. Apabila dipotng kedua telinga dan lenyap pula pendengarannya, maka berlaku dua diat, karena pendengaran terpisah dari telinga, sehingga hukumannya tidak bisa disatukan. Akan tetapi sebagian ulama malikiyah berpendapat, bahwa untuk pendengaran berlaku diat, sedangkan untuk telinga berlaku hukumah. Alasannya adalah karena menurut mereka perusakan telinga hanya dikenakan hukumah, bukan diat.

c) Diat daya penglihatan
Dalam menghilangkan daya penglihatan berlaku hukuman diat, karena penglihatan merupakan manfaat kedua mata. Apabila hilangnya anggota badan mewajibkan hukuman diat, maka demikian pula menghilangkan manfaatnya. Apabila manfaat yang hilang itu hanya sebelah maka diatnya adalah separuhnya, yaitu lima puluh ekor unta. Akan tetapi, apabila manfaat itu hilang bersama-sama dengan hilangnya kedua mata maka hukumannya hanya satu diat, yaitu diat mata.

d) Diat penciuman
Menghilangkan daya penciuman dapat dikenakan hukuman diat. Ketentuan ini berdasarkan hadis nabi dalam suratnya kepada amr ibn hazm, yang didalamnya disebutkan;
“…pada perusakan atau pelenyapan daya penciuman berlaku hukuman diat…”

Apabila seseorang memotong hidung orang lain yang mengakibatkan hilangnya daya penciuman, hukumannya adalah dua diat, karena penciuman terpisah dari hidung. Apabila daya penciuman hilang dari sebuah lubang hidung maka berlaku separuh diat, yaitu lima puluh ekor unta.

e) Diat perasaan (dzauq)
Menurut imam malik dan imam abu hanifah, dalam melenyapkan perasaan lidah (dzauq) berlaku hukuman diat. Alasannya adalah dengan mengiaskan perasaan lidah (dzauq) dengan kepada panca indra yang lain, seperti penciuman. Di kalangan mazhab hanbali berkembang dua pendapat. Pendapat pertama berlaku hukuman diat, sedangkan menurut pendapat yang kedua tidak berlaku hukuman diat.

Hukuman diat penuh ini berlaku apabila perasaan lidah ini hilang secara total. Akan tetapi, apabila rasa yang hilang itu hanya sebagian saja maka berlaku hukumah. Menurut imam nawawi, sebagaimana dikutip oleh haliman, indra rasa ini dapat mengetahui rasa manis, asam, pahit, asin dan sedap, dan hukumann diatnya dibagi-bagi sesuai dengan hilangnya rasa tersebut.

f) Diat kemampuan berbicara
Lenyapnya kemampuan berbicara karena suatu tindak pidana, mengakibatkan hukuman diat. Hukuman diat ini berlaku apabila tindak pidana mengakibatkan korban menjadi bisu. Syarbini khatib, seperti dikutip oleh haliman, mendasarkannya kepada hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, yang artinya:
“pada lidah satu diat apabila menyebabkan korban tidak bisa berbicara. Apabila yang hilang itu hanya sebagian dari kemampuan berbicara diatnya disesuaikan dengan kadar hilangnya kemampuan tersebut.

Apabila seseorang memotong lidah orang lain, sehingga mengakibatkan hilangnya kemampuan berbicara dan perasaan lidahnya maka untuk semua akibat tersebut pelaku hany dikenakan satu diat, karena diat kalam (berbicara) dan diat rasa (dzauq) sudah termasuk ke dalam diat lidah. Akan tetapi apabila seseorang melakukan tindak pidan sehingga mengakibatkan hilangnya kemampuan berbicara dan perasaan lidahnya sedangkan lidahnya masih utuh, pelaku dikenakan dua diat. Sedangkan menurut sebagian fuqaha hanabilah, dalam kasus terakhir ini hanya berlaku satu diat.

g) Diat kemampuan berjalan dan berjima’
Hilangnya kemampuan berjalan dan berjima’ karena suatu tindak pidana mengakibatkan hukuman diat yang sempurna untuk masing-masing hilangnya kemampuan tersebut.hilangnya kedua kemampuan ini biaanya timbul karena perusakan pada tulang belakang. Dengan demikian apabila suatu tindak pidana menyebabkan patahnya tulang belakang dan kemudian mengakibatkan korban tidak mampu melakuakn hubungan sesual (jima’) maka menurut imam malik hukumannya adalah dua diat. Apabila karena patahnya tulang belakang tersebut berakibat hilangnya kemampuan berjalan disamping hilangnya kemampuan berjima’ maka hukumannya adalah tiga diat. Akan tetapi apabila tulang belakangnya tidak patah, maka hanya berlaku dua diat.

Dalam mazhab syafi’i dan hanbali terdapat dua pendapat sebagai berikut. Pendapat pertama menyatakan bahwa untuk hilangnya kemampuan berjalan dan berjima’ berlaku dua diat, karena kedua manfaat tersebut berbeda antara yang satu dengan yang lain. Menurut pendaat yang kedua, dalam kasus tersebut hanya berlaku satu diat, karena kedua manfaat tersebut hanya bertumpu kepada manfaat satu anggota badan, yaitu tulang belakang.

Imam abu hanifah sama pendapatnya dengan pendapat yang kedua dari mazhab syafi’i dan hanbali, yaitu dalam hilangnya kedua manfaat tersebut hanya berlaku satu diat saja.

h) Manfaat lain-lain
Hukuman diat berlaku juga pada Ash-sha’r, yaitu apabila seseorang memukul orang lain sehingga mengakibatkan wajahnya berpindah ke samping dan tidak bisa kembali lagi. Pendapat ini dikemukakan oleh imam abu hanifah dan imam ahmad. Sedangkan menurut imam syafi’i dalam kasus ini hanya berlaku hukumah atau ganti rugi yang tidak tertentu, karena yang hilang hanya keindahannya, sedang manfaatnya tidak ada.

Menurut imam abu hanifah, hukuman diat berlaku juga dalam menghilangkan manfaat beranak. Mazhab syafi’i malah memperluas pemberlakuan diat terhadap hilangnya manfaat dari setiap organ tubuh yang ada pada manusia, seperti rusaknya pita suara, kemampuan pencernaan dan lain-lain

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: HUKUMAN DIAT UNTUK IBANAH (PERUSAKAN) ATHROF DAN SEJENISNYA

Hukuman diat
Hukuman diat merupakan hukuman pengganti untuk Qishash apabila hukuman qishash terhalang karena suatu sebab, atau gugur karena sebab sebab tertentu. Diat sebagai hukuman pengganti berlaku dalam tindak pidana atas selain jiwa dengan sengaja. Di sampiing itu diat juga merupakan hukuman pokok apabila jinayahnya menyerupai sengaja atau kesalahan, seperti apa yang dikemukakanoleh syafi’iyah dan hanabilah.

Diat sebagai hukuman pokok atau hukuman pengganti, digunakan untuk pengertian diat yang penuh (kamilah), yaitu seratus ekor unta. Adapun hukuman yang kurang dari diat penuh (kamilah), maka digunakan istilah irsy. Walaupun demikian, kebanyakan para ulama mungkin untuk mempermudah penyebutan tetap menggunakan lafaz diat untuk hukuman yang seharusnya digunakan istilah irsy.

Irsy (ganti rugi) ada dua macam;
Irsy yang telah ditentukan (irsyum muqoddar)
Irsy yang belum ditentukan (irsyun ghoyru muqoddar)

Irsyum muqoddar adalah ganti rugi yang sudah ditentukan batas dan jumlahnya oleh syara’. Contohnya ganti rugi untuk satu tangan atau satu kaki. Sedangkan irsyun ghair muqaddar adalah ganti rugi atau denda yang belum ditentukan oleh syara’, dan untuk penentuannya diserahkan kepada hakim. Ganti rugi yang ke dua ini disebut hukumah.

Hukuman diat (kamilah) berlaku apabila manfaat jenis anggota badan hilang seluruhnya, seperti hilangnya dua tangan. Sedangkan irsy berlaku apabila manfaat jenis anggota badan itu hilang sebagian, sedangkan sebagian lagi masih utuh. Contohnya seperti hilangnya satu tangan, atau satu kaki, atau satu jari.

Diat kamilah
Diat kamilah atau diat sempurna berlaku apabila manfaat jenis anggota badan dan keindahannya hilang sama sekali. Hal ini terjadi dengan perusakan seluruhanggota badan yang sejenis, atau dengan menghilangkan manfaatnya tanpa merusak atau menghilangkan bentuk atau jenis anggota badan itu.

Anggota badan yang berlaku diat yang sempurna ada empay kelompok, yaitu sebagai berikut;
Anggota yang tanpa pasangan
Termasuk dalam kelompok ini adalah
Hidung
Lidah
Zakar (kemaluan)
Tulang belakang (ash shulb)
Lubang kencing
Lubang dubur
Kulit
Rambut
Jenggot

Anggota yang berpasangan (dua buah)
tangan
kaki
mata
telinga
bibir
alis
payudara
telur kemaluan laki-laki
bibir kemaluan perempuan
pinggul
tulang rahang

Anggota yang terdiri dari dua pasang
Yang termasuk dalam kelompok ini adalah;
Kelopak mata
Bulu mata

Anggota yang terdiri dari lima pasang atau lebih;
Jari tangan
Jari kaki
Gigi

Diat ghair kamilah
Di atas telah dikemukakan bahwa diat ghair kamilah berlaku dalam ibanah al athraf, apabila jenis anggota badan atau menfaatnya hilang sebagian, sedangkan sebagian lagi masih utuh. Diat ghair kamilah atau irsy ini berlaku untuk semua jenis anggota badan, baik yang tunggal (tanpa pasangan) maupun yang berpasangan.

Dalam perusakan anggota badan yang tunggal (tanpa pasangan), irsy berlaku apabila perusakan berlaku pada sebagian anggota badan. Pada perusakan hidung misalnya, irsy berlaku pada perusakan batang hidung (qashabah). Demikian pula dalam pemotongan lidah, irsy berlaku pada pemotongan sebagian lidah yang mengakibatkan kurang sempurna perkataan, atau pada perusakan lidah yang bisu. Dalam pemotongan zakar, irsy berlaku pada pemotongan zakar yang tidak ada hasyafah-nya.

Dalam perusakan atau pemotongan anggota badan yang berpasangan, irsy berlaku apabila pemotongan terjadi pada sebagian dari pasangan tersebut. Sebagai contoh untuk pemotongan sebelah tangan atau kaki dikenakan irsy muqaddar (ganti rugi yang tertentu). Pada pemotongan satu jari misalnya, berlaku irsy muqaddar yaitu sepuluh ekor unta, dua jari duapuluh ekor unta, dan seterusnya. Pemotongan sebelah telinga dikenakan irsy muqaddar. Demikian pula perusakan atau penanggalan satu gigi dikenakan irsy muqaddar, yaitu lima ekor unta, dua gigi sepuluh ekor unta, dan seterusnya.

Di bawah ini dijelaskan secara rinci diat kamilah dan ghair kamilah (irsy) untuk masing-masing anggota badan tersebut.

Diat hidung
Diat yang sempurna untuk hidung berlaku apabila bagian yang rusak adalah tulang rawan. Alasannya adalah hadis yang diriwayatkan oleh abu bakar ibn muhammad ibn amr ibn hazm dari ayahnya dari kakeknya bahwa nabi saw menulis surat untuk penduduk yaman, yang berisi ketentuan mengenai qishash dan diat. Di dalam hadis tersebut antara lain rasulullah saw bersabda;
…Di dalam perusakan hidung apabila menghilangkan seluruh tulang rawan berlaku hukuman diat…
(hadis diriwayatkan oleh abu dawud di dalam marasil, nasa’i, ibn ibn khuzaimah, ibn jarud, ibn hibban, dan ahmad)

Alasan lain adalah pada hidung terdapat keindahan dan manfaat. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara hidung yang mempunyai daya penciuman dengan yang tidak memilikinya. Pemotongan sebagian dari hidung juga dikenakan hukuman diat (irsy), sesuai dengan kadar perusakannya. Apabila hidung yang di potong itu seperuh, maka diatnya separuh, dan apabila yang di potong itu sepertiga maka hukumannya sepertiga diat. Bagian – bagian dari hidung, yaitu dua sisi kanan dan kiri yang di sebut munkhar, dan diantara keduanya ada penyekat yang disebut hajiz, menurut imam nawawi untuk masing – masing bagian adalah sepertiga diat.

Apabila yang dipotong tulang rawan (marin) dan batang hidung (qashabah), menurut mazhab syafi’i dan alah satu pendapat fuqaha hanabilah, untuk tulang rawan satu diat dan untuk batang hidung (qashabah) berlaku hukumah. Menurut imam malik dan imam abu hanifah serta salah satu pendapat hanabilah, dalam kasus ini pelaku hanya dikenakan satu diat, karena tulang rawan dan batang hidung kedua-duanya merupakan satu kesatuan yang disebut hidung.

Diat lidah
Dalam perusakan atau pemotongan lidah berlaku hukuman diat, berdasarkan hadis rasulullah saw melalui amribn hazm:
“…dan pada pemotongan lidah berlaku hukuman diat…”

Alasan lain adalah karena pada lidah terdapat keindahan dan manfaat. Ada dua manfaat yang terdapat pada lidah, yaitu untuk berbicara dan untuk merasakan berbagai rasa makanan.

Hukuman diat untuk perusakan lidah berlaku untuk lidah yang mampu berbicara. Apabila seseorang melakukan tindakan yang merusak lidah, sehingga pemiliknya menjadi bisu, ia wajib dikenakan hukuman diat yang sempurna, meskipun lidahnya sendiri masih utuh.

Pemotongan sebagian lidah yang mengakibatkan kurang sempurnanya ucapan korban dapat dikenakan hukuman diat sesuai dengan kadar hilangnya (tidak sempurnanya) perkataan. Menurut ar-rahman sebagaimana dikutip oleh dr. Saliman, s.h., diat dibagi – bagi menurut hilangnya huruf. Ada enambelas macam huruf yang dikeluarkan oleh lidah, yaitu ta, tsa, jim, dal, dzal, ra, zai, sin, syin, shad, dhad, tha, zha, lam, mim, nun, dan ya. Dalam hal ini diat wajib dibayarkan atas huruf – huruf yang tidak dapat lagi diucapkan atau hilang. Apabila diat dibagi dalam enambela huruf tersebut, untuk hilangnya satu huruf wajib dibayar seperenam belas diat.

Dalam perusakan lidah yang bisu, menurut imam malik dan imam abu hanifah, hanya berlaku hukumah. Sedangkan menurut mazhab syafi’i dalam kasus ini harus dibedakan antara perbuatan yang mengakibatkan hilangnya perasaan lidah (dauq) dan tidak menghilangkannya. Apabila perusakan tersebut menghilangkan perasaan lidah (dauq) maka pelaku wajib dikenakan diat, dan apabila tidak menghilangkannya, pelaku hanya dikenakan hukumah. Dalam mazhab hanbali ada yang berpendapat bahwa dalam hal perusakan lidah yang bisu tidak wajib diat secara mutlak.

Diat zakar
Dalam perusakan zakar (alat kelamin laki-laki) dan menghilangkan manfaatnya, berlaku hukuman diat, berdasarkan hadis rasulullah saw, melalui amr ibn hazm:
“…dan pada perusakan zakar berlaku hukuman diat…”
Selain hadis tersebut alasan lain adalah karena zakar merupakan alat yang sangat vital bagi manusia yang mengandung unsur keindahan dan manfaat yang sangat besar.

Dalam hal pemotongan zakar ini tidak ada perbedaan antara zakar anak – anak, pemuda, orang tua, dan orang dewasa. Semuanya itu tetap berlaku hukuman diat.

Dalam pemotongan kepala kemaluan (hasyafah) tetap berlaku satu diat, karena hasyafah merupakan bagian yang menyebabkan sempurnanya manfaat zakar. Dalam pemotongan sebagian hasyafah berlaku separuh diat.

Dalam hal pemotongan zakar yang lemah karena dikebiri atau karena impoten, terjadi perbedaan pendapat. Menurut mazhab syafi’i, hanbali, dan salah satu pendapat dalam mazhab maliki, tetap berlaku satu diat. Alasan mereka adalah karena anggotanya (zakarnya) tetap sempurna (sehat), sedangkan lemahnya kemampuan jima’, disebabkan karena unsur yang lain. Akan tetapi menurut imamabu hanifah, dalam kasus ini hanya berlaku hukumah, karena yang menjadi ukuran standar adalah kemampuan untuk melakukan hubungan seksual. Pendapat ini merupakan salah satu pendapat mazhab maliki. Dalam hal zakar tanpa hasyafah, para ulama sepakat bahwa pelaku hanya dikenakan hukumah.

Diat tulang belakang (ash_shulb)
Dalam perusakan tulang belakang (ash shulb) berlaku satu diat, berdasarkan hadis rasulullah saw melalui amr ibn hazm:
“…dan pada perusakan tulang rusuk (belakang) berlaku hukuman diat…”

Alasan lain adalah perusakan tulang belakang menghilangkan manfaat anggota badan yang lain, misalnya kemampuan berjalan.

Apabila kerusakan tersebut hanya retak saja, menurut satu pendapat dalam mazhab hanbali berlaku hukuman diat. Sedangkan pendapat yang lain dalam pendaat mazhab hanbali, sama dengan pendapat jumhur fuqaha, yaitu hanya dikenakan hukumah, selama perusakan tersebut tidak sampai menghilangkan manfaat dan kemampuan berjalan dan berjima’. Akan tetapi apabila retanya tulang belakang tersebut mengakibatkan korban tidak mampu berjalan dan berjima’, hukumannya adalah diat.

Diat saluran (lubang) kencing dan lubang dubur
Apabila suatu tindakan pidana mengakibatkan rusaknya saluran kencing atau dubur sehingga air kencing dan atau kotoran tidak dapat dikendalikan, pada masing-masing saluran tersebut berlaku hukuman diat. Hal ini karena kedua anggota badan tersebut merupakan anggota yang sangat penting dalam tubuh manusia. Oleh karena itu kedudukannya sama dengan organ tubuh yang lain seperti telinga atau mata.

Apabila manfaat kedua saluran tadi rusak karena satu tindak pidana pelaku dikenakan dua diat, karena keduanya merupakan dua jenis anggota badan yang fungsinya berainan. Hal ini telah disepakati oleh para fuqaha. Namun di kalangan mazhab maliki ada pendapat yang menyatakan bahwa untuk kedua saluran tersebut masing – masing hanya berlaku hukumah.

Diat kulit
Menurut mazhab syafi’i beraku hukuman diat atas tindak pidana yang mengakibatkan kulit rusak atau terkelupas seluruhnya, karena pada umumnya seseorang jarang yang dapat bertahan hidup dalam kondisi tubuh tanpa kulit. Imam malik berpendapat bahwa pada kulit berlaku hukuman diat apabila pelaku melakukan perbuatan yang mengakibatkan kulit menjadi hitam dan belang. Akan tetapi menurut imam abu hanifah dan imam ahmad ibn hanbal, pada perusakan kulit tidak berlakuhukuman diat, melainkan hukumah.

Diat rambut, jenggot dan alis
Menurut imam abu hanifah, hukuman diat berlaku dalam tindak pidana merusak dan menghilangkan rambut kepala, baik laki-laki maupun perempuan, dan jenggot, dengan syarat rambut tersebut tidak bisa tumbuh lagi. Alasannya adalah karena rambut, baik bagi laki-laki maupun perempuan, merupakan sesuatu yang dapat menambah keindahan dan kecantikannya. Sedangkan untuk rambut (bulu) yang lain, seperti alis dan kumis, hanya berlaku hukumah.

Imam ahmad sama pendapatnya dengan imam abu hanifah, hanya berbeda dalam menentukan hukuman karena menghilangkan kedua alis, yaitu berlaku hukuman diat. Sedangkan imam syafi’i dan imam malik berpendapat bahwa dalam merusak atau menghilangkan rambut hanya berlaku hukumah, karena dalam hal ini yang hilang hanya keindahannya saja.

Diat tangan
Dalam menghilangkan kedua tangan berlaku hukuman diat. Alasannya adalah hadis yang diriwayatkan oleh mu’adz bahwa rasulullah saw bersabda;
“…di dalam perusakan kedua tangan berlaku hukuman diat…”

Apabila salah satu tangan yang hilang, rusak, atau potong, hukumannya adalah separuh diat, berdasarkan surat dari nabi muhammad kepada amr ibn hazm ketika ia ditugaskan ke najran yang isinya antara lain;
“…dalam perusakan satu tangan dikenakan hukuman lima puluh ekor unta…”

Para ulama berbeda pendapat dalam mengartikan “tangan” (al-yad). Menurut kebanyakan fuqaha dari mazhab syafi’ dan sebagian fuqaha hanabilah serta imam abu hanifah dan imam muhammad ibn hasan yang dimaksud dengan tangan itu adalah telapak tangan (sampai batas pergelangan tangan). Konsekuensi dari pengertian tersebut adalah hukuman diat berlaku untuk pemotongan tangan sampai batas pergelangan tangan. Apabila pemotongan melebihi telapak tangan (pergelangan), untuk kelebihan tersebut berlaku hukumah. Menurut imam malik, sebagian besar fuqaha hanabilah, sebagian fuqaha mazhab syafi’i, dan imam abu yusuf dari mazhab hanafi, yang dimaksud dengan tangan itu adalah keseluruhan tangan mulai dari telapak sampai pundak. Konsekuensi dari pengertia ini adalah bahwa hukuan diat berlaku untuk pemotongan telapak tangan maupun selebihnya.

Pemotongan jari tangan dikenakan hukuman sepersepuluh diat, yaitu sepuluh ekor unta untuk satu jari. Hal ini didasarkan kepada hadis abi bakar ibn muhammad ibn hazm, yang didalamnya disebutkan:
“…dan untuk setiap jari tangan dan kaki dikenakan sepuluh ekor unta.”

Alasan lain adalah karena jari itu jumlahnya ada sepuluh buah, sehingga perhitungan diatnya untuk satu jari, seratus ekor unta dibagi sepuluh.

Pemotngan bagian-bagian jari, selain ibu jari dikenakan hukuman sepertiga diat. Sedangkan pemotonga ibu jari hukumannya adalah separuh diat.

Untuk pemotongan tangan atau jari yang lumpuh, hanya berlaku hukumah. Alasannya dalam kasus ini yang dirusak hanya keindahannya saja sedangkan manfaatnya memang sejak awal sudah tidak ada. Akan tetapi menurut pendapat sebagian fuqaha hanabilah, dalam kasus ini hukumannya adalah sepertiga diat.

Diat kaki
Perusakan atau pemotongan kedua kaki dikenakan hukuman diat kamilah, sedangkan untuk satu kaki adalah separuh diat. Hal ini didasarkan kepada hadis yang diriwayatkan oleh imam abu dawud, nasa’i dan lain-lain dari abu bakar ibn muhammad ibn amr ibn hazm yang di dalam nya disebutkan:
…pada pemotongan satu kaki berlaku separuh diat…

Seperti halnya dalam mengartikan kata tangan, para ulama juga berbeda pendapat dalam mengartikan kaki. Menurut kebanyakan fuqaha mazhab syafi’i, sevagian fuqaha hanabilah, dan imam abu hanifah serta muhammad ibn hasan, yang dimaksud dengan kaki adalah telapak kaki (sampai batas mata kaki). Konsekuensi dari pengertian ini adalah hukuman diat berlaku untuk pemotongan kaki sampai batas mata kaki. Apabila pemotongan melebihi mata kaki maka untuk, kelebihan tersebut disamping diat, berlaku juga hukumah. Menurut imam malik, sebagan besar fuqaha hanabilah, sebagian besar fuqaha mazhab syafi’i, dan imam abu yusuf dari mazhab hanafi, yang dimaksud dengan kaki adalah keseluruhan kaki dari mulai telapak kaki sampai pangkal paha. Konsekuensi hukum dari pengertian ini adalah baik pemotongan telapak kaki hanya berlaku satu diat kamilah, tanpa ada tambahan hukumah.

Pemotongan jari kaki hukumanya sama dengan pemotongan jari tangan, yaitu sepersepuluh diat untuk satu jari, yaitu sepuluh ekor unta. Demikian pula pemotongan bagian – bagian jari kaki, hukumannya sama dengan pemotongan bagian – bagian jari tangan.

Diat mata
Hukuman diat untuk perusakan kedua mata adalah seratus ekor unta, sedangkan untuk perusakan sebelah mata diatnya adalah limapuluh ekor unta. Ketentuan ini didasarkan pada hadis nabi dari amr ibn hazm, yang didalamnya disebutkan;
“…pada perusakan kedua mata berlaku hukuman diat…”

Untuk mata yang buta sebelah, sedangkan yang sebelahnya masih normal, menurut imam abu hanifah dan imam syafi’i, untuk keduanya berlaku separuh diat, karena mata yang sebelah tidak berfungsi. Akan tetapi menurut imam malik dan imam ahmad, untuk keduanya berlaku diat yang sempurna, yaitu seratus ekor unta. Hilangnya daya penglihatan juga menyebabkan berlakunya hukuman diat, meskipun matanya masih utuh.

Diat telinga
Perusakan atau pemotongan kedua telinga dikenakan hukuman diat yang sempurna, yaitu seratus ekor unta, sedangkan perusakan salah satunya dikenakan separuh diat atau limapuluh ekor unta. Ketentuan ini didasarkan kepada hadis nabi dari amr ibn hazm yang didalamnya disebutkan:
“…pada perusakan satu telinga berlaku hukuman diat lima puluh ekor unta…”

Disamping hadis tersebut alasan lain oleh karena pada telinga terdapat unsur keindahan dan manfaat.

Pemotongan sebagian telinga juga dikenakan jukuman diat sesuai dengan kadar atau ukuran pemotongannya, misalnya separuh, sepertiga, atau seperempat.

Apabila pemotongan kedua telinga tidak mengakibatkan hilangnya daya pendengaran maka menurut jumhur fuqaha, yaitu imam abu hanifah, imam syafi’i, imam ahmad, dan sebagian fuqaha malikiyah pelaku tetap dikenakan hukuman diat. Alasan mereka adalah bahwa kedua telinga mempunyai manfaat yang terpisah dari daya pendengaran, yaitu menampung dan mengumpulkan suara sebelum suara itu masuk ke gendang telinga. Akan tetapi sebagian fuqaha malikiyh berpendapat, bahwa dalam kasus tersebut pelaku hanya dikenakan hukumah. Alasanya adalah kedua daun telinga itu tidak memiliki manfaat, melainkan hanya berfungsi sebagai keindahan saja dan imbangan untuk keindahan itu hanyalah hukumah.

Diat bibir
Perusakan kedua bibir dikenakan diat yang sempurna, yaitu seratus ekor unta. Ketentuan ini didasarkan pada hadis nabi dari amr ibn hazm yang didalamnya disebutkan;
“…dan pada perusakan dua bibir berlaku diat..”

Di samping hadis tersebut, alasan lain adalah karena bibir itu banyak manfaatnya, disamping berfungsi sebagai keindahan.

Pemotongan satu bibir baik sebelah atas maupun sebelah bawah dikenakan separuh diat, yaitu lima puluh ekor unta. Demikian pula pemotongan sebagian dari bibir dikenakan hukuman diat, sesuai dengan kadar pemotongannya.

Diat puting susu dan buah dada
Pemotongan buah dada dikenakan hukuman diat yang sempurna dan pada salah satunya dikenakan separuh diat. Disamping itu, juga berlaku hukuman diat untuk pemotongan kedua puting susu. Dalam pemotongan kedua puting susu ini, imam malik mensyaratkan terhentinya air susu untuk bisa berlakunya hukuman diat. Apabila syarat ini tidak terpenuhi maka berlaku hukumah. Sedangkan ulama yang lain tidak mensyaratkan hal tersebut.

Perusakan buah dada laki-laki menurut imam malik, imam abu hanifah, dan imam syafi’i hanya dikenakan hukumah. Sedangkan menurut mazhab hanbali, dalam kasus ini tetap berlaku hukuman diat.

Diat biji pelir (telur laki-laki)
Perusakan dua buah biji pelir (telur laki-laki) dikenakan hukuman diat yang sempurna. Hal ini didasarkan kepada hadis nabi dari amr ibn hazm yang di dalamnya disebutkan;
“…dan pada perusakan dua telur laki-laki berlaku hukuman diat…”

Perusakan pada salahsatu dari kedua biji pelir tersebut dikenakan hukuman separuh diat.

Pemotongan zakar (penis) dan dua buah telur sekaligus (bersamaan), atau memotong zakar terlebih dahulu kemudian telur, dapat dikenakan hukuma dua diat, satu diat untuk zakar dan satu diat untuk telur. Akan tetapi, apabila dua telur dipotong lebih dahulu sebelum zakar maka menurut mazhab hanafi dan sebagian fuqaha malikiyah, untuk pemotongan dua telur hukumnya adalah diAT, sedangkan untuk pemotongan zakar, dikenakan hukumah, karena menurut mereka setelah pemotongan telur, maka zakar menjadi impoten, dan akar yang impoten hanya dikenakan hukumah. Sedangkan menurut ulama-ulama yang lain, dalam pemotongan zakar dan telur hukumannya tetap dua diat, baik pemotongan telur dilakukan sebelum pemotongan zakar mmaupun sesudahnya.

Diat bibir kelamin perempuan
Dalam pemotongan dua bibir kemaluan perempuan berlaku hukuman diat yang sempurna apabila pemotongan tersebut sampai mengakibatkan kelihatan tulangnya. Pemotongan salah satunya dikenakan hukuman separuh diat. Alasanya adalah pada kedua bibir kemaluan tersebut terdapat keindahan dan manfaat. Dengan demikian, anggota badan tersebut disamakan statusnya dengan anggota badan yang lain.

Diat pinggul
Menurut imam abu hanifah, imam syafi’i dan imam ahmad, hukuman diat berlaku pada perusakan dua buah pinggul, dan pada perusakan salah satunya berlaku separuh diat. Alasanya adalah karena pinggul merupakan anggota badan yang jenis dan fungsinya berbeda dengan anggota badan yang lain. Di samping itu juga pada pinggul terdapat keindahan dan manfaat, seperti halnya anggota badan yang lain. Pendapat ini juga dikemukakan oleh sebagian ulama malikiyah.

Akan tetapi menurut sebagian uama malikiyah, pada perusakan dua buah pinggul hanya berlaku hukumah, baik perusakan sampai pada tulang yang ada di bawahnya maupun hanya sebagiannya.

Diat tulang rahang
Imam syafi’i dan imam ahmad berpendapat bahwa dalam perusakan dua rahang berlaku hukuman diat yang sempurna dan pada perusakan salah satunya berlaku separuh diat. Alasanya adalah karena pada tulang rahang tersebut terdapat unsur keindahan dan manfaat. Di samping itu juga tulang rahang merupakan anggota badan yang tidak ada padanannya dalam tubuh, yang fungsinya berbeda dengan anggota tubuh yang lain. Apabila gigi turut rontok pada perusakan rahang maka hukumannya ditambah dengan diat gigi.

Akan tetapi menurut imam malik, perusakan rahang tidak mewajibkan diat yang sempurna, melainkan disamakan dengan hukuman diat untuk mudhilah muka. Mudhilah adalah pelukaan pada bagiankepala atau muka sampai kelihatan tulangnya, dan hukumannya adalah denda yang telah ditentukan, yaitu lima ekor unta.

Diat kelopak mata
Menurut jumhur ulama, yaitu imam abu hanifah, imam syafi’i, dan imam ahmad, pada perusakan semua kelopak mata berlaku hukuman diat kamilah, yaitu seratus ekor unta. Alasanya adalah karena pada kelopak mata terdapat keindahan dan manfaat. Kelopak mata itu sendiri atas dua pasang atau ada empat buah maka untuk masing-masing berlaku seperempat diat atau dua puluh lima ekor unta. Akan tetapi menurut imam malik, untuk kelopak mata tidak berlaku hukuman diat melainkan hukumah yang penetapannya diserahkan kepada ijtihad hakim. Alasannya adalah karena dalam kasus ini tidak ada dalil (nas) yang menetapkan hukuman diatnya, dan imam malik tidak memberlakukan qiyas, sebagaimana yang dilakukan oleh imam-imam yang lain.

Diat bulu mata
Seperti halnya diat rambut, diat bulu mata ini juga diperselisihkan oleh para ulama. Menurut imam abu hanifah dan imam ahmad, perusakan bulu mata ini hukumannya adalah diat sempurna, dan pada masing-masingnya berlaku seperempat diat atau dua puluh lima ekor unta. Tetapi apabila bulu mata ini di potong bersama-sama dengan kelopak mata diatnya hanya satu, yaitu seratus ekor unta.

Menurut imam malik dan imam syafi’i pada perusakan bulu mata hanya berlaku hukumah, karena bulu mata ini hanya mengandung keindahan semata tanpa manfaat. Apabila bulumata dipotong bersama-sama dengan kelopaknya, di dalam mazhab syafi’i ada dua pendapat. Menurut pendapat pertama, untuk bulu mata tidak ada hukumannya, yang ada hanya diat untuk kelopaknya saja. Sedangkan menurut pendapat yang kedua, untuk perusakan kelopak mata berlaku hukuman diat, dan untukperusakan bulu mata berlaku hukumah.

Diat gigi
Hukuman ddiat yang berlaku untuk perusakan atau pencabutan setiap gigi adalah lima ekor unta. Ketentuan ini berdasarkan hadis nabi melalui amr ibn hazm yang di dalamnya disebutkan:
“…dan pada perusakan gigi berlaku hukumandiat lima ekor unta…”

Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara diat untuk gigi taring, gigi geraham, dan gigi lainnya. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh turmudzi dan abu dawud dari ibn abbas bahwa rasulullah bersabda:
“…dan diat gigi juga sama. Gigi depan dan geraham juga sama.”

Hukuman diat ini berlaku pada pencabutan atau perusakan gigi asli yang dewasa (matsghuroh). Sedangkan pada pencabutan gigi anak-anak, tidak dikenakan hukuman diat, karena menurut kebiasaannya, gigi tersebut akan tumbuh kembali.

Apabila terjadi pencabutan gigi yang goyah, sedangkan manfaatnya masih ada, yaitu untuk mengunyah makanan maka dalam kasus ini wajib ada ganti rugi (irsy). Apabila karena tindak pidana itu gigi berubah warnanya menjadi hitam, hijau, merah, atau kuning, maka menurut mazhab maliki harus ada ganti rugi (irsy) apabila perubahan kepada hijau, merah atau kuning tersebut menyamai hitam. Apabila tidak maka berlaku hukumah. Sedangkan menurut mazhab hanafi dalam kasus ini berlaku ganti rugi (irsy) apabila warna kuning tersebut menyamai hitam. Menurut salah satu pendapat dalam mazhab syafi,i dalam semua perubahan warna gigi tersebut hanya berlaku hukumah. Sedangkan menurut pendapat yang lain, pada perubahan gigi menjadi warna hitam berlaku hukuman diat apabila manfaatnya hilang. Apabila manfaat tersebut masih tetap ada, hukumannya adalah hukumah. Mazhab hanbali dalam salah satu pendapatnya sma dengan pendapat kedua dalam mazhab syafi,i, sedangkan menurut pendapat yang kedua, pada gigi yang berubah menjadi hitam berlaku hukuman diat.

Apabila satu tindak pidana merontokkan gigi seluruhnya, yaitu tiga puluh dua gigi, menurut jumhur ulama yang terdiri dari abu hanifah, imam malik dan imam ahmad ibn hanbal diatnya adalah seratus enam puluh ekor unta. Hal ini didasarkan ketentuan bahwa diat satu buah gigi adalah lima ekor unta. Dengan demikian apabila gigi yang rontok adalah tiga puluh dua buah, diatnya adalah 5 ekor x 32, dan hasilnya adalah 160 ekor unta. Di kalangan mazhab syafi’i dalam kasus ini berkembang dua pendapat. Pendapat pertama yaitu pendapat yang rajih sama dengan pendapat jumhur. Sedangkan menurut pendapat yang kedua, dalam kasus ini berlaku satu diat yang sempurna, yaitu seratus ekor unta, karena gigi merupakan satu jenis anggota badan, seperti halnya jari. Oleh karena gigi secara keseluruhan merupakan satu paket maka diatnya tidakboleh lebih dari seratus ekor unta.

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

KONSEP HUKUM PIDANA ISLAM: HUKUMAN QISHOSH UNTUK IBANAH (PERUSAKAN) ATHROF DAN SEJENISNYA

Hukuman untuk tindak pidana atas selain jiwa dapat di bagi kepada tiga bagian;
1. Hukuman untuk tindak pidana atas selain jiwa dengan sengaja
2. Hukuman untuk tindak pidana atas selain jiwa yang menyerupai sengaja
3. Hukuman untuk tindak pidana atas selain jiwa karena kesalahan

Tindak pidana menyerupai sengaja (syibhil ‘amd) dalam tindak pidana atas selain jiwa dikemukakan oleh Syafi’iyah dan HaNabilah. Sedangkan Imam Malik dan Imam Abu Hanifah tidak membedakan antara sengaja dan menyerupai sengajadalam kasus ini. Imam Abu Hanifah hanya mengakui perbuatan menyerupai sengaja dalam kasus tindak pidana atas jiwa, sedang Imam Malik bahkan sama sekali tidak mengakuinya, apalagi dalam tindak pidana atas selain jiwa.

Pengelompokan hukuman untuk sengaja, menyerupai sengaja, dan kesalahan dalam tindak pidana atas selain jiwa, sebenarnya tidak begitu penting, karena dalam tindak pidana atas selain jiwa realisasi dan penerapan hukuman didasarkan atas berat ringannya akibat yang menimpa sasaran atau objek tindak pidana, bukan kepada niat pelaku. Sebagaimana telah dikemukakan di atas, di tinjau dari segi objek atau sasarannya, tindak pidana atas selain jiwa dibagi kepada lima bagian, yaitu perusakan anggota badan atau sejenisnya, menghilangkan manfaatnya, syajjaj, jirah, dan tindakan yang tidak termasuk ke dalam keempat jenis tersebut. Hukuman untuk tindak pidana atas selain jiwa tergantung kepada akibat yang timbul atas kelima jenis tindak pidana tersebut, baik perbuatan dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja (kekeliruan).

Perbedaan yang mencolok dalam tindak pidana sengaja, menyerupai sengaja dan kesalahan untuk kasus tindak pidana atas selain jiwa ini adalah dalam hukuman pokok. Dalam tindak pidana atas selain jiwa dengan sengaja, sepanjang kondisinya memungkinkan, hukuman pokoknya adalah qishosh. Sedangkan untuk menyerupai sengaja dan kekeliruan, hukuman pokoknya adalah diat atau irsy. Akan tetapi, diat dan irsy juga diberlakukan untuk tindak pidana sengaja sebagai hukuman pengganti. Oleh karena itu dalam membicarakan hukuman diat atau irsy, tidak ada perbedaan antara sengaja, menyerupai sengaja dan kekeliruan.

Dibawah ini akan diuraikan secara rinci hukuman untuk tindak pidana atas selain jiwa, yang dikaitkan dengan sasaran atau objeknya.

HUKUMAN UNTUK IBANAH (PERUSAKAN) ATHROF DAN SEJENISNYA
Athrof menurut para fuqoha adalah tangan dan kaki. Pengertian tersebut kemudian diperluas kepada anggota badan yang lain sejenis athrof, yaitu jari, kuku, bulu mata, gigi, rambut, jenggot, alis, kumis, hidung, lidah, zakar, biji pelir, telinga, bibir, mata, dan bibir kemaluan perempuan. Sedangkan tindakan perusakan athrof (anggota badan) dan sejenisnya, meliputi tindakan pemotongan, seperti pada tangan dan kaki, pencongkelan seperti pada mata, dan pencabutan seperti pada gigi, serta tindakan lain yang sesuai dengan jenis anggota badannya.

Hukuman pokok untuk perusakan athrof dengan sengaja adalah qishosh, sedangkan hukuman penggantinya adalah diat atau ta’zir. Adapun hukuman pokok untuk perusakan athrof yang menyerupai sengaja dan kekeliruan adalah diat, sedangkan hukuman penggantinya adalah ta’zir.

HUKUMAN QISHOSH
Diatas telah dikemukakan bahwa hukuman qishosh merupakan hukuman pokok untuk tindak pidana atas selain jiwa dengan sengaja, sedangkan diat dan ta’zir merupakan hukuman pengganti yang menempati tempat qishosh. Sehubungan dengan hal tersebut, pada prinsipnya hukuman pokok (qishosh) dan hukuman pengganti (diat dan ta’zir) tidak dapat dijatuhkan bersama-sama dalam satu jenis tindak pidana, karena penggabungan hukuman tersebut dapat menafikan karakter penggantian. Konsekuensi lebih lanjut dari karakter penggantian ini adalah bahwa hukuman pengganti tidak dapat dilaksanakan kecuali apabila hukuman pokok tidak bisa dilaksanakan.

Akan tetapi didalam penerapannya dalam kondisi-kondisi tertentu, mengenai penggabungan antara hukuman qishosh dan diat, terdapat dua pandangan di kalangan ulama. Menurut Imam Syafi’i dan sebagian ulama HaNabilah, hukuman qishosh tidak dapat digabungkan dengan diat apabila qishosh tidak mungkin dilaksanakan kecuali pada sebagian pelukaan. Dalam kondisi semacam ini, pada bagian yang mungkin dilaksanakan qishosh, pelaku bisa di- qishosh, sedangkan pada bagian yang tidak mungkin dilaksanakan hukuman qishosh, diganti dengan hukuman diat. Dengan demikian dalam kasus semacam ini, hukuman qishosh dan hukuman diat dijatuhkan bersama-samadalam satu jenis pelukaan. Menurut pendapat Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan sebagian fuqoha HaNabilah, hukuman pokok (qishosh) tidak mungkin dijatuhkan bersama-sama dengan hukuman pengganti (diat) dalam satu jenis pelukaan. Dengan demikian apabila si pelaku sudah di-qishosh untuk sebagian pelukaan, tidak ada hukuman diat atau sisanya (sebagian pelukaan lainnya). Oleh karena itu dalam kasus semacam ini, korban diwajibkan untuk memilih antara qishosh tanpa diat atau langsung mengambil diat saja.

Hukuman pokok yaitu qishosh tidak dapat dilaksanakan atau gugur karena beberapa sebab. Sebab-sebab ini ada yang bersifat umum dan ada pula yang bersifat khusus, yaitu berkaitan dengan tindak pidana atas selain jiwa.

I. Sebab-Sebab Terhalangnya Qishosh Yang Bersifat Umum
Adapun yang dimaksud dengan sebab umum ini adalah sebab – sebab terhalangnya qishosh, yang berlaku baik untuk tindak pidana atas jiwa maupun untuk tindak pidana atas selain jiwa. Sebab-sebab yang umum ini sudah dijelaskan ketika membahas syarat-syarat pelaksanaan hukuman qishosh dalam tindak pidana atas jiwa. Sebab – sebab tersebut adalah sebagai berikut.

A. Korban merupakan bagian dari pelaku
Apabila korban yang dilukai merupakan bagian dari pelaku, hukuman qishosh tidak dapat dilaksanakan. Yang dimaksud dengan bagian disini adalah bahwa orang yang menjadi korban tindak pidana itu adalah anaknya atau cucunya. Dengan demikian apabila seorang ayah atau ibu melukai anaknya, ia tidak dikenai hukuman qishosh. Hal ini didasarkan kepada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Turmudzi, Ibnu Majah dan Bayhaqi dari Umar bin Khoththob, bahwa ia mendengar Rosulullohsaw bersabda;
“tidaklah di- qishosh orang tua karena membunuh anaknya.”

Sebaliknya, apabila anak melukai orang tuanya, ia tetap dikenakan hukuman qishosh, berdasarkan nas (dalil) yang umum. Masalah ini secara panjang lebar telah dijelaskan dalam pembahasan mengenai pembunuhan sengaja.

B. Tidak ada keseimbangan antara korban dengan pelaku
Apabila korban tidak seimbang dengan pelaku, pelaku tidak dikenakan hukuman qishosh. Ukuran keseimbangan ini dilihat dari sisi korban, bukan dari pelaku.

Dasar keseimbangan menurut Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad adalah merdeka dan Islam, sedangkan menurut Imam Abu Hanifah adalah merdeka dan jenis kelamin. Di bawah ini akan dijelaskan ketiga macam dasar keseimbangan tersebut dalam kaitannya dengan tindak pidana atas selain jiwa.

1. Merdeka
Ulama mazhab yang empat sepakat bahwa merdeka merupakan salah satu dasar keseimbangan, yang menjadi syarat pelaksanaan qishosh dalam tindak pidana atas selain jiwa. Dengan demikian, apabila seseorang yang merdeka melukai hamba sahaya maka ia tidak di- qishosh, karena korban (hamba) tidak seimbang dengan orang merdeka (pelaku).

Dalam tindak pidana atas selain jiwa, Imam Abu Hanifah berbeda pendapatnya dengan apa yang telah dikemukakan dalam kaitan dengan tindak pidana atas jiwa. Dalam tindak pidana atasa jiwa, seperti telah diuraikan terdahulu, Imam Abu Hanifah tidak memasukkan merdeka dalam keseimbangan. Dengan demikian apabila seorang merdeka membunuh seorang hamba sahaya maka ia tetap dikenakan hukuman qishosh.

2. Islam
Seperti halnya dalam tindak pidana atas jiwa, dalam tindak pidana atas selain jiwa ini para ulama berbeda pendapat dalam hal masuknya Islam sebagai dasar keseimbangan. Menurut jumhur ulama orang kafir tidak seimbang dengan orang muslim. Dengan demikian apabila seorang muslim membunuh atau melukai seorang kafir dzimmi maka ia tidak di- qishosh. Akan tetapi menurut Imam Abu Hanifah kafir simbang dengan muslim, oleh karena itu apabila muslim membunuh atau melukai kafir dzimmi, ia tetap dikenai hukuman qishosh. Masalah ini sudah diuraikan dengan jelas dalam pembahasan tindak pidana atas jiwa, sehingga tidak perlu diperpanjang lagi di sini.

3. Jenis kelamin
Sebenarnya para ulama telah sepakat bahwa jenis kelamin tidak termasuk salah satu dasar keseimbangan dalam tindak pidana atas jiwa. Akan tetapi dalam tindak pidana atas selain jiwa, Imam Abu Hanifah memasukkan jenis kelamin sebagai salah satu dasar keseimbangan. Dengan demikian apabila seorang laki-laki melukai seorang perempuan atau sebaliknya maka ia tidak dikenai qishosh. Alasan yang dikemukakan oleh Imam Abu Hanifah adalah adanya suatu ketentuan, bahwa selain jiwa atau apa yang kurang dari jiwa, kedudukanya sama dengan harta benda. Atas dasar itu maka dalam hal selain jiwa, kedudukannya sama dengan harta benda. Atas dasar itu maka dalam hal selain jiwa, perempuan tidak seimbang dengan laki-laki, dan diat anggota badannya tidak sama dengan diat anggota badan laki-laki. Oleh karena anggota badan laki-laki dan perempuan tidak sama, dengan sendirinya hukuman qishosh tidak dapat dilaksanakan, baik pelakunya laki-laki maupun pelakunya perempuan.

Selain keseimbangan dalam ketiga hal tersebut di atas, Imam Abu Hanifah juga mensyaratkan keseimbangan dalam bilangan (jumlah) antara korban dan pelaku, tetapi jumhur ulama tidak mensyaratkan hal ini.

C. Perbuatan yang dilakukan merupakan perbuatan yang menyerupai sengaja (syibhul ‘amd)
Seperti telah dikemukakan di muka, menurut Imam Syafi’i dan Imam Ahmad tindak pidana atas selain jiwa dapat terjadi dengan sengaja dan dapat pula menyerupai sengaja (syibhul ‘amd). Apabila perbuatan terjadi dengan sengaja maka jelas berlaku hukuman qishosh. Akan tetapi, apabila perbuatannya menyerupai sengaja, hukuman qishosh tidak dapat dilaksanakan.

Akan tetapi menurut Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, tidak ada perbuatan menyerupai sengaja (syibhul ‘amd) dalam tindak pidana atas selain jiwa, yang ada hanya sengaja dan kesalahan. Dengan demikian menurut Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, dalam tindak pidana atas selain jiwa dalam keadaan bagaimanapun tetap berlaku hukuman qishosh, selama perbuatannya dilakukan dengan sengaja dan kondisinya memungkinkan.

D. Tindakan pidana terjadi di Darul Harb
Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa apabila tindak pidana atas selain jiwa terjadi di Darul Harb, pelaku tidak dapat dikenai hukuman qishosh. Akan tetapi jumhur ulama berpendapat dimanapun terjadinya tindak pidana tersebut, pelaku tetap harus dikenakan hukuman qishosh.

E. Perbuatan dilakukan secara tidak langsung
Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa apabila tindak pidana atas selain jiwa dilakukan secara tidak langsung (dengan tasabbub), hukuman qishosh tidak dapat dilaksanakan. Akan tetapi, jumhur ulama berpendapat bahwa pelaku tetap harus dikenakan hukuman qishosh, walaupun perbuatan dilakukan secara tidak langsung.

F. Qishosh tidak mungkin dilaksanakan
Apabila pelaksanaan qishosh itu tidak memungkinkan, misalnya karena objek qishosh tidak seimbang, hukuman qishosh tidak dilaksanakan. Misalnya korban sendi ibu jarinya yang sebelah atas sudah tidak ada, kemudian datang pelaku memotong sendi kedua (sebelah bawah) dari ibu jari tersebut. Dalam hal ini qishosh tidak mungkin dilaksanakan, apabila ibu jari pelaku sempurna (tidak cacat). Hal ini karena apabila qishosh dilaksanakan, berarti ada dua sendi yang dipotong, padahal pelaku hanya memotong satu sendi karena sendi pertama memang sudah tidak ada.

II. Sebab-Sebab Terhalangnya Qishosh yang Khusus
Sebab-sebab yang khusus bagi terhalangnya qishosh dalam tindak pidana atas selain jiwa ada tiga yaitu;
Karena qishosh tidak mungkin dilaksanakan secara tepat tanpa kelebihan
Karena tidak adanya keseimbangan dalam objek qishosh
Karena tidak adanya kesamaan, baik dalam kesehatan maupun kesempurnaan

A. qishosh tidak mungkin dilaksanakan secara tepat tanpa kelebihan
salah satu syarat untuk dapat dilaksanakannya hukuman qishosh adalah bahwa hukuman qishosh mungkin dilaksanakan tepat tanpa adanya kelebihan. Apabila hukuman qishosh dikhawatirkan melebihi tindak pidananya, qishosh tidak boleh dilaksanakan.

Dalam athrof (anggota badan), hukuman qishosh mungkin dilaksanakan dengan tepat tanpa kelebihan apabila pemotongannya pada persendian, atau pada anggota badan yang ada batas tertentu (ujungnya), seperti daun telinga. Apabila pemotongannya bukan pada persendian, seperti pemotongan tangan antara pergelangan dan siku maka para fuqoha berbeda pendapat. Menurut Imam Abu Hanifah dan sebagian fuqoha HaNabilah, dalam kasus tersebut tidak berlaku hukuman qishosh, karena sulit melaksanakan qishosh dengan tepat tanpa ada kelebihan. Sedangkan menurut Imam Syafi’i dan sebagian fuqoha HaNabilah, dalam kasus tersebut dapat dilaksanakan qishosh dari persendian pertama yang termasuk objek tindak pidana, yaitu pergelangan tangan dan sisanya dibayar dengan hukuman (ganti rugi). Menurut Imam Malik apabila memungkinkan, dalam kasus tersebut dapat dilaksanakan hukuman qishosh. Akan tetapi apabila tidak memungkinkan maka hukuman qishosh tidak dilaksanakan dan hukuman diganti dengan diat.

B. Tidak ada kesepadanan (mumatsalah) dalam objek qishosh
Salah satu syarat yang lain untuk dapat diterapkannya hukuman qishosh adalah adanya kesepadanan atau persamaan di dalam objek qishosh. Tangan misalnya, hanya dapat di- qishosh dengan tangan, dan kaki hanya dapat di qishosh dengan kaki. Demikian pula anggota badan yang lainnya. Apabila tidak ada kesepadanan atau persamaan anggota badan yang akan di qishosh dan anggota badan yang dirusak oleh tindak pidana, hukuman qishosh tidak dapat dilaksanakan. Tangan misalnya, tidak dapat di qishosh-kan untuk mengganti kaki yang dipotong.

Dari uraian tersebut, jelaslah bahwa dasar untuk menentukan kesepadanan (mumatsalah) pada anggota badan tersebut adalah jenis dan manfaatnya. Apabila anggota badan korban dan pelaku sama jenisnya maka antara keduanya terdapat kesepadanan dan dengan sendirinya dapat diterapkan hukuman qishosh. Tetapi apabila anggota badan korban dan pelaku tidak sama jenisnya, atau tidak sama manfaatnya (kegunaannya), antara keduanya tidak terdapat kesepadanan, dan dengan demikian hukuman qishosh tidak dapat dilaksanakan.

C. Tidak sama dalam kesehatan (kualitas) dan kesempurnaan
Syarat yang lain untuk dapat dilaksanakannya hukuman qishosh adalah kedua anggota badan yang akan di qishosh dan yang menjadi korban tindak pidana harus sama (seimbang) baik dalam kesehatan maupun kesempurnaannya. Apabila kedua anggota badan tersebut tidak sama kesehatan atau kesempurnaannya maka hukuman qishosh tidak dapat dilaksanakan. Sebagai contoh tangan yang sehat tidak dapat di- qishosh untuk mengganti tangan yang lumpuh, demikian pula kaki yang sehat tidak dapat di qishosh untuk mengganti kaki yang lumpuh. Hal ini karena korban mengambil sesuatu yang melebihi haknya. Akan tetapi menurut Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad kalau kebalikannya, yaitu tangan yang lumpuh dapat di qishosh untuk mengganti tangan yang sehat, karena dalam kasus ini korban mengambil sesuatu yang kurang dari haknya. Sedangkan menurut Imam Malik dalam kedua kasus tersebut tetap tidak dilaksanakan hukuman qishosh, karena tidak adanya persamaan kesehatan anggota badan yang bersangkutan.

Sesuai dengan syarat kesamaan dalam kesempurnaan di atas, anggota badan yang sempurna (utuh) tidak dapat di qishosh untuk mengganti anggota badan yang tidak sempurna. Sebagai contoh, tangan atau kaki yang lengkap jarinya tidak dapat di- qishosh untuk mengganti tangan atau kaki yang jarinya kurang atau tidak lengkap, karena dalam hal ini berarti korban mengambil sesuatu yang melebihi haknya. Akan tetapi kalau sebaliknya, tangan atau kaki yang tidak lengkap jarinya dapat di qishosh untuk mengganti tangan atau kaki yang lengkap jarinya karena dalam hal ini berarti korban mengambil sesuatu yang kurang dari haknya. Untuk mengganti kekuarangan tersebut, Imam Syafi’i dan sebagian ulama HaNabilah berpendapat perlu ada ganti rugi (irsy), sedangkan menurut Imam Abu Hanifah dan sebagian fuqoha HaNabilah tidak perlu ada ganti rugi (irsy), karena qishosh sudah dilaksanakan. Menurut Imam Malik , dalam kasus yang terakhir, apabila kurangnya jari tangan atau kaki itu hanya sebuah, hukuman qishosh dapat dilaksanakan tanpa adanya tambahan ganti rugi.

Dari uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa ketiga sebab penghalang qishosh yang telah dijelaskan di atas, dasar dan landasanya hanya satu, yaitu keseimbangan (tamatsul). Hal ini karena memang qishosh menurut tabiatnya selalu menghendaki adanya keseimbangan dalam semua aspek, baik aspek perbuatan, objek, maupun manfaatnya.

III. Penerapan Syarat-Syarat Qishosh Pada Athrof
Diatas telah dikemukakan bahwa anggota badan yang termasuk athrof adalah tangan, kaki, jari, kuku, mata, telinga, hidung, lidah, bibir, zakar, biji, pelir, bibir kemaluanperempuan, bulu mata, alis rambut, kumis jenggot dan gigi. Secara umum, perusakan pada athrof dapat diterapkan hukuman qishosh, sepanjang syarat-syarat yang telah disebutkan, baik yang umum maupun yang khusus dapat terpenuhi. Naun dalam rinciannya, ada anggota badan yang disepakati oleh para ulama yang diterapkan qishosh dan ada pula yang diperselisihkan. Pada umumnya anggota badan yang disepakati untuk diterapkan qishosh adalah anggota badan yang mempunyai persendian atau ada batas – batasnya.

Para ulama mazhab yang empat sepakat untuk menerapkan qishosh dalam pemotongan kaki, telinga bibir dan tangan, pencongkelan mata, dan perontokan gigi. Hal ini didasarkan pada firman Alloh dalam surat Al Maa’idah ayat 45;
“Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Tawrot) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishosh-nya..”
{Terjemahan Al_Qur’an Surat Al Maa’idah: 45}

Sedangkan pada anggota badan yang lainnya seperti rambut, jenggot, kumis, alis, lidah dan lain-lainnya, tidak ada kesepakatan di kalangan para fuqoha. Jumhur fuqoha berpendapat bahwa pada anggota badan tersebut dapat diterapkan hukuman qishosh, sepanjang syarat-syarat yang disebutkan dapat dipenuhi dan kondisinya memungkinkan. Alasannya adalah firman Alloh surat Al Maa’idah ayat 45:
“dan luka luka (pun) ada qishosh-nya…”
{Terjemahan Al_Qur’an Surat Al Maa’idah: 45}

Kata al juruwh (luka-luka) dalam ayat tersebut merupakan lafaz yang umum yang mencakup semua jenis pelukaan. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa pada anggota-anggota badan yang tidak bersendi atau tidak ada batas yang jelas, sulit untuk diterapkan qishosh dengan tepat, tanpa adanya kelebihan kecuali pemotongan secara keseluruhan. Dengan demikian menurut Imam Abu Hanifah, pada anggota – anggota badan tersebut tidak berlaku hukum qishosh, melainkan hukuman diat.

Dari uraian tersebut terlihat bahwa Imam Abu Hanifah dalam menerapkan qishosh untuk tindak pidana untuk tindak pidana selain jiwa sangat hati-hati, karena khawatir terjadi kelebihan. Sementara jumhur ulama yang terdiri dari Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa sepanjang masih ada celah-celah kemungkinan untuk dilaksanakannya qishosh, hukuman qishosh dapat dilaksanakan berdasarkan nas yang umum dalam surat Al Maa’idah ayat 45.

IV. Pelaksanaan Hukuman Qishosh
Dalam pembahasan mengenai pelaksanaan (eksekusi) qishosh dalam tindak pidana atas selain jiwa ini, siapa yang melaksanakannya, bagaimana cara melaksanakannya, dan alat apa yang digunakannya. Dibawah ini akan diuraikan secara rinci masing-masing topik tersebut.

A. Mustahik qishosh
Orang yang berhak terhadap qishosh untuk tindak pidana atas selain jiwa adalah korban itu sendiri, bukan oran lain. Dia pulalah yang berhak melaksanakan qishosh itu apabial ia telah balig dan berakal. Apabila korban itu belum balig atau tidak berakal, menurut Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan sebagian fuqoha HaNabilah, yang berhak melaksanakan qishosh adalah wali atau washinya. Akan tetapi menurut mazhab Syafi’i dan sebagian besar fuqoha HaNabilah, wali dan washi tidak berhak untuk melaksanakan qishosh atas nama anaknya atau orang yang di bawah perwaliannya yang masih dibawah umur atau gila. Alasannya adalah karena qishosh itu tujuannya antara lain untuk mengobati jiwa orang yang menjadi korban, supaya ia merasa puas, dan hal itu tidak terpenuhi apabila qishosh itu dilaksanakan oleh orang lain, yaitu wali atau washi. Oleh karena itu pelaksanaan qishosh tersebutditunda sampai korban tersebut dewasa atau sembuh dari gilanya.

B. Eksekusi qishosh
Meskipun orang yang berhak terhadap qishosh dalam tindak pidana atas selain jiwa adalah korban itu sendiri, namun pelaksanaannya harus dilakukan dihadapan penguasa atau dibawah pengawasannya. Hal ini karena pelaksanaan qishosh dalam tindak pidana atas selain jiwa memerlukan ketelitian, kehati-hatian, bahkan suatu keahlian.

Menurut mazhab Hanafi dan salah satu pendapat di dalam mazhab Hanbali korban dibolehkan untuk melaksanakan suatu hukuman qishosh untuk dirinya sendiri apabila ia mampu melaksanakannya dengan baik sesuai dengan persyaratan yang telah dikemukakan di atas. Apabila ia tidak mampu melaksanakannya dengan baik, ia boleh mewakilkan kepada orang lain yang mampu. Dalam kaitan dengan hal ini, ulama HaNabilah yang mengambil pendapat ini, membolehkan ditunjuknya seorang yang ahli melaksanakan qishosh oleh kholifah yang di gaji dari baitul mal. Dengan demikian apabila sewaktu-waktu diperlukan, petugas yang ahli untuk mengeksekusi qishosh sudah tersedia.

Menurut Imam Malik, Imam Syafi’i dan salah satu pendapat di kalanngan ulama HaNabilah, dalam tindak pidana atas selain jiwa tidak boleh melaksanakan sendiri hukuman qishosh tersebut, baik ia mampu maupun tidak. Alasannya adalah walaupun dieksekusi oleh korban sendiri dapat mengobati kepedihan jiwanya, namun pelaksanaan yang tepat tanpa terjadinya kelebihan sulit untuk di jamin, apalagi kalau disertai emosi yang tinggi. Oleh karena itu menurut mereka pelaksanaan qishosh dalam tindak pidana atas selain jiwa harus dilakukan oleh petugas yang ahli.

Adapun alat yang digunakan untuk melaksanakan qishosh dalam tindak pidana atas selain jiwa berbeda dengan alat yang digunakan untuk melaksanakan qishosh dalam tindak pidana atas jiwa. Apabila dalam tindak pidan atas jiwa (pembunuhan) alat yang digunakan untuk melaksanakan hukuman qishosh adalah pedang, seperti yang telah diuraikan terdahulu maka dalam tindak pidana atas selain jiwa pedang tidak boleh digunakan, karena dikhawatirkan akan menimbulkan kelebihan. Dengan demikian maka alat yang digunakan untuk eksekusi qishosh adalah alat yang sesuai dengan jenis anggota badan yang akan di- qishosh dan yang dapat menjamin tidak terjadi kelebihan dalam qishosh tersebut. Untuk memotong telinga atau jari dapat digunakan pisau atau senjata tajam lain yang sesuai.

Eksekusi qishosh harus dilakukan dengan cara yang paling mudah dan ringan, sehingga seolah-olah terhukum tidak merasa sakit dan tersiksa. Hal ini karena hukuman qishosh bukan merupakan tindakan balas dendam dan penyiksaan. Dasar hukum tentang cara qishosh ini adalah hadis Nabi saw; dari Abu Ya’la bin Syaddad bin Aws r.a dari Rosulullohs.a.w beliau bersabda;
“sesungguhnya Alloh telah memerintahkan ihsan (berbuat baik) dalam segala sesuatu. Apabila kamu membunuh (meng- qishosh) maka laksanakanlah qishosh itu dengan cara yang baik, dan apabila kamu menyembelih (binatang) maka laksanakan penyembelihan itu dengan baik. Dan hendaklah kamu menajamkan pisaunya dan menggembirakan binatang sembelihannya.”
{Hadis Riwayat Muslim}

Dalam rangka melaksanakan ihsan, sesuai dengan hadis tersebut diatas hukuman qishosh tidak boleh dilaksanakan dalam situasi panas yang sangat tinggi (panas terik), atau juga dalam kondisi cuaca yang sangat dingin, karena kondisi yang demikian itu mungkin dapat menimbulkan akibat atau pengaruh yang negatif dan merugikanterhadap kondisi fisik terhukum. Demikian pula qishosh tidak boleh dilaksanakan apabila pelaku terhukum sedang sakit, atau sedang hamil. Dalam kedua kasus ini, hukuman qishosh dilaksanakan apabila terhukum sudah sembuh dari sakitnya atau sudah melahirkan.

V. Gugurnya Hukuman Qishosh
Disamping terhalang oleh beberapa sebab yang telah dikemukakan di atas, hukuman qishosh juga dapat gugur oleh beberapa sebab. Sebab sebab tersebut adalah sebagai berikut;
Tidak adanya tempat (objek) qishosh
Pengampunan
Perdamaian (shulh)

A. Tidak adanya tempat (objek) qishosh
Objek (tempat) qishosh dalam tindak pidana atas selain jiwa adalah anggota badan yang sama dengan objek tindak pidana. Apabila anggota badan yang menjadi objek qishosh itu hilang atau rusak karena sesuatu sebab, seperti sakit, kecelakaan, atau karena hukuman yang pernah diterimanya di masa lalu, hukuman qishosh dapat gugur, karena anggota badan yang akan di qishosh tidak ada.

Apabila qishosh itu gugur, karena anggota badan yang akan di- qishosh tidak ada, konsekuensi lebih lanjut diperselisihkan oleh para fuqoha. Menurut Imam Malik, korban tidak menerima apa-apa, terlepas dari sebab apapun yang menggugurkan hukuman qishosh tersebut. Alasannya, dalam jarimah qishosh, hak korban itu adalah qishosh nya itu sendiri. Apabila qishosh gugur, maka gugurlah hak korban.

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa dalam kasus semacam ini, harus dilihat dahulu sebab hilangnya anggota badan yang akan di- qishosh tersebut. Apabila sebab hilangnya anggota badan tersebut karena kecelakaan, penyakit, atau dianiaya. Maka pelaku bebas dari hukuman dan korban tidak menerima apa-apa. Akan tetapi apabila sebab hilangnyaanggota badan tersebut karena eksekusi hukuman, hukuman qishosh tersebut harus diganti dengan hukuman diat. Menurut mazhab Syafi’i dan mazhab Hanbali, dalam kasus semacam ini korban berhak menerima diat sebagai pengganti hukuman qishosh yang gugur, tanpa melihat sebab hilangnya anggota badan yang menjadi objek qishosh.

B. Pengampunan
Menurut mezhab Syafi’i dan mazhab Hanbali, pengampunan dari qishosh mempunyai pengertan ganda, yaitu pengampunan dari qishosh saja, atau pengampunan dari qishosh dan diganti dengan diat. Kedua pengertian tersebut merupakan pembebasan hukuman dari pihak korban tanpa menunggu persetujuan dari pihak pelaku. Sedangkan menurut Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, pengampunan itu hanyalah pembebasan dari hukuman qishosh saja. Adapun pengalihan kepada diat menurut mereka bukan merupakan pengampunan melainkan termasuk perdamaian (shulh). Hal ini karena penggantian dengan hukuman diat itu tergantung kepada persetujuan pelaku. Perbedaan pendapat mengenai hal ini sudah sudah diuraikan dengan jelas dalam pembahasan mengenai tindak pidana atas jiwa, sehingga tidak perlu diperpanjang lagi.

Adapun yang berhak memberikan pengampunan itu adalah korban itu sendiri apabila ia telah balig dan berakal. Apabila ia belum balig atau akalnya tidak sehat, menurut mazhab Syafi’i dan mazhab Hanbali, hak itu dimiliki oleh walinya. Sedangkan menurut Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, wali dan washi (pemegang wasiat) tidak memiliki hak maaf, melainkan hanya hak untuk mengadakan perdamaian (shulh) saja.

C. Perdamaian (shulh)
Baik korban atau walinya maupun washinya diperbolehkan untuk mengadakan perdamaian dalam hal penggantian hukuman qishosh dengan imbalan pengganti yang sama dengan diat atau lebih besar dari diat. Akan tetapi, walaupun wali atau washinya berhak melakukan perdamaian, namun dalam pelaksanaannya mereka tidak boleh mengadakan negosiasi dengan imbalan penggantian yang lebih kecil dari pada diat, karena hal itu dapat merugikan korban. Apabila hal itu dilakukan juga, perdamaian tersebut tetap sah, dan hukuman qishosh dapat gugur, tetapi korban masih memiliki hak untuk meminta tambahan atas kekurangan diat tersebut. Masalah perdamaian ini telah diuraikan dengan panjang lebar dalam pembahasan tindak pidana atas jiwa sehingga di sini tidak perlu diperpanjang lagi.

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

TINDAK PIDANA ATAS SELAIN JIWA: PEMBAGIAN TINDAK PIDANA ATAS SELAIN JIWA

Ada dua klasifikasi dalam menentukan pembagian tindak pidana atas selain jiwa;
[1] DITINJAU DARI SEGI NIATNYA
[2] DITINJAU DARI SEGI OBJEK (SASARANNYA)
________________________________
—————————————————–
[1] DITINJAU DARI SEGI NIATNYA
Ditinjau dari segi niatnya pelaku, tindak pidana atas selain jiwa dapat dibagi kepada dua bagian;
1. Tindak Pidana Atas Selain Jiwa Dengan Sengaja
2. Tindak Pidana Atas Selain Jiwa Dengan Tidak Sengaja
Pengertian tindak pidana atas selain jiwa dengan sengaja, seperti dikemukakan oleh Abdul Qodir Awdah adalah;
“perbuatan sengaja adalah setiap perbuatan dimana pelaku sengaja melakukan perbuatan sengaja dengan maksud melawan hukum.”

Dari definisi tersebut dapat diambil suatu asumsi bahwa dalam tindak pidana atas selain jiwa dengan sengaja, pelaku sengaja melakukan perbuatan yang dilarang dengan maksud supaya perbuatanya itu mengenai dan menyakiti orang lain. Sebagai contoh orang yang sengaja melempar orang lain dengan batu, dengan maksud supaya batu itu mengenai badan atau kepalanya.

Pengertian tindak pidana atas selain jiwa dengan tidak sengaja atau karena kesalahan adalah;
“perbuatan karena kesalahan adalah suatu perbuatan dimana pelaku sengaja melakukan perbuatan, tetapi tidak ada maksud melawan hukum.”

Dari definisi tersebut dapat diambil suatu pengertian bahwa dalam tindak pidana atas selain jiwa dengan tidak sengaja, pelaku memang sengaja melakukan suatu perbuatan , tetapi perbuatan tersebut sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengenai atau menyakiti orang lain. Namun kenyataannya memang ada korban yang terkena oleh perbuatannya itu. Sebagai contoh, orang yang sengaja melempar batu dengan maksud untuk membuangnya, namun karena kurang hati-hati batu tersebut mengenai orang yang lewat dan melukainya.

Pembagian sengaja dan tidak sengaja(Al_Khotho’) dalam tindak pidana atas selain jiwa, masih diperselisihkan oleh para fuqoha. Seperti halnya dalam tindak pidana atas jiwa. Syafi’iyah dan hanabilah berpendapat bahwa dalam tindak pidana atas selain jiwa juga ada pembagian yang ke-tiga, yaitu syibhul ‘amd atau menyerupai sengaja. Contohnya, seperti orang yang menempeleng muka orang lain dengan tempelengan yang ringan, tetapi terjadi pelukaan dan pendarahan. Contoh kasus semacam ini menurut mereka tidak termasuk sengaja, melainkan menyerupai sengaja, karena alat yang digunakan yaitu tempelengan ringan, pada galibnya tidak akan menimbulkan pelukaaan atau pendarahan. Namun dalam segi hukumnya mereka menyamakannya dengan tidak sengaja.

Walaupun perbuatan sengaja berbeda dengan kekeliruan, baik dalam substansi perbuatanya maupun dalam hukumnya, namun dalam kebanyakan hukum dan ketentuannya, keduanya kadang-kadang sama. Oleh karena itu, dalam pembahasannya, para fuqoha menggabungkannya sekaligus. Hal ini karena dalam tindak pidana atas selain jiwa, yang dilihat adalah objek atau sasarannya, serta akibat yang di timbulkan oleh perbuatan tersebut.

[2] DITINJAU DARI SEGI OBJEK/SASARANNYA
Ditinjau dari segi objek atau sasarannya, tindak pidana atas selain jiwa, baik sengaja maupun tidak sengaja dapat dibagi menjadi lima bagian
1. Penganiayaan Atas Anggota Badan Atau Semacamnya
Adapun yang dimaksud dengan jenis yang pertama ini adalah tindakan perusakan terhadap anggota badan dan anggota lain yang di setarakan dengan anggota badan, baik berupa pemotongan maupun pelukaaan. Dalam kelompok ini termasuk pemotongan tangan, kaki, jari, kuku, hidung, zakar, biji pelir, telinga, bibir, pencongkelan mata, merontokkan gigi, pemotongan rambut, alis, bulu mata, jenggot, kumis, bibir kemaluan perempuan, dan lidah.
2. Menghilangkan Manfaat Anggota Badan Sedangkan Jenisnya Masih Tetap Utuh
Maksud dari jenis yang ke dua ini adalah tindakan yang merusak manfaat dari anggota badan, sedangkan jenis anggota badannya masih utuh. Dengan demikian apabila anggota badannya hilang atau rusak, sehingga manfaatnya juga ikut hilang maka perbuatannya merupakan termasuk kelompok pertama, yaitu perusakan anggota badan. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah menghilangkan daya pendengaran, penglihatan, penciuman, perasaan lidah, kemampuan berbicara, bersetubuh, dll.
3. Asy-Syajjaj
Yang dimaksud dengan asy Syajjaj adalah pelukaan khusus pada bagian muka dan kepala. Sedangkan pelukaan atas badan selain muka dan kepala termasuk kelompok keempat yaitu Jiroh.
Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa Syajjaj adalah pelukaan pada bagian muka dan kepala, tetapi khusus di bagian-bagian tulang saja, seperti dahi. Sedangkan pipi yang banyak dagingnya tidak termasuk Syajjaj, tetapi ulama yang lain berpendapat bahwa Syajjaj adalah pelukaan pada bagian muka dan kepala secara mutlak. Adapun organ-organ tubuh yang termasuk kelompokanggota badan, meskipun ada pada bagian muka, seperti mata, telinga dan lain-lain tidak termasuk Syajjaj.
Menurut Imam Abu Hanifah, Syajjaj itu ada sebelas macam;
3.1. Al-Khorishoh, yaitu pelukaan atas kulit, tetapi tidak sampai mengeluarkan darah.
3.2. Ad-Dami’ah, yaitu pelukaan yang mengakibatkan perdarahan, tetapi darahnya tidak sampai mengalir, melainkan seperti air mata.
3.3. Ad-Damiyah, yaitu pelukaan yang mengakibatkan megalirkan darah.
3.4. Al Badhi’ah, yaitu pelukaan yang sampai memotong daging.
3.5. Al- Mutalahimah, yaitu pelukaan yang memotong daging lebih dalam dari pada Al-Badhi’ah.
3.6. As Simhaq, yaitu pelukaan yang memotong daging lebih dalam lagi, sehingga kulit halus (selaput) antara daging dan tulang kelihatan. Selaputnya itusendiri disebut simhaq.
3.7. Al-Mudhihah, yaitu pelukaan yang lebih dalam, sehingga memotong atau merobek selaput tersebut dan tulangnya kelihatan.
3.8. Al-Hasyimah, yaitu pelukaan yang lebih dalam lagi, sehingga memotong atau memecahkan tulang.
3.9. Al-Munqilah, yaitu pelukaan yang bukan hanya sekedar memotong tulang, tetapi sampai memindahkan posisi tulang dari tempat asalnya.
3.10. Al-Ammah, yaitu pelukaan yang lebih dalam lagi sehingga sampai kepada ummud dimagh, yaitu selaput antara tulang dan otak.
3.11. Ad-Damighoh, yaitu pelukaan yang merobek selaput antara tulang dan otak sehingga otaknya kelihatan.
Menurut Abdurrohman Al Jaziri, sebenarnya jenis Syajjaj yang disepakati oleh para fuqoha adalah sepuluh macam, yaitu tanpa memasukkan jenis yang ke sebelas, yaitu ad-Damighoh. Hal ini karena ad-Damighoh itu pelukaan yang merobek selaput otak, sehingga karenanya otak akan berhamburan, dan kemungkinan mengakibatkan kematian.
4. Al-Jiroh
Al-Jiroh adalah pelukaan pada anggota badan selain wajah, kepala, dan athrof. Anggota badan yang pelukaannya termasuk Jiroh ini meliputi leher, dada, perut, sampai batas pinggul.
Al-Jiroh ada dua macam;
4.1. Jayfah, yaitu pelukaan yang sampai bagian dalam dari dada dan perut, baik pelukaannya dari depan belakang maupun samping.
4.2. Ghoyr Jayfah, yaitu pelukaan yang tidak sampai bagian dalam dari dada atau perut, melainkan hanya pada bagian luarnya saja.
5. Tindakan Selain Yang Telah Disebutkan Di Atas
Adapun yangtermasuk ke dalam kelompok ini adalah setiap tindakan pelanggaran atau menyakiti yang tidak sampai merusak athrof atau menghilangkan manfaatnya dan tidak pula menimbulkan luka Syajjaj atau Jiroh. Sebagai contoh dapat dikemukakan, seperti pemukulan pada bagian tangan, kaki, atau badan, tetapi tidak sampai menimbulkan atau mengakibatkan luka, melainkan hanya memar, muka merah atau terasa sakit.

Hanafiyah sebenarnya hanya membagi tindak pidana atas selain jiwa ini kepada empat bagian, tanpa memasukkan bagian yang ke lima karena bagian yang kelima ini adalah suatu tindakan yang tidak mengakibatkan luka pada athrof (anggota badan), tidak menimbulkan luka Syajjaj juga tidak menghilangkan manfaatnya, dan tidak pula luka pada Jiroh. Dengan demikian akibat perbuatan tersebut sangat ringan, sehingga oleh karenanya mungkin lebih tepat untuk dimasukkan pada ta’zir

Posted in Uncategorized | Leave a comment